Tugas Pra UAS PMP (Akun)

Dear all,

Berikut dilampirkan file untuk tugas Pra UAS PMP, silakan download di sini.

Good luck.

Regards,

Ivan Prasetya

Perenungan yang dalam tentang Teman Hidup

Pada postingan kali ini, saya hanya ingin share beberapa postingan Facebook yang ditulis beberapa tahun yang lalu. Topiknya tentu saja sesuai dengan judul postingan.

Ditulis pada 22 Juni 2012:

Intinya, kalo mau dapet ceweq, pertama-tama harus KERJA doeloe wkwkwk…

[Kej 2: 15] TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

[Kej 2: 18] TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Jadi, pertama-tama harus kerja dulu.

[Kej 2:19] Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

[Kej 2:20] Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

=======

Selanjutnya, baru dech dapet ceweq wkwkwk…

[Kej 2: 21] Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

[Kej 2: 22] Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

[Kej 2: 23] Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

Ditulis pada 3 Januari 2014:

Setelah bertapa dari pagi, saya baru ngerti sekarang apa arti sebenarnya dari ayat ini:

“It’s not good for the Man to be alone; I’ll make him a helper, a companion.” ~ Genesis 2: 18

Actually, The LORD God said ‘alone’, NOT ‘single’.

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan.” ~ Kejadian 2: 18

Dalam versi bahasa Indonesia, dikatakan bahwa TIDAK BAIK jika manusia itu SEORANG DIRI SAJA. Ini menegaskan bahwa MANUSIA ADALAH MAKHLUK SOSIAL.

Dan sebagai makhluk sosial, manusia merupakan makhluk yang lemah. Kita tidak memiliki bulu lebat untuk melindungi kita dari suhu panas dan dingin seperti beruang. Tidak memiliki cakar dan gigi yang tajam seperti harimau. Tidak memiliki kegesitan seperti serigala.

Berbeda dengan hewan yang setelah lahir anaknya bisa langsung berdiri dan berlari, atau hewan lainnya yang hanya membutuhkan waktu beberapa bulan bagi anaknya untuk bisa bertahan hidup, manusia sangatlah rapuh.

Bayi manusia membutuhkan waktu BERTAHUN-TAHUN untuk bisa bertahan hidup dan mengurus dirinya sendiri. Bayi manusia membutuhkan ORANG LAIN di luar dirinya (orang tuanya) untuk mengurusinya, memberinya makan, dan merawatnya.

Bayi belajar berbicara dari orang lain. Belajar menghitung dari orang lain. Belajar cara bersikap dan berinteraksi dari orang lain. Belajar mana yang boleh dilakukan dan yang mana tidak boleh dilakukan, semuanya dari orang lain.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan: Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain. Dan justru karena itulah manusia akhirnya menjadi spesies paling maju di muka bumi.

Jadi, kesimpulannya ayat tersebut tidak mengharuskan kita untuk berpasangan, tetapi untuk memperluas pergaulan (baca: memiliki kehidupan sosial yang baik).

Postingan tanggal 29 Desember 2016:

Pernikahan

My Bucket List

Few years ago, I came across someone’s bucket list while surfing the internet. It quickly inspired me to create my own list, but I never write it down until now. So lazy me HaHaHa…

So, here is my bucket list, where I list all 101 things I want to do, feel, experience, see, and achieve before I die (or before the world ends). Actually, on this bucket list, I don’t write anything that I’ve already achieved before, such as: travelling alone to many countries, solo hiking, swim with little sharks, visit world’s tallest tower, visit Harajuku, take photos with Hachiko, biking in snow, see Penguins, etc.

I will continuously update it as I complete current items.

=========

[1] ride at least 10 world’s record-breaking roller coaster from around the world (by Aug 2011: 5 – T Express, Fujiyama, Eejanaika, Dodonpa, Takabisha)

[2] fly in a hot-air balloon

[3] win a main prize (min. IDR 100.000.000)

[4] pack my bags and set off for a random location with no itinerary for at least 10 days

[5]  live in 3 different countries for at least six months (by Sept 2011: 1 – Japan)

[6] skiing & snowboarding (I’ve already plan for both on 20 March 2011, but unfortunately it was tsunami in Japan on 11 March 2011, so I canceled it.)

