Lagi-lagi tentang SKRIPSI

Tuhan memang tidak pernah memberikan ujian yang lebih berat daripada kemampuan umat-Nya, tetapi terkadang beberapa dosen pembimbing memberikan ujian yang jauh lebih berat daripada kemampuan mahasiswanya.

Mungkin banyak dari mahasiswa yang membenarkan pernyataan di atas. Tetapi, apakah kenyataannya benar demikian?!

Sebelum saya membahas permasalahan di atas, silakan jawab dahulu beberapa soal berikut:

———

SOAL #1.1

Dengan menggunakan sebuah pensil, buatlah empat garis lurus yang saling berhubungan TANPA TERPUTUS (tanpa mengangkat pensil sama sekali) dan melintasi kesembilan titik yang ada!

SOAL #1.2

Bagaimana cara membelah kue berikut menjadi 8 potongan yang sama besar, hanya dengan melakukan 3 kali potongan menggunakan sebuah pisau?

SOAL #2

Temukan kesalahan dalam kalimat berikut:

Didalam kalimat ini terdapat tiga kekesalahan.

SOAL #3

Temukan darimana lubang berikut dapat muncul:

———

Sebenarnya, dosen pembimbing tidak pernah memberikan ujian yang jauh lebih berat daripada apa yang seharusnya diuji. Yang jadi permasalahan adalah kualitas riset di negara kita yang masih begitu rendah. Sangat memprihatinkan memang. Dan salah satu pihak yang bertanggung jawab atas hal ini tentunya adalah para dosen pembimbing skripsi/tugas akhir. Oleh karena itu, saat ini mereka sedang gencar menggenjot mahasiswanya untuk membuat sebuah riset yang berkualitas.

Berikut ini saya lampirkan surat edaran Dikti yang memuat ketentuan bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memuat karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Ketentuan ini berlaku bagi lulusan setelah Agustus 2012.

Syarat Lulus S-1, S-2, S-3: Harus Publikasi Makalah

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.

Disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia. Apa saja bunyi ketentuan itu?

[1] Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.

[2] Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti.

[3] Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

Ketentuan ini berlaku mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kompas.com menghubungi Dirjen Dikti Djoko Santoso dan berjanji akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai ketentuan ini pada hari ini, Jumat (3/2/2012).

Beberapa waktu lalu terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah. Tak hanya karya ilmiah para mahasiswa, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri juga mengakui minimnya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.

“Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis,” kata Eky kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

———

Menurut saya, ketentuan baru ini cukup berat memang, mengingat kualitas riset kita yang masih di bawah rata-rata. Saya sudah cukup lama berkecimpung di dunia riset, terutama riset yang berhubungan dengan marketing dan manajemen. Saya juga seringkali menjadi konsultan skripsi, tugas akhir, thesis, dan lain sebagainya. Selama menjadi konsultan, hati kecil saya seringkali berteriak:

[1] Koq (topik/metodologi) risetnya gini lagi gini lagi sich?! **bosen dan uda ketebak hasilnya bakal kaya gimana**

[2] Ini hal-hal ga penting (format penulisan, margin, font, kerapihan tulisan, dsb.) koq selalu jadi bahan perdebatan sich?! **justru hal-hal yang penting ngga dibahas**

[3] **Masalah adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan TEORI yang seharusnya dan berdampak negatif** Mana teorinya?! Sumbernya dari mana?! Terpercaya ga?! Bisa dipertanggung-jawabkan ga?! JANGAN NGARANG!!!

Dan kesimpulannya: Kalo risetnya gitu-gitu terus, gimana bisa masuk jurnal ilmiah?! Ga dibantai paz sidang aja uda untung banget kayanya.

Memang benar sich ada beberapa dosen yang membolehkan mahasiswanya membuat riset dengan kualitas jauh di bawah standar, dan memang benar bahwa riset dengan kualitas seperti itu juga bisa lulus dengan baik, bahkan tidak jarang juga yang mendapatkan nilai akhir A. Tetapi, apakah mereka merasa puas dengan pencapaian seperti itu?! Apakah mereka merasa bangga dengan hasil skripsi mereka sendiri?! Mungkin kalian yang membaca ini akan berkata: “Ah, kalo saya sich yang penting lulus aja dengan cepat.” ATAU “Itu kan mereka aja yang idealis, kalo saya sich yang penting bisa beres dan cepat dapet gelar uda cukup dech.”

Saya sudah banyak menemukan mahasiswa yang memiliki pemikiran seperti itu pada awalnya. Dan apa yang terjadi?! Ternyata mereka SEMUA menyesal dan merasa tidak puas dengan hasil pencapaiannya sendiri. Mereka berpikir, “Ah, seandainya dari dulu saya serius mengerjakan skripsi saya, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik daripada yang sekarang, secara saya juga sudah meluangkan tenaga dan waktu yang sangat besar.” Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Dan ternyata, penyesalan terbesar muncul bukan atas apa yang telah kita lakukan, tetapi atas apa yang tidak kita lakukan. Jadi, lakukanlah yang semustinya Anda lakukan agar tidak menyesal kemudian.

