Archive for January 20th, 2009

Jan 20 2009

Pertimbangan perusahaan untuk memasang iklan

Published by b0chun under All about MARKETING!!!

 [MC-ers] apa yang menjadi standar perusahaan untuk memasang iklan pada sebuah media cetak?

…….

Standar yach???
Kalo saya jadi perusahaan yang mau pasang iklan sich saya pasti memperhatikan hal-hal berikut ini:
 
1. Apakah target market si majalah sama dengan target market bisnis saya…
Mungkin saya ingin mengiklankan produk PDA yang didesain khusus wanita… Maka sebagai pemilik majalah wanita mungkin Anda berpikir bahwa saya akan memasang iklan di majalah Anda…
Ooppsss… Sebentar dulu, walaupun sama-sama majalah wanita, tetapi ternyata ada majalah yang khusus menyasar untuk wanita karir, ibu rumah tangga, wanita yang menyukai shopping, dsb… Jadi intinya, apakah target majalah Anda sesuai dengan target market bisnis saya tidak… Jika majalah Anda ditujukan untuk ibu rumah tangga, jangan harap saya akan memasang iklan di majalah Anda, karena menurut saya hanya sedikit saja ibu rumah tangga (yang tidak meniti karier) yang mau menggunakan PDA…
 
2. frekuensi terbit majalah Anda berapa lama sekali???
Jika saya ingin memasang iklan tentang promo diskon yang hanya berlaku 1 hari saja ngapain juga saya pasang iklan di majalah Anda yang terbitnya 1 bulan sekali… Maka iklan yang dipajang selama 1 bulan pebuh itu akan menjadi useless…
Lebih baik dananya saya gunakan untuk memasang iklan di media cetak yang terbitnya harian…
 
3. cakupan media Anda seberapa besar???
Sama ga dengan cakupan target market bisnis saya…
 
4. biayanya berapa besar???
Sesuai ga sama budget perusahaan saya…
 
5. terbitnya berapa banyak???
Worth ga duid yang saya keluarin dengan apa yang akan saya dapat…
 
Hhmmm…
Apa lagi yach???
Saat ini baru segitu aja sich yang kepikiran, kalo misalnya ada lagi pertimbangannya nanti dech saya tambahin…
 
Terima kasih…

Ivan Prasetya

…….

Saya coba jawab pertanyaan nya, tapi mungkin tidak sempurna, nanti ada masukan lain dari teman-teman di milis ini.
Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal yang membuat advertiser ingin melakukan placement di suatu media, dalam hal ini di media cetak :
1. Target market suatu produk apakah sama dengan target audience media cetak.
2. Oplah / jumlah eksemplar
3. Jumlah Retur media cetak
4. Discount atau benefit lainnya
5. Jumlah Readership = diambil dari data Nielsen Media
6. content sebuah media cetak.

Sebagai advertiser, saya pernah datang ke beberapa lapak/toku buku lalu mengamati orang-orang yang membaca media cetak maupun membeli, saya kadang suka nanya mengapa mereka membeli media tsb, dan jawabannya bagus untuk insight kami sebagai advertiser. jadi mungkin bisa diciptakan suatu word of mouth untuk menciptakan “hype” media cetak tsb sehingga bisa dipilih seseorang utk membelinya. tapi Hype yg dimaksud dalam artian positif.

Mungkin itu masukan saya, mungkin ada masukan lainnya.
Terimakasih

Regards,
Toto

…….

Jika Anda punya pendapat lainnya, silakan post di sini…

Terima kasih…

4 responses so far

Jan 20 2009

Word of Mouth

Published by b0chun under All about MARKETING!!!

Dear MC-ers,

Word of Mouth atau biasa disingkat WOM, terkadang sering juga diartikan dengan sebutan “Marketing Lewat Mulut” (MLM-bukan Multi Level yaaa….) dan dalam bahasa jawa disebut “Gethok Tular”.

Mengapa banyak perusahaan tertarik dengan metode ini? Selain memang cukup efektif, namun menurut hemat saya, sebagian besar karena metode ini GRATIS, bukankah yang gratis banyak penggemarnya? Coba bandingkan dengan biaya komunikasi kepada konsumen yang harus dikeluarkan jika memilih menggunakan media lain seperti TV, Koran atau Billboard ?