[7] try out vegetarianism for 1 months

[8] increase my TOEFL score (passing at least 650)

[9] get my Doctorate Degree/PhD Program in U.K. (by Dec 2017)

[10] travel to Europe

[11] travel to U.S.& Antarctica

[12] travel to Australia

[13] visit all Disney Park around the world

[14] try Bungee Jumping

[15] go on a cruise vacation

[16] climb Mt. Mahameru (inspired by 5cm)

[17] become a CEO of a big company (past: vice director)

[18] visit all ASEAN countries

[19] experience zero gravity

[20] do public speaking in front of 2.500 people or more

[21] build my dream home

[22] see Cherry Blossoms/Sakura in Japan, Korea, and China (by March 2011: Japan)

[23] see a Monalisa in Louvre and taking photos of Eiffel

[24] learn graphology

[25] publish at least 10 SCOPUS Indexed Journals (by Dec 2025)

[26] publish at least 50 Proceedings (by Dec 2020)

[27] try to launch my own company on Jan 2016

[28] try indoor skydive

[29] learning archery

[30] play golf

[31] feed a Koala Bear

[32] feed a King Penguin

[33] see a Kangaroo

[34] swim with Dolphins

[35] try horseback riding

[36] swim with sea turtles

[37] meet the President

[38] write and publish 5 books (on progress: 1 book)

[39] collect a set of LEGO

[40] collect a set of Tomica

[41] eat at a Michelin 3-star Restaurant (hopefully Jiro Sushi)

[42] complete a 1.500 pieces Jigsaw Puzzle

[43] learn photography

[44] race a Go-Kart

[45] ride a Camel

[46] ride on a Limousine

[47] solve Rubik’s Cube in less than 150 seconds

[48] ride on 3 world’s record-breaking cable car (by Okt 2014: world’s steepest cable car in Langkawi)

[49] sleep in a Capsule Hotel

[50] sleep in a treehouse

[51] take a train cross country

[52] touch a Pyramid

[53] take a picture from helicopter

[54] attend the Songkran Festival in Bangkok

[55] watch 100.000 shots fireworks (or more)

[56] ride in a Gondola in Venice

[57] eat in the Underwater Hotel (Maldives)

[58] eat in the Waterfall Restaurant (Phillipines)

[59] be invited to speak overseas

[60] walk across a desert

[61] visit The Leaning Tower of Pisa

[62] firewalking

[63] witness a meteor shower

[64] have a MINI Cooper

[65] have a mentor

[66] visit 30 UNESCO World Heritage Sites

[67] take selfie picture at The Great Wall

[68] sleep in an Iglo

[69] master Poker and win big at the Casino

[70] obtain some professional certifications

[71] be a member af an exclusive club

[72] build a sand castle

[73] get married with the one I love

[74] participate in a marathon race

[75] fly first class

[76] visit a ghost town

[77] visit Stone Henge

[78] visit Easter Island Heads Statue

[79] experience the London Eye

[80] attend Anthony Robbins’ seminar and meet him in person

[81] train a dog and win a medal

[82] honeymoon in Paris

[83] be a master in Statistics

[84] visit Komodo National Park

[85] explore Bali

[86] play tennis

[87] record a song

[88] attend a masquerade

[89] visit all about Hello Kitty places (by Aug 2011: Hello Kitty Cafe – Korea, Sanrio Puroland & Hello Kitty Stores – Japan)

[90] ride on a dog sled

[91] meet someone with my own name

[92] get into the Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI)

[93] be in a movie or on TV

[94] throw a boomerang

[95] take photos with Mr. Bean

[96] become a brand consultant

[97] reduce sugar intake

[98] learn to meditate

[99] achieve financial freedom

[100] get healthy and reach 100 years of age

[101] have a romantic getaway at an exotic location

Bagaimana Cara Mengukur Market Demand?!