SELAMA INI, BANYAK MAHASISWA YANG BERPIKIR BAHWA UNTUK MEMBUAT RISET YANG BERKUALITAS, PASTILAH MEMBUTUHKAN WAKTU YANG LAMA, DAN TERNYATA ANGGAPAN TERSEBUT SALAH BESAR.

Berdasarkan pengalaman saya, untuk level skripsi, dari awal penentuan topik sampai dengan selesai, idealnya hanyalah dibutuhkan waktu 3 bulan saja. Sudah banyak mahasiswa (khususnya mahasiswa FE UNPAR) yang membuktikan hal tersebut. Dan hasilnya?! Sebagian besar dari mereka akhirnya mendapat pujian karena pencapaian yang baik.

Dan untuk mahasiswa yang membuat skripsi secara asal-asalan?! Ternyata banyak juga yang dari mereka sudah mengambil skripsi selama 2 semester atau lebih dan masih belum lulus juga karena masih harus revisi ini itu.

JIKA KALIAN INGIN TAHU BAGAIMANA CARA MENYUSUN SKRIPSI/PENELITIAN ILMIAH SECARA BENAR, IKUTI TERUS PEMBAHASAN YANG AKAN SAYA TULIS DI BLOG b0chun.com INI.

Adapun, sedikitnya ada 3 modal utama yang perlu kalian semua siapkan untuk memulai membuat sebuah riset yang baik. Ketiga hal tersebut adalah:

———

JAWABAN #1 : Think Out of The Box

Banyak orang yang tidak dapat menjawab soal ini karena mereka dibatasi oleh kotak pikirannya. Mereka hanya berpikir tentang cara-cara lama, tanpa mau mengembangkan cara-cara baru. Hal itulah yang membuat kreatifitas mereka mati.

Dalam penulisan skripsi pun demikian. Ternyata banyak mahasiswa yang terperangkap dalam topik/metodologi yang sudah ada sebelumnya, tanpa mau berusaha mengembangkannya. Mereka cenderung hanya mau mengikuti contoh skripsi yang sudah ada (di perpustakaan), dan tidak pernah mau belajar dari jurnal-jurnal ilmiah/text book keluaran terbaru. Hal itulah yang membuat kualitas riset kita sulit untuk ditingkatkan.

Berikut adalah cara ntuk membelah kue tersebut menjadi 8 potongan:

[1] belah kue tersebut secara horisontal (menjadi 2 potong kue sama besar)

[2] belah kue tersebut secara vertikal (menjadi 4 potong kue sama besar)

[3] belah kue tersebut di tengah-tengah antara bagian atas dan bawahnya (menjadi 8 potong kue sama besar)

.

JAWABAN #2: Adalah jauh lebih penting CONTENT daripada CONTEXT

Kesalahan kalimat tersebut adalah:

[1] “Didalam” seharusnya menjadi “Di dalam”

[2] “kekesalahan” seharusnya menjadi “kesalahan”

Namun, ternyata banyak orang yang tidak dapat menemukan kesalahan ketiga. Mereka hanya fokus melihat context-nya saja, tanpa memperhatikan content-nya. Dalam penulisan skripsi pun banyak yang demikian. Kecenderungan mahasiswa adalah menjadi idealis untuk hal format penulisan, tanda baca, margin, font, EYD, tebal kertas, penjilidan, dsb; tanpa terlalu peduli pada content skripsinya, apakah risetnya tersebut bermutu/berguna atau tidak.

Dua kesalahan di atas merupakan context, sedangkan kesalahan terakhir terletak pada content-nya. Seharusnya, angka “tiga” diganti menjadi “dua”, namun banyak yang tidak berani merubahnya. Tanya kenapa?!

Adalah lebih penting kualitas riset Anda, daripada bagaimana Anda mengemasnya.

.

JAWABAN #3: Gunakan TEORI yang sesuai

Banyak orang tidak dapat menjawab soal ini karena mereka tidak memiliki teori yang tepat. Banyak orang berpikir bahwa ada yang salah dengan gambarnya, namun mereka sendiri tidak yakin dengan jawaban mereka. Sebenarnya di sini bukan masalah apa jawaban kalian, tetapi bagaimana kalian berargumen mempertahankan jawaban kalian tersebut.

Untuk memecahkan soal ini, ada beberapa teori yang dapat digunakan. Saya sendiri akan mencoba memecahkan soal ini menggunakan teori Trigonometri.

tan A = a/b

Dari soal di atas:

tan (sudut lancip)▲merah ≠ tan (sudut lancip)▲hijau

3/8 ≠2/5

**padahal jika dilihat dari gambar besarnya SAMA**

Seharusnya besar sudut lancip dan tumpul segitiga merah dan hijau tidaklah sama. Namun, jika dilihat di gambar, besar sudut keduanya adalah sama. Hal ini jelas membuktikan bahwa ada yang salah dengan (kotak-kotak) pada gambar tersebut.

