Lenovo VIBE P1m

Lenovo sepertinya tidak mau mengerem penetrasinya ke pasar smartphone. Bisa dikatakan hampir setiap bulan merek ini merilis model terbaru. Kali ini, giliran Lenovo VIBE P1m yang dikenalkan ke pasar. Ponsel pintar keluarga VIBE terbaru ini memiliki positioniong kuat dalam baterai dengan harga terjangkau.

VIBE P1m ini menyasar mereka yang selalu berjiwa muda dan memiliki mobilitas tinggi dan tidak punya waktu untuk mengisi power bank. Kekuatan baterai dari ponsel pintar ini mencapai 4000 mAH. Selain itu, ada tombol manual untuk memperpanjang daya tahan baterai secara instan dan dilengkapi kemampuan OTG (On-The-Go) Charginguntuk mengisi perangkat-perangkat lain yang terkoneksi melalui USB seperti headset Bluetooth dan speaker portable.

“Dengan daya tahan baterai ini, pengguna tidak perlu khawatir mengenai low bat. Bahkan, Vibe P1m bisa menjadi power bank yang menyuplai power ke gadget lainnya, seperti mini speaker. Tidak hanya itu, smartphone ini memiliki fitur quick charging yang membuat baterai terisi dengan cepat walau hanya sebentar di-charge,” kata  Adrie R. Suhadi, Country Head, Smartphone Division, Lenovo Indonesia, saat peluncuran hari ini, (27/10/2015).

Ia menambahkan bahwa Vibe P1m juga mampu memenuhi kebutuhan konsumen yang selalu terkoneksi ke internet dan produktif, namun terikat dengan dengan perangkatnya sehingga tidak punya waktu untuk mengisi baterai.  “Karena untuk mereka yang memiliki mobililtas tinggi, Vibe P1m juga dilengkapi dengan splash proof nano couting yang membuat layarnya tahan percikan air,” katanya.

Lenovo VIBE P1m juga sudah mendukung teknologi 4G LTE. Termasuk, dalam kondisi baterai sedang lemah sekalipun dengan mengaktifkan fitur power saver swicth. Untuk mendukung performa yang cepat, Lenovo VIBE P1m mengusung prosesor 64-bit MediaTek™ MT6735P 1.0GHz Quad-Core dan RAM 2GB sehingga pengguna dapat menjalankan beberapa aplikasi, browsing internet dan menonton video streamingpada saat bersamaan.VIBE P1m juga dilengkapi dengan kamera belakang 8MP dan kamera depan 5MP yang mampu menghasilkan foto-foto yang menawan.

Adrie menambahkan bahwa ponsel pintar ini merupakan produk pertama di seri VIBE yang dipasarkan dengan menggunakan strategi O2O (Online to Offline), dengan menggandeng Blibli.com sebagai mitra e-commerce dan Indosat sebagai mitra untuk penyediaan layanan 4G LTE.

VIBE P1m yang memiliki berat 148 gr ini sudah mengusung sistem operasi Android 5.1 Lollipop dan saat ini warna yang tersedia adalah Onyx Black. Lenovo VIBE P1m sudah tersedia di bulan Oktober ini secara eksklusif di Blibli.com dengan harga Rp 2.099.000. Flash Deal di Blibli.com akan dilakukan setiap hari Rabu, mulai 28 Oktober 2015 mulai jam 10.00–15.00 WIB.

Sumber: http://marketeers.com

My Bucket List

Few years ago, I came across someone’s bucket list while surfing the internet. It quickly inspired me to create my own list, but I never write it down until now. So lazy me HaHaHa…

So, here is my bucket list, where I list all 101 things I want to do, feel, experience, see, and achieve before I die (or before the world ends). Actually, on this bucket list, I don’t write anything that I’ve already achieved before, such as: travelling alone to many countries, solo hiking, swim with little sharks, visit world’s tallest tower, visit Harajuku, take photos with Hachiko, biking in snow, see Penguins, etc.