Saat ini saya sedang menyiapkan materi kuliah tentang pengukuran ‘market demand’ dan langsung saja saya teringat akan artikel berikut yang beberapa waktu lalu juga pernah saya post di http://www.b0chun.com/blog/

Jawaban ini didapat dari mailing list-nya Majalah MARKETING. Ada seseorang yang menanyakan bagaimana cara mengukur market demand dan inilah jawabannya. Penjelasan yang sangat baik menurutku.

…….

Dear Pak Yus,

Saya ingin memberikan pendapat sedikit mengenai email bapak.

Sebelum masuk ke cara pengukuran, ada tiga kata kunci yang perlu di ketahui, yaitu:

  1. market size: jumlah total seluruh penduduk Jakarta (misalnya scope distribusinya adalah Jakarta) yang dapat menggunakan produk/jasa kita
  2. market demand: persentase dari market size atau jumlah total seluruh penduduk jakarta, yang INGIN menggunakan produk/jasa kita
  3. market potensial: persentase dari market demand, yang INGIN dan secara FINANSIAL mampu menggunakan produk/jasa kita

Untuk pengukurannya, bisa dengan desk research (data sekunder) atau market research (data primer).

Jika menggunakan market research, maka bapak menentukan respondent criteria yang sesuai dengan target market produk bapak (berdasarkan demografi, psikografi, dll) dan melakukan survey dengan metode random sampling agar dapat diproyeksikan ke total populasi.

Dari data tersebut maka bapak akan mendapatkan market size, market demand, market potential, bahkan behavior target market.

Tetapi itu akan membutuhkan biaya yang cukup mahal dan mengenai pelaksanaannya silahkan serahkan ke reseacrh agency yang profesional.

Atau bapak juga dapat melakukan dengan cara yang lebih murah, yaitu mengambil data dari BPS.

Dan memecah data BPS tersebut sesuai dengan target market produk bapak.

Semakin spesifik bapak memecah data BPS, maka bisa mendapatkan gambaran mulai dari market size hingga market potensial.

Tapi dari data BPS ini kita tidak bisa mendapatkan U&A ataupun behavior dari target market kita.

Semoga membantu .. have a good day

Regards, Tria Septariana

…….

Salam MC-ers,

Pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan. Mengukur market size ataupun market demand menjadi tugas mutlak seorang marketer sebelum meluncurkan (launching) sebuah produk atau jasa.

Dahulu, sebelum PT. Aqua Golden Mississippi (AGM) memutuskan untuk menjual air mineral dalam kemasan (AMDK), mereka tentu saja harus memiliki keyakinan akan potensi pasar yang ada (baca: market demand). Saat itu, sebagian besar masyarakat masih beranggapan akan sangat sulit (bukan tidak mungkin) untuk menjual air yang dikemas lebih mahal dari 1 liter minyak tanah atau mungkin 1 liter solar, mungkin kita pun termasuk orang yang pesimis waktu itu….

Dengan data dan informasi yang dimiliki mengenai rendahnya kualitas AIR TANAH khususnya di kota-kota besar serta dan semakin hari semakin berkurangnya kualitas AIR PAM, membuat para petinggi PT AGM semakin optimis.

Mereka mulai menghitung potensi pasar… Caranya : Jumlah penduduk Kota besar DIKALI 2 Liter (minimal Kebutuhan Air Per hari) DIKURANG Penduduk yang tidak mampu beli DIKURANG Penduduk yang tidak mau beli, dan terakhir mungkin DIKURANGI dengan jumlah penduduk yang masih memperoleh air bersih dan sangat layak minum.

Perolehan Jumlah tersebut bisa ditambahkan lagi dengan berbagai aktivitas promosi untuk mempengaruhi perilaku konsumen, misalnya:

  • Bawa Air Dalam Kemasan saat perjalanan, masa sih harus bawa-bawa termos air
  • Minum Air Dalam Kemasan setelah berolah raga
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk memasak
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk membuat susu bayi
  • Gunakan Air Dalam Kemasan untuk orang yang sedang sakit, dan berbagai bentuk kegiatan lainnya.
  • Bahkan sempat PT AGM menyarankan untuk menggunakan AQUA sebagai pengisi air radiator kendaraan mewah.