Saya benar-benar yakin dengan jawaban saya karena saya didukung oleh teori yang kuat. Umumnya jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi adalah penelitian terapan (applied research) dan bersifat deduktif. Dalam penelitian ini, teori dianggap benar, tetapi penerapannya salah, oleh karenanya menimbulkan masalah.

Dalam penelitian terapan, penggunaan TEORI YANG SESUAI & TEPAT sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, banyak juga mahasiswa yang cari gampang dengan mengutip teori dari skripsi lain yang tidak relevan.

Misalnya saja, saya meneliti tentang tingkat kerajinan direktur di PT X. Saya melihat bahwa ada skripsi lain yang juga meneliti tentang tingkat kerajinan. Lalu saya mengutip teori yang ada di skripsi tersebut dan mendapatkan indikator tingkat kerajinan sebagai berikut:

[1] banyaknya waktu yang diluangkan untuk mengerjakan PR setiap harinya

[2] banyaknya buku pelajaran yang dibaca setiap bulannya

[3] banyaknya waktu yang dihabiskan untuk belajar di perpustakaan

[4] banyaknya tugas yang dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu

[5] dsb.

Walaupun teori tentang kerajinan tersebut adalah benar, tetapi apakah penggunaannya sudah tepat?! Mungkin ketika membaca tulisan saya di sini, kalian semua bisa tersenyum puas, namun ketika kalian sendiri yang berada pada situasi di atas, apakah kalian juga akan terjebak pada hal yang sama?!

———

Sekali lagi, untuk bisa sukses dalam membuat riset (skripsi/tugas akhir), saya benar-benar berharap semoga kalian semua setidaknya memiliki ketiga modal di atas:

[1] Think out of the Box: Be creative!!! Do inovate or die. Jika kalian hebat, kalian bisa menjadi nomor satu. tetapi, jika kalian unik, kalian jadi satu-satunya. Jangan menunggu terinspirasi dulu baru menulis, tetapi mulailah menulis, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu. Jangan menunggu contoh dulu baru bergerak mengikuti, tetapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

[2] Utamakan kualitas content-nya, bukan context-nya: Kunci utama menikmati kopi, bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

[3] Pilihlah TEORI yang sesuai untuk riset kita: Jangan selalu nyontek dari skripsi di perpustakaan, tetapi mulailah gunakan jurnal-jurnal ilmiah. If you steal from one author: It’s PLAGIARISM!!! If you steal from many: It’s RE-SEARCH!!!

Apa arti uang bagi Anda?!

Sebagian orang beranggapan bahwa keadaan KAYA itu adalah baik, namun KEINGINAN UNTUK MENJADI KAYA adalah hal buruk. Mengapa?! Karena jika tujuan hidup kita adalah untuk menjadi kaya, maka kemungkinan besar kita akan menghalalkan berbagai cara untuk mencapainya. Oleh karena itu, seringkali keinginan untuk menjadi kaya sering disebut sebagai pintu masuk dosa.

Saya adalah seorang anak yang dilahirkan di tengah keluarga sederhana. Selama ini saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi orang yang super kaya dan bergelimang harta. Saya hanya berdoa agar saya selalu dapat menjadi berkat dan supaya hidup saya dapat berguna bagi orang lain.

Saya selalu berpikir: Untuk apa menjadi kaya jika saya tidak dapat menjadi berkat?! Saya lebih memilih untuk menjadi pribadi yang biasa-biasa saja, namun dapat berguna bagi orang lain.

Saya melihat bahwa ternyata banyak juga orang kaya yang pelit dan egois. Mereka berpikir bahwa semua orang yang ingin sukses, haruslah bekerja keras seperti mereka. Jika ada orang yang kerjanya hanya bermalas-malasan saja, sudah sepatutnya mereka tidak makan. Pemikiran kedua datang karena jika mereka selalu membantu orang yang kesusahan, ketika di masa mendatang si orang yang kesusahan ini menghadapi kessulitan yang sama, maka ia tetap akan membutuhkan bantuan orang lain dan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi, jika ada orang yang sedang kesusahan, biarkan saja, biarkan mereka belajar mandiri mengatasi kesulitannya tersebut.

Berbanding terbalik dengan kenyataan di atas, ternyata banyak juga orang yang tulus membantu orang lain yang kesusahan, justru ketika keadaan mereka juga tidak kalah kesusahannya dengan orang yang mereka bantu tersebut.

Berikut adalah cuplikan dari Kick Andy Show yang ditayangkan pada tanggal 16 September 2011, dengan judul: “Ketika Hati Bicara”.