I will continuously update it as I complete current items.

=========

[1] ride at least 10 world’s record-breaking roller coaster from around the world (by Aug 2011: 5 – T Express, Fujiyama, Eejanaika, Dodonpa, Takabisha)

[2] fly in a hot-air balloon

[3] win a main prize (min. IDR 100.000.000)

[4] pack my bags and set off for a random location with no itinerary for at least 10 days

[5]  live in 3 different countries for at least six months (by Sept 2011: 1 – Japan)

[6] skiing & snowboarding (I’ve already plan for both on 20 March 2011, but unfortunately it was tsunami in Japan on 11 March 2011, so I canceled it.)

[7] try out vegetarianism for 1 months

[8] increase my TOEFL score (passing at least 650)

[9] get my Doctorate Degree/PhD Program in U.K. (by Dec 2017)

[10] travel to Europe

[11] travel to U.S.& Antarctica

[12] travel to Australia

[13] visit all Disney Park around the world

[14] try Bungee Jumping

[15] go on a cruise vacation

[16] climb Mt. Mahameru (inspired by 5cm)

[17] become a CEO of a big company (past: vice director)

[18] visit all ASEAN countries

[19] experience zero gravity

[20] do public speaking in front of 2.500 people or more

[21] build my dream home

[22] see Cherry Blossoms/Sakura in Japan, Korea, and China (by March 2011: Japan)

[23] see a Monalisa in Louvre and taking photos of Eiffel

[24] learn graphology

[25] publish at least 10 SCOPUS Indexed Journals (by Dec 2025)

[26] publish at least 50 Proceedings (by Dec 2020)

[27] try to launch my own company on Jan 2016

[28] try indoor skydive

[29] learning archery

[30] play golf

[31] feed a Koala Bear

[32] feed a King Penguin

[33] see a Kangaroo

[34] swim with Dolphins

[35] try horseback riding

[36] swim with sea turtles

[37] meet the President

[38] write and publish 5 books (on progress: 1 book)

[39] collect a set of LEGO

[40] collect a set of Tomica

[41] eat at a Michelin 3-star Restaurant (hopefully Jiro Sushi)

[42] complete a 1.500 pieces Jigsaw Puzzle

[43] learn photography

[44] race a Go-Kart

[45] ride a Camel

[46] ride on a Limousine

[47] solve Rubik’s Cube in less than 150 seconds

[48] ride on 3 world’s record-breaking cable car (by Okt 2014: world’s steepest cable car in Langkawi)

[49] sleep in a Capsule Hotel

[50] sleep in a treehouse

[51] take a train cross country

[52] touch a Pyramid

[53] take a picture from helicopter

[54] attend the Songkran Festival in Bangkok

[55] watch 100.000 shots fireworks (or more)

[56] ride in a Gondola in Venice

[57] eat in the Underwater Hotel (Maldives)

[58] eat in the Waterfall Restaurant (Phillipines)

[59] be invited to speak overseas

[60] walk across a desert

[61] visit The Leaning Tower of Pisa

[62] firewalking

[63] witness a meteor shower

[64] have a MINI Cooper

[65] have a mentor

[66] visit 30 UNESCO World Heritage Sites

[67] take selfie picture at The Great Wall

[68] sleep in an Iglo

[69] master Poker and win big at the Casino

[70] obtain some professional certifications

[71] be a member af an exclusive club

[72] build a sand castle

[73] get married with the one I love

[74] participate in a marathon race

[75] fly first class

[76] visit a ghost town

[77] visit Stone Henge

[78] visit Easter Island Heads Statue

[79] experience the London Eye

[80] attend Anthony Robbins’ seminar and meet him in person

[81] train a dog and win a medal

[82] honeymoon in Paris

[83] be a master in Statistics

[84] visit Komodo National Park

[85] explore Bali

[86] play tennis

[87] record a song

[88] attend a masquerade

[89] visit all about Hello Kitty places (by Aug 2011: Hello Kitty Cafe – Korea, Sanrio Puroland & Hello Kitty Stores – Japan)

[90] ride on a dog sled

[91] meet someone with my own name

[92] get into the Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI)

[93] be in a movie or on TV

[94] throw a boomerang

[95] take photos with Mr. Bean

[96] become a brand consultant

[97] reduce sugar intake

[98] learn to meditate

[99] achieve financial freedom

[100] get healthy and reach 100 years of age

[101] have a romantic getaway at an exotic location

Bagaimana Cara Mengukur Market Demand?!