Contoh lainnya:

Jika produk anda adalah Shock Breaker Motor, caranya adalah : jumlah Motor yang terjual setiap tahunnya = 5.000.000 unit Usia rata-rata motor di jalanan = 6 tahun Rata-rata usia penggantian Shock breaker = 3 tahun Maka potensi market anda adalah : 5jt * 6 thn – 3 tahun = 15.000.000 unit per tahun

Cara menghitungnya adalah 5juta kendaraan dikalikan usia rata-rata 6 tahun jadi jumlah kendaraan yang beredar saat ini adalah 5jt X 6 = 30.000.000 kendaraan. Namun karena Shock breaker yang rusak baru setelah 3 tahun, maka artinya ada sebanyak 15.000.000 (5jt X 3thn) yang belum menjadi potensi pasar. Maka, jika jumlah kendaraan yang beredar sebanyak 30jt dikurangi 15jt yang belum menjadi potensi pasar maka sisanya adalah 15jt

Lebih jauh:

Hitung jumlah pemain (penjual SB) yang ada, lalu hitung kapasitas produksi masing-masing perusahaan tersebut. Nah, Anda bisa melihat apakah pasar tersebut sudah over capacity atau masih memadai.

Anda juga bisa mencari ceruk pasar yang berbeda, misalnya khusus menjual Shock breaker aksesoris, dimana orang mengganti shock breaker bukan karena rusak tapi karena mengikuti model.

Salam, Sukardi Arifin Majalah Marketing

When I Become a Sensei

Banyak orang beranggapan bahwa arti sensei adalah guru/dosen. Namun ternyata, di Jepang sendiri kata sensei tidak hanya digunakan untuk memanggil guru/dosen saja, tetapi juga merupakan sebutan untuk memanggil dokter, pengacara, politisi, penulis buku, musisi, artis, dan sebagainya. #woowww

Jika demikian, apa sebenarnya arti dari ‘sensei’?

Kata sensei sendiri terdiri dari dua karakter yang diambil dari karakter China 先生 (xiānshēng):

  1. (sen): lebih dahulu
  2. (sei): terlahir/hidup

Jadi, secara harafiah, sensei adalah ‘orang yang terlahir atau hidup lebih dahulu’ (person born before another).

———

Semester genap 2013/2014 ini, saya resmi mencicipi bagaimana rasanya mengajar di SBM-ITB dan FE UNPAR. Dan sebagai seorang lulusan Jepang, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa yang saya ajar, bahwa saya ingin mereka menganggap saya sebagai sensei.

Saya ingin mereka semua tahu, bahwa saat ini saya bisa berdiri di depan mereka dan mengajar mereka itu bukan karena saya lebih hebat dan lebih pintar dari mereka. Bukan!!! Saya bisa berdiri di depan mereka tak lebih karena dulu saya pernah belajar materi yang sama seperti yang saya ajarkan sekarang. Mengapa bisa?! Yach, tak lain karena saya lahir lebih dulu dari mereka. Saya yakin, saya juga lebih berpengalaman dari mereka, karena . . . . . . saya kan lebih tua dari mereka. #huks

Saya sadar kemampuan saya, saya sadar keterbatasan saya, terlebih saya juga sadar bahwa mahasiswa saya pasti banyak yang lebih pintar dari saya. Hal terebut terbukti benar ketika saya mengajar Statistik di SBM-ITB.

Jujur saya, untuk statistik, saya hanya menguasai konsep dasarnya saja. Saya juga kadang gatau rumusnya apa, dan ternyata mahasiswa saya lebih menguasai rumus daripada saya.

Saya memang banyak menggunakan statistik untuk riset, tetapi saya selalu menggunakan software statistik untuk mengolah data, sehingga ketika diminta menghitung manual, terkadang saya juga lupa bagaimana caranya, dan sekali lagi, ternyata mahasiswa saya jauh lebih jago menghitung manual daripada saya.

Untuk urusan hitung-menghitung manual dan menggunakan rumus, saya yakin mereka lebih hebat dari saya. Terkadang saya juga tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan kepada saya. Dan jawaban saya adalah: “Gatau!!!”