Apa  yang dilakukan para narasumber di Kick Andy memang luar biasa. Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi yang melilit, mereka ternyata masih mau berbagi kepada orang yang “membutuhkan”. Kejadian yang terekam kamera pada beberapa episode program “Tolong” dan “Minta Tolong” yang ditayangkan SCTV dan RCTI itu setidaknya bisa membuat cermin diri kita,  maukah kita memberi pertolongan  kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Rinto Kanafi misalnya. Pria berusia 43 tahun yang kehilangan kaki karena kecelakaan itu tiba-tiba dihadapkan kepada seseorang yang minta tolong kepadanya. Seorang ‘talent’ yang sudah dipersiapkan sebelumnya berpura-pura minta tolong kepadanya untuk mengantarkan kiriman roti kepada salah seorang pemesan yang sedang berulang tahun. Sang talent sudah berupaya mencari “korban”untuk menolong dirinya namun tidak berhasil, sehingga tibalah akhirnya bertemu dengan Rinto Kanafi yang kala itu sedang ada di depan kios rotan dan warung es kelapa muda. Setelah sang talent merengek, diluar dugaan, Rinto Kanafi yang hanya berkaki satu itu mengantarkan roti pesanan orang itu dengan biaya sendiri.

Kisah lainya adalah seorang sopir angkot yang sedang pusing memikirkan biaya pengobatan anaknya. Suprihatin, demikian nama sopir angkot itu didatangi seorang nenek yang mencoba menjual ikan asin sisa untuk membeli beras. Suprihatin ragu-ragu ketika akan menolong nenek itu karena ia sendiri juga dalam keadaan susah. Sang Nenek ternyata pantang menyerah dan terus ‘mencoba mengaganggu” Suprihatin untuk membeli ikan asinya. Ternyata hati Sang Sopir angkot akhirnya luluh dan menolong nenek itu membelikan beras sebanyak 10 kilogram. “Saya tidak tega melihat nenek  yang katanya cucunya sudah dua hari tidak makan. Saya jadi teringat nenek saya dulu,” ujar Suprihatin memberi alasan kenapa akhirnya dia mau menolong Sang Nenek.

Sementara apa yang dilakukan Karsimah benar-benar orang tidak percaya. Karsimah yang baru kehilangan suaminya akibat meninggal dunia itu kini berprofesi sebagai penambal ban di daerah Semarang, Jawa Tengah. Ia berprofesi sebagai penambal ban karena terpaksa menggantikan suaminya untuk mencari nafkah. Ketika sedang menunggu pelanggan, tiba-tiba datang seorang nenek yang pura-pura tersesat dan minta tolong dirinya untuk mengantar ke Salatiga. Karsimah tertegun sejenak melihat Sang Nenek yang katanya mengaku sudah  dua hari berusaha minta tolong kepada beberapa orang tapi tak satu pun yang bersedia menolong. Walau agak ragu-ragu, Karsimah kemudian menutup kios tambal ban nya dan segera menggandeng nenek dan menumpang bus  ke jurusan Salatiga.

Walau cerita di atas adalah sebuah program variety show untuk tontonan di salah satu acara televisi. Namun setidaknya tontonan yang dibuat Rumah Produksi Dreamlight itu bisa menjadi pengasah jiwa kita. Ternyata berdasarkan pengalaman para kru di lapangan, justru orang dari kalangan bawahlah yang ringan tangan membantu kepada orang yang membutuhkan. Mereka tanpa banyak pertimbangan langsung memberi bantuan. Kejadian itu sangat bertolak belakang dengan kalangan orang mampu dan kalangan atas yang kebanyakan selalu curiga dan individualistis.

Selama ini mungkin saya terlalu naif. Saya cenderung memilih menjadi ‘orang miskin’ yang dermawan, daripada menjadi orang kaya yang pelit. Dengan keadaan aaya yang serba pas-pasan, saya merasa saya mampu berbagi dengan banyak orang. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya diberkati untuk menjadi berkat. Berikut adalah prinsip hidup saya yang pernah saya post menjadi status di facebook:

Berkat Tuhan itu seumpama buah mangga: ada bagian yang bisa kita makan, ada juga bagian yang HARUS kita bagikan. Ketika kita menabur benih di tempat yang benar, maka ia akan tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak. Tetapi jika kita serakah (sampe pelok-peloknya juga dimakan), mati aja loe… Kita dapat menghitung berapa banyak biji dari 1 buah mangga, tetapi hanya Tuhan yang tahu berapa banyak buah dari 1 biji mangga.

Seorang rekan saya pernah berkata bahwa apa yang kita tabur, itu pula yang akan kita tuai dan apa yang kita tuai tersebut jumlahnya sama dengan apa yang kita tabur. Untuk hal yang satu ini saya akan tegas berkata: SALAH. Sesungguhnya, apa yang kita dapatkan itu jumlahnya selalu jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita beri. **lain kali mungkin saya akan menulis artikel khusus berkenaan dengan hal yang satu ini** Oleh karena itu, saya selalu berusaha memberi, walaupun mungkin keadaan saya sendiri agak berkecukupan. Tetapi tidak mengapa, toh saya merasa saya cukup, dan saya juga merasa bahagia jika saya dapat membantu orang lain.