Saat ini saya sedang menyiapkan materi kuliah tentang pengukuran ‘market demand’ dan langsung saja saya teringat akan artikel berikut yang beberapa waktu lalu juga pernah saya post di http://www.b0chun.com/blog/

Jawaban ini didapat dari mailing list-nya Majalah MARKETING. Ada seseorang yang menanyakan bagaimana cara mengukur market demand dan inilah jawabannya. Penjelasan yang sangat baik menurutku.

…….

Dear Pak Yus,

Saya ingin memberikan pendapat sedikit mengenai email bapak.

Sebelum masuk ke cara pengukuran, ada tiga kata kunci yang perlu di ketahui, yaitu:

  1. market size: jumlah total seluruh penduduk Jakarta (misalnya scope distribusinya adalah Jakarta) yang dapat menggunakan produk/jasa kita
  2. market demand: persentase dari market size atau jumlah total seluruh penduduk jakarta, yang INGIN menggunakan produk/jasa kita
  3. market potensial: persentase dari market demand, yang INGIN dan secara FINANSIAL mampu menggunakan produk/jasa kita

Untuk pengukurannya, bisa dengan desk research (data sekunder) atau market research (data primer).

Jika menggunakan market research, maka bapak menentukan respondent criteria yang sesuai dengan target market produk bapak (berdasarkan demografi, psikografi, dll) dan melakukan survey dengan metode random sampling agar dapat diproyeksikan ke total populasi.

Dari data tersebut maka bapak akan mendapatkan market size, market demand, market potential, bahkan behavior target market.

Tetapi itu akan membutuhkan biaya yang cukup mahal dan mengenai pelaksanaannya silahkan serahkan ke reseacrh agency yang profesional.

Atau bapak juga dapat melakukan dengan cara yang lebih murah, yaitu mengambil data dari BPS.

Dan memecah data BPS tersebut sesuai dengan target market produk bapak.

Semakin spesifik bapak memecah data BPS, maka bisa mendapatkan gambaran mulai dari market size hingga market potensial.

Tapi dari data BPS ini kita tidak bisa mendapatkan U&A ataupun behavior dari target market kita.

Semoga membantu .. have a good day

Regards, Tria Septariana

…….

Salam MC-ers,

Pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan. Mengukur market size ataupun market demand menjadi tugas mutlak seorang marketer sebelum meluncurkan (launching) sebuah produk atau jasa.

Dahulu, sebelum PT. Aqua Golden Mississippi (AGM) memutuskan untuk menjual air mineral dalam kemasan (AMDK), mereka tentu saja harus memiliki keyakinan akan potensi pasar yang ada (baca: market demand). Saat itu, sebagian besar masyarakat masih beranggapan akan sangat sulit (bukan tidak mungkin) untuk menjual air yang dikemas lebih mahal dari 1 liter minyak tanah atau mungkin 1 liter solar, mungkin kita pun termasuk orang yang pesimis waktu itu….

Dengan data dan informasi yang dimiliki mengenai rendahnya kualitas AIR TANAH khususnya di kota-kota besar serta dan semakin hari semakin berkurangnya kualitas AIR PAM, membuat para petinggi PT AGM semakin optimis.

Mereka mulai menghitung potensi pasar… Caranya : Jumlah penduduk Kota besar DIKALI 2 Liter (minimal Kebutuhan Air Per hari) DIKURANG Penduduk yang tidak mampu beli DIKURANG Penduduk yang tidak mau beli, dan terakhir mungkin DIKURANGI dengan jumlah penduduk yang masih memperoleh air bersih dan sangat layak minum.