Mungkin saya adalah dosen yang paling sering menjawab ‘gatau’ kalo ditanya. Kalo saya gatau yach saya jawab aja gatau. Saya gamau menjawab asal alias sotoy, dan akhirnya menyesatkan mereka.

Saya selalu berkata, “Saya ga janji bahwa saya bisa jawab semua pertanyaan kalian. Kalo saya gatau yach saya bilang gatau. Tapi saya janji satu hal, bahwa ketika saya gatau jawaban dari pertanyaan kalian, saya akan cari tahu jawabannya, lalu memberitahukannya kepada kalian.”

Dan hasilnya . . . ternyata ketidaktahuan saya tersebut toh tidak membuat mereka tidak respect kepada saya. Thank you aLL!!!

———

Bagi saya pribadi, kelas Tutorial Statistik di SBM-ITB berhasil meninggalkan kesan yang cukup dalam. Walaupun di kelas ada beberapa mahasiswa yang males-malesan, ga serius belajar, yang bandel dan susah diatur, tetapi ternyata di kelas saya juga ada beberapa mahasiswa yang berhasil meraih IPK tertinggi se-angkatan.

Ini adalah kali pertama saya mengajar, dan saya sedikit mengalami kesulitan ketika harus menangani kelas yang kemampuan mahasiswanya sedikit ‘jomplang’. Beberapa mahasiswa dengan IPK terbaik ada di kelas saya, dan mungkin juga beberapa mahasiswa dengan IPK terendah ada di sana. Di kelas saya ada sekumpulan kecil mahasiswa yang rajinnya ampun-ampunan, di lain sisi ada juga sekelompok mahasiswa yang malesnya kelewatan. Ketika sekelompok mahasiswa yang sudah mengerti terus-terusan bertanya agar dapat mengerti lebih dalam lagi, sekelompok mahasiswa lainnya (yang saya yakin mereka tidak paham sama sekali) malah diam khusyuk (karena mungkin mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus ditanyakan).

Sebenarnya, saya berharap mereka semua bisa mendapatkan hasil yang maksimal, kalo bisa sich semua nilainya A, AB, dan B. Tapi kalo sudah begini keadaannya, saya kuatir beberapa orang bisa jadi ga lulus.

Saya sadar yang saya ajarkan adalah mata kuliah Statistik, yang membutuhkan logika, pengertian, dan latihan. Menghadapi kondisi seperti ini, terpaksa saya berkali-kali mengganti metode pengajaran saya, dan sepertinya metode tersebut cukup sukses (cukup sukses buat saya loh yach, kalo buat mereka sich saya gatau). Tetapi, apapun itu, saya rasa hasil akhirnya cukup memuaskan (cukup fair dengan hasil kerja keras mereka). Jika sudah begini, jadi lega rasanyaaa… #hufff

Actually, “I cannot teach anybody anything, I can only make them think.” ~ Socrates

———

Jika di atas saya telah menuliskan sedikit kesan-kesan saya untuk mahasiswa tingkat 1 di SBM-ITB yang saya ajar, berikut juga dilampirkan sedikit kesan-kesan dari mereka untuk saya:

**silakan klik untuk memperbesar gambar**

1F_01

1F_03

1F_02

———

Seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, di kelas saya ada beberapa mahasiswa yang meraih IPK tertinggi se-angkatan. Tepatnya, di angkatan tersebut, hanya ada 2 mahasiswa yang berhasil meraih IPK 4, dan keduanya ada di kelas saya. What a coincidence?!

Pastinya 2 orang mahasiswa ini menarik perhatian saya. Saya yakin untuk mata kuliah Statistik, nilai mereka akan menjadi yang tertinggi.

Satu-satunya yang dapat membuktikan dugaan saya tersebut adalah dengan membandingkan nilai quiz, UTS, dan UAS mereka, karena ketiga komponen nilai tersebut memiliki standar penilaian yang sama untuk setiap kelas.