Saya bahagia dengan keadaan saya yang serba berkecukupan. Bagi saya, yang terpenting adalah saya bisa selalu menjadi berkat bagi orang lain. Dan yang namanya berkat Tuhan itu tidak selalu berbicara mengenai uang. Tuhan telah menganugerahi saya kepintaran yang cukup, Tuhan telah menganugerahi saya kasih yang berlimpah, Tuhan telah menganugerahi saya keuangan yang cukup (walau terkadang pas-pasan), dan saya bersyukur karena saya dapat membagikannya kepada orang lain. Saya bersyukur karena saya bisa menjadi kepanjangan tangan Tuhan. Saya bersyukur karena saya diberkati untuk menjadi berkat.

Bagi saya, uang bukanlah segalanya. Saya sudah cukup puas dengan keadaan saya yang sekarang. Saya sudah cukup puas dengan keadaan keluarga saya yang harmonis. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena Ia memberikan saya orang tua yang terbaik. Saya bersyukur karena saya masih bisa bersyukur…

———

Lain dahulu, lain sekarang. Saat ini pemikiran saya sudah sedikit berubah. Jika awalnya saya berpikir bahwa keinginan untuk menjadi kaya tidaklah baik, saya mau tegaskan bahwa saat ini, salah satu keinginan terbesar saya adalah untuk menjadi kaya.

Saya mungkin tidak membutuhkan banyak uang, tetapi dengan memiliki banyak uang, saya dapat membantu orang-orang yang saya cintai.

Memiliki banyak uang memang belum tentu menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya dengan memiliki banyak uang kita tidak menambah masalah.

Jika dengan memiliki uang sedikit saja kita dapat membantu banyak orang, bayangkan apa yang dapat kita lakukan dengan memiliki banyak uang.

Beberapa quotes di atas sempat saya post di facebook dan quotes tersebut juga lah yang telah merubah mindset saya selama ini.

Berikut saya lampirkan pula percakapan antara Merry Riana dan peserta seminar, yang dikutip dari bukunya ‘A Gift from a Friend’.

Merry Riana: Apakah uang adalah hal yang jahat?

A: Ya.

Merry Riana: Mengapa Anda menjawab demikian?

A: Karena uang, orang mencuri, menipu, berbohong, dan melakukan kejahatan lainnya.

Merry Riana: Apakah Anda pernah melihat orang melakukan tindakan baik dengan uang?

A: Contohnya?

Merry Riana: Uang dapat membangun sekolah yang menyediakan pendidikan untuk generasi muda. Uang dapat membangun rumah sakit guna menyembuhkan orang sakit. Uang dapat membangun tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

A: Kalau begitu, uang adalah netral. Uang hanyalah media alat tukar, suatu cara untuk membeli sesuatu.

Merry Riana: Nah, jadi sekarang Anda berpendapat bahwa uang itu netral, tidak jahat?

A: Jika Anda melihat dari sudut pandang itu, ya uang itu netral. Tetapi lebih sering menyebabkan perbuatan jahat daripada perbuatan baik, saya kira.

Merry Riana: Jadi, pada dasarnya Anda setuju bahwa uang tidak baik dan tidak juga jahat, pada dasarnya netral. Cara orang menggunakan uang yang membuatnya baik atau jahat, apakah itu betul?

A: Ya.

Merry Riana: Oke, sekarang saya akan bertanya lagi. Anggaplah di sebuah keluarga, kedua orangtua bekerja dan mereka tidak punya waktu yang cukup untuk anak-anaknya. Di keluarga yang lain, kedua orangtua tidak perlu bekerja lagi karena mereka punya cukup uang. Jadi, karena mereka tidak bekerja lagi, mereka punya cukup waktu bersama anak-anak. Keluarga manakah yang baik, yang pertama atau kedua?

A: Saya kira yang kedua. Tetapi, pada keluarga yang pertama, alasan orangtua bekerja keras adalah karena mereka mencari uang. Jadi, benarlah bahwa uang akan membawa masalah.

Merry Riana: Apakah benar bahwa uang yang menjadi penyebab masalah? Ataukah ketidakmampuan mengatur uang yang menyebabkan masalah? Keluarga kedua memiliki uang banyak dan mereka tidak dalam masalah.

A: Hmm…. Kalau begitu saya kira kemampuan untuk mengelola uanglah yang menyebabkan uang dapat menjadi baik atau jahat.

Merry Riana: Betul sekali. Uang itu seperti api, jika Anda tahu bagaimana menggunakannya dengan baik, hal itu akan memberikan keuntungan yang berlimpah seperti memberikan penerangan. Tetapi jika Anda kurang berhati-hati, hal itu juga dapat menyebabkan tragedi seperti kebakaran rumah. Keduanya adalah api yang sama, tetapi pada situasi yang satu memberikan keuntungan sedangkan pada situasi yang lain membawa kehancuran. Itu semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.

A: Oke, itu menarik. Saya tidak pernah berpikir dengan cara itu sebelumnya.

Merry Riana: itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan “time is money”. Sebenarnya, kebalikannya juga benar, “uang adalah waktu”.

A: Apa maksudnya?