Perolehan Jumlah tersebut bisa ditambahkan lagi dengan berbagai aktivitas promosi untuk mempengaruhi perilaku konsumen, misalnya:

  • Bawa Air Dalam Kemasan saat perjalanan, masa sih harus bawa-bawa termos air
  • Minum Air Dalam Kemasan setelah berolah raga
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk memasak
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk membuat susu bayi
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk orang yang sedang sakit, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya.
  • Bahkan sempat PT AGM menyarankan untuk menggunakan AQUA sebagai pengisi air radiator kendaraan mewah.

Contoh lainnya:

Jika produk anda adalah Shock Breaker Motor, caranya adalah : jumlah Motor yang terjual setiap tahunnya = 5.000.000 unit Usia rata-rata motor di jalanan = 6 tahun Rata-rata usia penggantian Shock breaker = 3 tahun Maka potensi market anda adalah : 5jt * 6 thn – 3 tahun = 15.000.000 unit per tahun

Cara menghitungnya adalah 5juta kendaraan dikalikan usia rata-rata 6 tahun jadi jumlah kendaraan yang beredar saat ini adalah 5jt X 6 = 30.000.000 kendaraan. Namun karena Shock breaker yang rusak baru setelah 3 tahun, maka artinya ada sebanyak 15.000.000 (5jt X 3thn) yang belum menjadi potensi pasar. Maka, jika jumlah kendaraan yang beredar sebanyak 30jt dikurangi 15jt yang belum menjadi potensi pasar maka sisanya adalah 15jt

Lebih jauh:

Hitung jumlah pemain (penjual SB) yang ada, lalu hitung kapasitas produksi masing-masing perusahaan tersebut. Nah, Anda bisa melihat apakah pasar tersebut sudah over capacity atau masih memadai.

Anda juga bisa mencari ceruk pasar yang berbeda, misalnya khusus menjual Shock breaker aksesoris, dimana orang mengganti shock breaker bukan karena rusak tapi karena mengikuti model.

Salam, Sukardi Arifin Majalah Marketing

When I Become a Sensei

Banyak orang beranggapan bahwa arti sensei adalah guru/dosen. Namun ternyata, di Jepang sendiri kata sensei tidak hanya digunakan untuk memanggil guru/dosen saja, tetapi juga merupakan sebutan untuk memanggil dokter, pengacara, politisi, penulis buku, musisi, artis, dan sebagainya. #woowww

Jika demikian, apa sebenarnya arti dari ‘sensei’?

Kata sensei sendiri terdiri dari dua karakter yang diambil dari karakter China 先生 (xiānshēng):

  1. (sen): lebih dahulu
  2. (sei): terlahir/hidup

Jadi, secara harafiah, sensei adalah ‘orang yang terlahir atau hidup lebih dahulu’ (person born before another).

———

Semester genap 2013/2014 ini, saya resmi mencicipi bagaimana rasanya mengajar di SBM-ITB dan FE UNPAR. Dan sebagai seorang lulusan Jepang, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa yang saya ajar, bahwa saya ingin mereka menganggap saya sebagai sensei.

Saya ingin mereka semua tahu, bahwa saat ini saya bisa berdiri di depan mereka dan mengajar mereka itu bukan karena saya lebih hebat dan lebih pintar dari mereka. Bukan!!! Saya bisa berdiri di depan mereka tak lebih karena dulu saya pernah belajar materi yang sama seperti yang saya ajarkan sekarang. Mengapa bisa?! Yach, tak lain karena saya lahir lebih dulu dari mereka. Saya yakin, saya juga lebih berpengalaman dari mereka, karena . . . . . . saya kan lebih tua dari mereka. #huks

Saya sadar kemampuan saya, saya sadar keterbatasan saya, terlebih saya juga sadar bahwa mahasiswa saya pasti banyak yang lebih pintar dari saya. Hal terebut terbukti benar ketika saya mengajar Statistik di SBM-ITB.