Akhir semester pun tiba, dan ketika saya melihat nilai-nilai mereka, . . . ternyata dugaan saya tersebut salah donk!!! Mereka tidak pernah meraih nilai tertinggi. Padahal, jika saya perhatikan, 2 orang ini sangatlah ambisius dalam mendapatkan nilai terbaik. Mereka juga sangat rajin dalam mengerjakan PR mingguan yang banyaknya aduhai. Pertanyaannya: Koq bisa?!

 Berikut saya lampirkan ilustrasi nilai mereka (bukan nilai sebenarnya):

ilustrasi nilai

Misalkan saja, bobot penilaian untuk tugas, quiz, UTS, dan UAS masing-masing besarnya sama, yaitu 25%, maka nilai akhir dan grade-nya dapat dilihat pada tabel di atas.

Si A adalah mahasiswa dengan IPK terbaik tersebut. Walaupun dia tidak pernah mendapatkan nilai tertinggi, tetapi ternyata dia tetap mendapatkan grade A untuk mata kuliah (yang sangat pelit nilai) ini. Mengapa? Karena dia KONSISTEN selalu mendapatkan nilai minimal 85 (yang merupakan batas bawah untuk meraih grade A).

Ternyata, untuk meraih apa yang kita cita-citakan, kita tidak perlu menjadi yang terbaik. Kita cukup KONSISTEN saja melakukan usaha terbaik yang kita bisa.

Mungkin sesekali kita pernah jatuh, tetapi jangan pernah kecewa dengan hal tersebut. Fokuslah pada tujuan jangka panjang kita dan tetap konsisten melakukan yang terbaik. Percayalah bahwa kita pasti bisa.

———

Saya yakin bahwa semester ini mata kuliah Statistik menjadi salah satu mata kuliah yang terberat. Bayangkan saja, setiap minggunya mahasiswa harus mengerjakan tugas hitung-hitungan yang banyaknya aduhai. Jika tidak percaya mari kita berhitung:

12 minggu x 20 soal/minggu x 5 sub-soal (tiap soal beranak pinak jadi a, b, c, d, e, dsb.) = kurang lebih jadi 1.200 soal

Woowww… Angka yang fantastis kan?!

Ditambah lagi, di setiap pertemuan, mereka diwajibkan aktif mengerjakan soal-soal latihan di papan tulis untuk mendapatkan nilai partisipasi. Belum lagi masih ada tugas membuat video, dsb. #hufff

Tentunya tim pengajar berharap bahwa dengan adanya tugas-tugas yang diberikan tersebut mampu membuat mahasiswa mengerti dan memahami tentang statistik. Tetapi nyatanya, ternyata banyak juga mahasiswa yang nyontek PR ke teman-temannya. Yach wajarlah yach, mengingat soal-soal PR Statistik yang banyak, susah, plus waktu pengerjaan yang minim, belum lagi ditambah dengan tugas-tugas dari mata kuliah lain yang banyaknya juga aduhai.

Walaupun demikian, ternyata beberapa orang (yang saya yakin memiliki IPK terbaik) tetap konsisten berusaha mengerjakan PR-nya sendiri (walaupun mungkin mereka juga kemudian jadi stress sendiri). Mereka juga rajin maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Maklum lah anak-anak ambisius.

Jika saya perhatikan, para mahasiswa yang berusaha mengerjakan PR-nya sendiri ini ternyata mampu meraih nilai ujian yang baik, dan sebagai hasilnya, grade mereka juga baik donk, kalo ga A yach AB atau B lah. Lumayan kan?!

Sekali lagi, dari mereka saya belajar bahwa untuk meraih hasil yang maksimal, maka kita harus konsisten latihan. Fokuslah pada proses, jangan hanya pada hasil akhirnya. Mengapa?! Karena jika kita menjalani prosesnya dengan baik, maka kita pun akan mendapatkan hasil akhir yang baik. Tetapi, jika kita tidak mau berjuang pada proses yang seharusnya kita lalui, maka hasil akhirnya pun akan menjadi tidak maksimal.

Dan saya akan menutup postingan kali ini dengan quote berikut:

“Practice doesn’t make perfect.
Only perfect practice makes perfect.”

Itulah sedikit pelajaran berharga yang saya dapatkan selama 1 semester mengajar.

^_^V