Merry Riana: Bayangkan Anda punya cukup uang untuk membayar seseorang untuk mengurus seluruh urusan rumah tangga Anda. Anda tidak perlu memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, dan sebagainya. Jika ada seseorang yang melakukan pekerjaan tersebut untuk Anda, apakah Anda mempunyai lebih banyak waktu untuk diri Anda sendiri?

A: Ya.

Merry Riana: Jadi bukankah artinya Anda menukar uang Anda dengan waktu?

A: Betul.

Merry Riana: Jadi uang dapat membeli waktu. Memiliki banyak uang berarti memiliki lebih banyak waktu.

A: Iya betul.

Merry Riana: Sekarang, pertanyaan yang sulit untuk Anda. Apakah uang dapat membeli kesehatan?

A: Saya rasa tidak. Tapi, tunggu… tunggu… tunggu. Jika saya dapat menggunakan uang saya untuk makan makanan yang sehat setiap harinya, bukankah itu berarti saya bertambah sehat sebab saya punya lebih banyak uang?

Merry Riana: Ya. Anda mulai mengerti. Dengan uang anda dapat membayar seorang pelatih fitness pribadi sehingga Anda menjadi lebih disiplin dalam berolahraga. Dengan uang Anda dapat memeriksakan kesehatan Anda lebih sering sehingga jika ada penyakit bisa dideteksi lebih awal. Dengan uang Anda bisa pergi ke rumah sakit yang baik dan ditangani oleh dokter yang hebat jika Anda sakit. Semua ini adalah contoh bahwa pada kenyataannya uang dapat membeli kesehatan.

A: Wow… Ini adalah hal baru bagi saya. Uang dapat membeli waktu. Uang dapat membeli kesehatan. Sekarang saya dapat melihat bahwa uang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa pada kehidupan saya juga.

Merry Riana: Saya lega akhirnya Anda mulai menyadarinya. Dan sekarang saatnya untuk pertanyaan yang paling sulit. Apakah uang dapat membeli kebahagiaan?

A: Dalam pikiran saya jawabannya tidak, tetapi saa tahu bahwa Anda pasti punya suatu penjelasan mengenai bagaimana uang dapat membeli kebahagiaan.

Merry Riana: Hahaha… Anda belajar dengan cepat. Oke, sekarang marilah kita mencari pengertian lebih dalam tentang hal ini dengan menggunakan cerita. Bayangkan Anda memiliki seorang pacar yang mengunjungi Anda pada saat Anda ulang tahun dan sebagai hadiah mengajak Anda jalan-jalan ke mal terdekat. Itu adalah situasi pertama. Pada situasi kedua, pacar Anda memberikan hadiah berupa perjalanan wisata romantis ke luar negeri selama 10 hari. Sekarang, sebelum saya menanyakan mana yang Anda pilih, izinkan saya meluruskan fakta-faktanya dulu. Pacar Anda adalah orang yang sama yang memberikan cintanya kepada Anda dengan jumlah yang sama. Satu-satunya perbedaan pada cerita ini hanyalah bentuk hadiahnya. Semua fakta yang lain sama. Nah, mana yang Anda pilih?

A: (Tersenyum) Tentu saja yang kedua.

Merry Riana: Bukankah Anda menjadi lebih senang jika mendapatkan hadiah yang kedua dibandingkan dengan yang pertama?

A: Tentu saja.

Merry Riana: Jadi, itulah faktanya. Semuanya sama, tetapi dengan uang lebih, Anda dapat membuat orang lain lebih bahagia. Kesimpulannya, uang juga dapat membeli kebahagiaan.

A: Benar, benar.

Merry Riana: Sekarang, setelah Anda tahu bahwa uang dapat membeli waktu, kesehatan, dan kebahagiaan, apakah Anda masih berpikir bahwa uang itu jahat?

A: Saya rasa tidak. Uang itu netral. Dan jika Anda dapat mengelolanya dengan baik, Anda dapat membeli semua hal penting yang disebutkan tadi.

Merry Riana: Ya. Tetapi dari semua pembicaraan kita, saya hanya ingin mengingakan bahwa uang BUKAN yang terpenting di dunia ini. Masih ada hal-hal lain yang lebih penting dalam hidup ini.

A: Betul, seperti cinta, persahabatan, rasa hormat, keluarga, kepercayaan, kesetiaan. Saya percaya semua hal ini lebih penting daripada uang.

Merry Riana: Betul sekali. Uang bukanlah hal terpenting dalam hidup ini, tetapi uang dapat memengaruhi hal-hal terpenting dalam hidup ini. Uang dapat meningkatkan ungkapan cinta, uang dapat meningkatkan hubungan persahabatan, uang dapat meningkatkan kualitas kehidupan Anda, dan sebagainya. Jadi sebagai kesimpulan, apa arti uang sebenarnya bagi Anda?

A: Bagi saya, uang adalah salah satu sumber daya saya. Uang itu seperti energi. Saya dapat melakukan hal yang baik atau hal yang jahat dalam menggunakannya, tetapi pilihan itu tergantung pada saya.

UANG BISA MENJADI APA PUN,
TERGANTUNG CARA KITA MEMAKAINYA.