Jujur saya, untuk statistik, saya hanya menguasai konsep dasarnya saja. Saya juga kadang gatau rumusnya apa, dan ternyata mahasiswa saya lebih menguasai rumus daripada saya.

Saya memang banyak menggunakan statistik untuk riset, tetapi saya selalu menggunakan software statistik untuk mengolah data, sehingga ketika diminta menghitung manual, terkadang saya juga lupa bagaimana caranya, dan sekali lagi, ternyata mahasiswa saya jauh lebih jago menghitung manual daripada saya.

Untuk urusan hitung-menghitung manual dan menggunakan rumus, saya yakin mereka lebih hebat dari saya. Terkadang saya juga tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan kepada saya. Dan jawaban saya adalah: “Gatau!!!”

Mungkin saya adalah dosen yang paling sering menjawab ‘gatau’ kalo ditanya. Kalo saya gatau yach saya jawab aja gatau. Saya gamau menjawab asal alias sotoy, dan akhirnya menyesatkan mereka.

Saya selalu berkata, “Saya ga janji bahwa saya bisa jawab semua pertanyaan kalian. Kalo saya gatau yach saya bilang gatau. Tapi saya janji satu hal, bahwa ketika saya gatau jawaban dari pertanyaan kalian, saya akan cari tahu jawabannya, lalu memberitahukannya kepada kalian.”

Dan hasilnya . . . ternyata ketidaktahuan saya tersebut toh tidak membuat mereka tidak respect kepada saya. Thank you aLL!!!

———

Bagi saya pribadi, kelas Tutorial Statistik di SBM-ITB berhasil meninggalkan kesan yang cukup dalam. Walaupun di kelas ada beberapa mahasiswa yang males-malesan, ga serius belajar, yang bandel dan susah diatur, tetapi ternyata di kelas saya juga ada beberapa mahasiswa yang berhasil meraih IPK tertinggi se-angkatan.

Ini adalah kali pertama saya mengajar, dan saya sedikit mengalami kesulitan ketika harus menangani kelas yang kemampuan mahasiswanya sedikit ‘jomplang’. Beberapa mahasiswa dengan IPK terbaik ada di kelas saya, dan mungkin juga beberapa mahasiswa dengan IPK terendah ada di sana. Di kelas saya ada sekumpulan kecil mahasiswa yang rajinnya ampun-ampunan, di lain sisi ada juga sekelompok mahasiswa yang malesnya kelewatan. Ketika sekelompok mahasiswa yang sudah mengerti terus-terusan bertanya agar dapat mengerti lebih dalam lagi, sekelompok mahasiswa lainnya (yang saya yakin mereka tidak paham sama sekali) malah diam khusyuk (karena mungkin mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus ditanyakan).

Sebenarnya, saya berharap mereka semua bisa mendapatkan hasil yang maksimal, kalo bisa sich semua nilainya A, AB, dan B. Tapi kalo sudah begini keadaannya, saya kuatir beberapa orang bisa jadi ga lulus.

Saya sadar yang saya ajarkan adalah mata kuliah Statistik, yang membutuhkan logika, pengertian, dan latihan. Menghadapi kondisi seperti ini, terpaksa saya berkali-kali mengganti metode pengajaran saya, dan sepertinya metode tersebut cukup sukses (cukup sukses buat saya loh yach, kalo buat mereka sich saya gatau). Tetapi, apapun itu, saya rasa hasil akhirnya cukup memuaskan (cukup fair dengan hasil kerja keras mereka). Jika sudah begini, jadi lega rasanyaaa… #hufff

Actually, “I cannot teach anybody anything, I can only make them think.” ~ Socrates

———

Jika di atas saya telah menuliskan sedikit kesan-kesan saya untuk mahasiswa tingkat 1 di SBM-ITB yang saya ajar, berikut juga dilampirkan sedikit kesan-kesan dari mereka untuk saya:

**silakan klik untuk memperbesar gambar**

1F_01

1F_03

1F_02

———

Seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, di kelas saya ada beberapa mahasiswa yang meraih IPK tertinggi se-angkatan. Tepatnya, di angkatan tersebut, hanya ada 2 mahasiswa yang berhasil meraih IPK 4, dan keduanya ada di kelas saya. What a coincidence?!

Pastinya 2 orang mahasiswa ini menarik perhatian saya. Saya yakin untuk mata kuliah Statistik, nilai mereka akan menjadi yang tertinggi.

Satu-satunya yang dapat membuktikan dugaan saya tersebut adalah dengan membandingkan nilai quiz, UTS, dan UAS mereka, karena ketiga komponen nilai tersebut memiliki standar penilaian yang sama untuk setiap kelas.

Akhir semester pun tiba, dan ketika saya melihat nilai-nilai mereka, . . . ternyata dugaan saya tersebut salah donk!!! Mereka tidak pernah meraih nilai tertinggi. Padahal, jika saya perhatikan, 2 orang ini sangatlah ambisius dalam mendapatkan nilai terbaik. Mereka juga sangat rajin dalam mengerjakan PR mingguan yang banyaknya aduhai. Pertanyaannya: Koq bisa?!

 Berikut saya lampirkan ilustrasi nilai mereka (bukan nilai sebenarnya):

ilustrasi nilai

Misalkan saja, bobot penilaian untuk tugas, quiz, UTS, dan UAS masing-masing besarnya sama, yaitu 25%, maka nilai akhir dan grade-nya dapat dilihat pada tabel di atas.

Si A adalah mahasiswa dengan IPK terbaik tersebut. Walaupun dia tidak pernah mendapatkan nilai tertinggi, tetapi ternyata dia tetap mendapatkan grade A untuk mata kuliah (yang sangat pelit nilai) ini. Mengapa? Karena dia KONSISTEN selalu mendapatkan nilai minimal 85 (yang merupakan batas bawah untuk meraih grade A).

Ternyata, untuk meraih apa yang kita cita-citakan, kita tidak perlu menjadi yang terbaik. Kita cukup KONSISTEN saja melakukan usaha terbaik yang kita bisa.

Mungkin sesekali kita pernah jatuh, tetapi jangan pernah kecewa dengan hal tersebut. Fokuslah pada tujuan jangka panjang kita dan tetap konsisten melakukan yang terbaik. Percayalah bahwa kita pasti bisa.

———

Saya yakin bahwa semester ini mata kuliah Statistik menjadi salah satu mata kuliah yang terberat. Bayangkan saja, setiap minggunya mahasiswa harus mengerjakan tugas hitung-hitungan yang banyaknya aduhai. Jika tidak percaya mari kita berhitung:

12 minggu x 20 soal/minggu x 5 sub-soal (tiap soal beranak pinak jadi a, b, c, d, e, dsb.) = kurang lebih jadi 1.200 soal

Woowww… Angka yang fantastis kan?!

Ditambah lagi, di setiap pertemuan, mereka diwajibkan aktif mengerjakan soal-soal latihan di papan tulis untuk mendapatkan nilai partisipasi. Belum lagi masih ada tugas membuat video, dsb. #hufff

Tentunya tim pengajar berharap bahwa dengan adanya tugas-tugas yang diberikan tersebut mampu membuat mahasiswa mengerti dan memahami tentang statistik. Tetapi nyatanya, ternyata banyak juga mahasiswa yang nyontek PR ke teman-temannya. Yach wajarlah yach, mengingat soal-soal PR Statistik yang banyak, susah, plus waktu pengerjaan yang minim, belum lagi ditambah dengan tugas-tugas dari mata kuliah lain yang banyaknya juga aduhai.

Walaupun demikian, ternyata beberapa orang (yang saya yakin memiliki IPK terbaik) tetap konsisten berusaha mengerjakan PR-nya sendiri (walaupun mungkin mereka juga kemudian jadi stress sendiri). Mereka juga rajin maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Maklum lah anak-anak ambisius.