———

Mungkin pendapat saya tentang uang tidak sepenuhnya benar, tetapi mari kita lihat bagaimana pendapat Anda. Sesungguhnya, apa arti uang bagi Anda?!

Kisah Kondominium

Kisah berikut saya kutip dari buku “A GIFT FROM A FRIEND” yang ditulis oleh Merry Riana.

Sepasang pengantin muda baru saja memutuskan membeli sebuah apartemen baru. Apartemen baru ini terletak di lantai 72.

Setelah mereka memberikan pembayaran tanda jadi untuk apartemen tersebut, kunci apartemen pun diserahkan kepada mereka.

Mereka sangat bersemangat. Sesudah mendapatkan kuncinya, mereka ingin pergi ke lantai 72 untuk melihat apartemen baru mereka. Yang membuat mereka lebih bersemangat lagi, kondominium itu hanya terletak di sebelah kantor pemasaran tempat mereka membayar tanda jadi.

Mereka pun cepat-cepat menuju kondominium itu dan mencari lift untuk naik ke lantai 72, tempat unit apartemen mereka.

Mereka sangat kecewa saat tahu bahwa sistem lift sedang diperbaiki. Tetapi, karena sangat antusias untuk melihat apartemen baru, mereka tidak keberatan naik lewat tangga menuju ke lantai 72. Jadi mereka pun mulai naik.

Setelah mencapai lantai 21, pasangan ini mulai merasa lelah. Karena mengetahui bahwa perjalanan mereka masih jauh, mereka memutuskan untuk meninggalkan tas mereka di lantai 21 dan melanjutkan naik tangga lagi.

Selanjutnya, mereka naik sampai lantai 45. Rasa lelah sudah sangat mereka rasakan saat itu. Mereka mulai saling menyalahkan karena memutuskan naik lewat tangga.

Mereka bahkan mulai menyalahkan satu sama lain karena memutuskan untuk membeli apartemen di lantai yang tertinggi. Tetapi, karena sudah terlanjur naik ke lantai 45, dan tinggal 27 lantai lagi, mereka memutuskan untuk terus naik.

Ketika mereka sampai di lantai 60, mereka sudah tidak saling bicara. Mereka berpikir ide naik tangga sampai lantai 72 ini adalah ide yang konyol. Mereka memutuskan untuk diam saja dan tidak berbicara mengenai hal itu lagi.

Akhirnya, mereka mencapai tujuan akhir mereka, lantai 72. Mereka sampai di depan pintu dan mereka masih bisa tersenyum lemah ketika saling berpandangan. Sejenak mereka saling menunggu untuk mengambil kunci dan membuka pintu apartemen mereka, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah meninggalkan kuncinya di lantai 21 bersama tas mereka.

———

Kita semua memiliki impian ketika kita masih kecil, apakah itu menjadi dokter, guru, pilot, pengusaha, dan lain sebagainya. Tetapi, ketika kita mencapai usia 21 tahun, umumnya kita mengikuti orang kebanyakan. Kita melepaskan impian kita dan melanjutkan hidup kita sama seperti teman-teman kita yang lain.

Ketika mencapai usia 45 tahun, kita mulai merasa kecewa dengan kondisi hidup kita dan mulai menyalahkan semua orang lain, kecuali diri kita sendiri. Saya belum berusia 45, dan saya tidak yakin benar bagaimana perasaan orang-orang yang berumur 45. Tapi setelah mengamati orang-orang berusia patuh baya di sekitar saya, saya menyadari bahwa kebanyakan dari mereka kecewa dengan pekerjaan mereka. Mereka kecewa dengan keadaan keuangan mereka. Di satu sisi, mereka tertekan oleh kebutuhan untuk membiayai orang tua mereka setelah mereka pensiun. Berapa pun gaji yang mereka dapat akan selalu mengalir lagi untuk membayar semua tagihan, cicilan pinjaman, biaya hidup, dan sebagainya. Jangankan liburan, mereka bahkan tidak tahu umur berapa mereka akan dapat berhenti bekerja dan pensiun.

Lalu mereka mulai menyalahkan semua orang. Mereka menyalahkan Tuhan karena membiarkan situasi buruk ini menimpa mereka. Mereka menyalahkan pemerintah karena mengenakan tarif pajak yang tinggi dan tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orang tua mereka karena tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orangtua mereka karena tidak bekerja cukup keras sehingga tidak dapat memberikan warisan yang cukup. Mereka menyalahkan anak-anak karena tidak belajar cukup giat untuk mendapatkan beasiswa yang meringankan beban keuangan mereka. Daftar keluhan ini berlanjut terus….

Ketika mencapai usia 60 tahun, mereka biasanya tidak bisa berkata banyak lagi. Saya melihat begitu banyak orang tua di umur tersebut yang tidak banyak lagi berkomunikasi dengan orang lain. Mereka hanya menjalani hidup dan menunggu waktu mereka tiba. Mungkin mereka tidak berkomunikasi banyak lagi karena mereka menyesal akan hidup mereka yang tidak mencapai apa pun atau tidak melakukan sesuatu yang berbeda ketika mereka masih muda. Saya tidak tahu. Saya hanya menduga.