Jika saya perhatikan, para mahasiswa yang berusaha mengerjakan PR-nya sendiri ini ternyata mampu meraih nilai ujian yang baik, dan sebagai hasilnya, grade mereka juga baik donk, kalo ga A yach AB atau B lah. Lumayan kan?!

Sekali lagi, dari mereka saya belajar bahwa untuk meraih hasil yang maksimal, maka kita harus konsisten latihan. Fokuslah pada proses, jangan hanya pada hasil akhirnya. Mengapa?! Karena jika kita menjalani prosesnya dengan baik, maka kita pun akan mendapatkan hasil akhir yang baik. Tetapi, jika kita tidak mau berjuang pada proses yang seharusnya kita lalui, maka hasil akhirnya pun akan menjadi tidak maksimal.

Dan saya akan menutup postingan kali ini dengan quote berikut:

“Practice doesn’t make perfect.
Only perfect practice makes perfect.”

Itulah sedikit pelajaran berharga yang saya dapatkan selama 1 semester mengajar.

^_^V

Are you on the ‘right’ path?

Sukses adalah keadaan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Namun, kebanyakan orang dalam hidup ini tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka inginkan.

which path

Tidak terasa enam tahun sudah saya lulus dari S1 FE UNPAR. Dan selama itu pula saya telah banyak membantu teman-teman mahasiswa (angkatan bawah saya) dalam menyelesaikan skripsinya yang bermasalah.

Sebagai seorang pembimbing, saya rasa sikap saya cukup keras. Terkadang saya suka marah-marah kepada mereka. Sering juga saya memberikan tugas yang banyaknya . . . yach gitu dech. Namun demikian, puji Tuhan, dengan arahan saya, akhirnya mereka semua bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. ^_^V

Setelah lulus, tentunya mereka semua berterima kasih kepada saya. Beberapa orang menceritakan bagaimana rencananya ke depan. Ada yang ingin langsung married dan jadi ibu rumah tangga, ada yang berencana bekerja di perusahaan asing, ada yang berniat untuk melanjutkan S2, dan banyak lagi cita-cita lainnya.

Apapun itu, saya sadar bahwa yang namanya kelulusan bukanlah akhir dari pembelajaran, justru itulah awal dari perjalanan hidup yang sesungguhnya. Jadi, yach saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka, semoga apa yang mereka cita-citakan selama ini bisa menjadi kenyataan.

Singkat cerita, sekitar 3 sampai 6 bulan setelah kelulusan, ternyata ada beberapa orang dari mereka yang jadi galau, lalu menghubungi saya untuk curhat tentang pergumulannya, yang ternyata isinya mirip-mirip. And, the frequently asked question is:

Saat ini saya sudah bekerja di Perusahaan X . . . . . . . ATAU memiliki usaha sendiri . . . . . . . ATAU mereka menceritakan kondisinya saat ini.

Sebenernya itu adalah keinginan saya sendiri . . . . . . . ATAU keinginan orang tua saya.

Akan tetapi, saat ini saya bingung, saya gatau apakah jalan yang sedang saya jalani sekarang itu merupakan jalan yang benar atau bukan. Saya takut salah. Kalo bukan, lalu gimana donk cara cari tahu jalan mana yang benar dalam hidup saya?!

Honestly speaking, sebenarnya hal serupa juga sempat terbersit dalam pikiran saya beberapa waktu yang lalu. Saya merasa seakan di dalam hidup ini saya sedang mendayung sebuah perahu di tengah danau. Ketika kabut kehidupan datang, saya menjadi buta arah. Namun saya pantang menyerah, saya tetap mendayung perahu kehidupan tersebut agar bisa segera mendarat aman ke tepian. Dan pertanyaan yang kemudian muncul adalah:

Am I on the right path?!

Sebelum saya melanjutkan pembahasan, terlebih dahulu saya ingin mengajak kita semua untuk menyaksikan video berikut:

Link video: http://www.youtube.com/watch?v=vuntaZJBcfI

Sebuah video yang singkat, namun isi pesannya cukup untuk membuka pikiran saya. Hal serupa juga sempat dibahas oleh Merry Riana melalui artikel di blog-nya, yang judul tulisannya saya gunakan sebagai judul pada postingan kali ini. Berikut isinya:

I would like to start by sharing with you this very beautiful poem:

When things go wrong, as they sometimes will,
When the road you’re trudging seems all up hill,
When the funds are low, and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit,
Rest if you must, but don’t you quit.

Yes! You know you mustn’t quit, but sometimes when your life isn’t easy right now or nothing seems to be going according to what you want, you might be wondering and ask yourself whether am I doing the right thing in my life? Am I in the right path? And how do I know whether I am in the right path?

I might not have the exact answer for you, but I can give you my opinion.

Ask yourself this question: “How many right path do you think is available out there?”

Well, my question probably make you think for a while. Why?

Simply because a lot of people normally have the assumption that there is only one ‘right’ path to walk. And if we believe there is only one ‘right’ path, then we are also assuming that there are many ‘wrong’ path too. Given these odds, there is more likely that most people are on one of those ‘wrong’ path, including us. Seems like bad news isn’t it??

Well, fortunately, that is not right. The truth is everything in your life is unfolding in perfect order. Or in another word, everything is on schedule. Any ‘wrongness’ you see in your current path doesn’t make the path intrinsically wrong. It’s so-called wrongness only comes from your expectations about what ‘should’ be happening or unfolding on your path instead of what actually IS happening.

Even the ‘right’ road-to-happiness has it’s obstacles.

So, believe me when I said that where you are now is perfect. Because this is where you are supposed to be. You are on your path now. Whatever bad situation that is happening to you right now, don’t see it as troubled. Just let it go and let go of the attachment to how things ‘should’ be. As you become more trusting of life, you relax into it more and resist it less.

Stop demanding that things go a certain way and have them be the way they are. Things will work out. In fact, things are working out now. To help you feel better, always believe that things are happening FOR us rather than TO us. This means that no matter how painful or uncomfortable things may be, it is all there for our growth and edification.

If not because of the financial crisis and unstable political situation back in Jakarta in 1998, I wouldn’t be in Singapore.

If I came from a very well to do family, I wouldn’t have so BIG drive and motivation to achieve the current success that I achieved today.

If ‘X’ company never reject my scholarship application back then in my second year in University, I would never start my entrepreneurship journey (because I have to served bond working few years in that ‘X’ company, and probably by now I will still be a normal employee).

If I didn’t loss almost all my savings in the stock market, I wouldn’t even try to go to sales and make my first million from there.

There were many unfortunate things happened to my life. But I know that everything happen for a reason and those things happened FOR me.

Sometimes the road gets rough, but don’t give up. You’ve got to keep on moving. Ask yourself: “What can I learn and discover from this situation?”, and ask: “How can I move forward in the most positive way?”

I would like to end this by writing the remaining poem that I shared with you earlier:

Life is queer with it’s twists and turns,
As everyone of us sometimes learns,
And many a failure turns about,
When he might have won had he stuck it out.
Don’t give up though the pace seems slow,
You may succeed with another blow.

Success is failure turned inside out,
The silver tint of the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems so far,
So stick to the fight when you’re hardest hit,
It’s when things seem worse, That you must not quit.

Source: www.merryriana.co.id

Saat itu saya merasa bahwa saya sedang terdampar di tengah danau yang berkabut, tak tahu arah ke mana saya harus mendayung. Tetapi satu hal yang akhirnya saya sadari, bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan saya, entah itu hal baik atau buruk, saya yakin saya sedang berada di jalur yang benar. Sekarang saya tahu bahwa jalan yang benar itu tidak hanya ada satu. Itulah sebabnya mengapa ada pepatah kuno yang berkata bahwa ada banyak jalan menuju ke Roma.

Yes, I’m still on the right path!!!