Saat mencapai usia 72 tahun, ketika menyadari bahwa waktu mereka telah tiba untuk berkata selamat tinggal, mereka hanya dapat berkata demikian sambil meneteskan air mata yang mengalir di pipi. Mereka mungkin berpikir: Apa yang mungkin terjadi jika saya tidak melepaskan impian saya ketika saya masih berusia 21? Apakah kisah hidup saya akan berbeda?

Gambaran ini mungkin terlihat suram bagi kita setelah kita membaca kisah ini. Tetapi, ini bukanlah akhir perjalanan kita. Apa yang saya gambarkan di sini adalah untuk membantu agar Anda bisa melihat masa depan, kehidupan apa yang Anda jalani jika Anda membuang impian ketika Anda masih muda.

Moral kisah ini adalah jangan lepaskan impian Anda dan jangan menukarnya dengan kesempatan atau peluang yang “salah”. Kesempatan yang “salah” dapat datang secara tersamar sebagai kesempatan yang sepertinya nyaman dan kesempatan kerja yang sepertinya cocok setelah Anda lulus sekolah. Tapi, jika kesempatan itu tidak membawa Anda lebih dekat pada impian Anda, apa gunanya?

Untuk masuk ke pintu apartemen impian, Anda akan memerlukan kuncinya. Jangan pernah menjatuhkan kunci itu. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kunci duplikat kepada Anda. Bahkan tidak juga pekerjaan yang stabil dengan bayaran yang baik.

Dimakan sayang?!

Berikut ini adalah beberapa foto makanan yang saya sendiri juga ga tega untuk memakannya:

[1] pudding tete (rasa susu), dibeli di Dotonbori, Namba, Osaka, Japan

[2] Kue Kitty, dibeli di Asakusa, Tokyo, Japan

[3] Hello Kitty Cookies, dibeli di Sanrio Store, Tokyo, Japan

[4] naruto Doraemon, buatan Mbak Santi

[5] imut banget yach?! (dapet dari seorang teman)

Dari semuanya, mana yang paling kalian suka?!

TAHU vs. TIDAK TAHU

Jika dikelompokkan berdasarkan pengenalan akan dirinya sendiri, manusia dapat digolongkan menjadi empat tipe:

Tipe pertama adalah MEREKA YANG TAHU BAHWA MEREKA TAHU. Mereka adalah orang-orang yang PINTAR yang sadar betul akan kemampuan dirinya sendiri. Tidak mudah berdebat dengan orang-orang tipe ini, karena mereka sadar betul siapa dirinya, didukung dengan pengetahuan mereka yang luas.

Tipe kedua adalah MEREKA YANG TAHU BAHWA MEREKA TIDAK TAHU. Mereka ini adalah tipe orang yang RENDAH HATI. Mereka sadar betul akan kekurangannya dan mereka mengakuinya. Jika orang pada tipe kedua ini mau berusaha keras mengantisipasi ketidaktahuan mereka, di kemudian hari tentunya mereka akan meraih kesuksesan.

Tipe ketiga adalah MEREKA YANG TIDAK TAHU BAHWA MEREKA TAHU. Orang-orang pada tipe ketiga ini adalah orang-orang yang POTENSIAL. Sebenarnya mereka mampu, tetapi mereka tidak menyadari kemampuannya tersebut. Jika kemampuannya tersebut diasah dengan baik, mereka akan memiliki keunggulan yang kompetitif. Saya memiliki seorang teman dekat dan seringkali saya iri dengan kemampuan yang dimilikinya. Tetapi sayangnya, dia seringkali malah minder dengan dirinya sendiri. Beberapa kali saya berusaha memotivasi dia. Dan sebagai hasilnya, dia yang tadinya merasa tidak mampu, akhirnya dapat juga menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik; karena sebenarnya dia mampu, hanya saja dia tidak sadar akan kemampuan dirinya sendiri.

Tipe keempat . . . nah ini dia tipe yang picabokeun: MEREKA YANG TIDAK TAHU BAHWA MEREKA TIDAK TAHU. Mereka ini adalah tipe orang yang SOK TAHU dan cenderung KERAS KEPALA UNTUK MEMPERTAHANKAN SESUATU HAL YANG SALAH. Mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah mereka tahu, padahal hal tersebut salah. Ternyata, banyak juga loh orang-orang dengan tipe seperti ini. **sebenarnya inilah latar belakang saya menulis artikel ini HaHaHa** Menurut saya pribadi, hal tersebut terjadi karena dua alasan: [1] Mereka benar-benar tidak tahu bahwa mereka tidak tahu, dan [2] Walaupun mereka tahu bahwa mereka tidak tahu juga tetapi mereka gengsi mengemukakan ketidaktahuannya tersebut.

Dan yang jadi pertanyaan adalah: ANDA TERMASUK TIPE YANG MANA?!

Fontsforweb.com - free web fonts download. See this Wordpress fonts plugin