Memperkenalkan produk atau Jasa dengan cara WOM, seyogyanya lebih pantas untuk produk/jasa yang sudah lama launching. Karena untuk produk baru, rata-rata belum memiliki base pelanggan, sehingga akan sangat lama untuk menjadi besar.

Dari banyak penelitian yang saya jalankan melalui SurveyOne, orang Indonesia akan menceritakan kepada sedikitnya 3 orang untuk hal-hal yang membuatnya senang atau puas. Namun, sebaliknya dia akan menceritakan kepada sedikitnya 15 orang untuk hal-hal yang membuatnya mengecewakan dan kepada sebanyak-banyaknya orang untuk hal-hal yang menjengkelkannya. ….!!!

Saya bahkan pernah mengomentari WOM dimilis ini dengan tulisan: “WOM laksana bola salju, jika dapat terus menggelinding maka semakin hari akan semakin besar bolanya dan semakin banyak orang yang bisa melihatnya. Namun jika bola tersebut berhenti menggelinding karena tersangkut dipohon atau dibebatuan, maka siapa yang akan mendorongnya agar dapat terus menggelinding?”

Menggunakan Metode WOM memiliki keuntungan dan Kerugian.

Kerugiannya :
1. Informasi tidak bisa dikontrol. Sehingga bisa saja hal Biasa menjadi Buruk atau bahkan menjadi “Luar Biasa” tergantung si pembawa berita.
2. Tidak ada target waktu mencapai tujuan WOM. Tidak bisa ditentukan jumlah pelanggan baru sebesar …% dengan metode ini.
3. Mudah ditiru oleh kompetitor
4. Terkadang merek kita yang dibicarakan tetapi merek kompetitor yang “panen”. Misalnya manfaat refleksi atau manfaat minum buah mengkudu, belum tentu produk yang dibeli adalah merek kita, bisa jadi yang dibeli adalah merek kompetitor yang berlokasi lebih dekat dengan calon pelanggan.
5. Tidak cocok untuk produk atau jasa yang baru diluncurkan
6. Produk/jasa harus benar-benar prima atau yang terbaik, karena jarang atau hampir tidak ada orang yang merekomendasikan produk yang biasa saja.
7. dll

Keuntungannya :
1. Murah bahkan Gratis
2. Saat ini dapat menyebar dengan cepat dengan menggunakan VIRAL MARKETING
3. Lebih mudah meyakinkan calon konsumen karena informasi bersumber dari orang yang dikenal
4. Tingkat loyalitasnya lebih tinggi
5. Lebih cepat menimbulkan pembelian dibanding dengan metode komunikasi lainnya.
6.dll

Terakhir, metode WOM lebih cocok digunakan untuk bidang JASA dibandingkan untuk bidang PRODUK.

Coba ingat-ingat: Apakah Rumah Sakit, Dokter, Taksi, Restaurant atau Hotel atau yang kita pilih/gunakan selama ini karena iklannya di berbagai media atau karena rekomendasi dari orang yang kita kenal?

Thankx
Sukardi Arifin
Majalah Marketing

…….

Ya.. saya sependapat dengan Bpk. Sukardi Arifin.

Yang pasti Kebanyakan orang setuju: Tiada iklan yang lebih baik daripada iklan dari-mulut-ke- mulut. Biasanya, pelanggan* * yang menelpon Anda karena rekomendasi pribadi dari temannya atau rekannya lebih sering jadi membeli daripada batal membeli. Sebab itulah iklan dari mulut-ke-mulut (WOM) yang positif menjadi idaman setiap pengusaha.

Karena dengan WOM ini sebenarnya akan terjadi namanya DUPLIKASI yang membuat informasinya beredar tanpa batas. Jadi hampir identik sebenarnya dengan MLM (Multi Level Marketing). Penjelasan tentang Kekurangan dan kelebihannya sudah dijelaskan oleh pak Sukardi Arifin. Hanya saja kalau di MLM semakin terarah karena adanya Support System sehingga lebih terarah dan termotivasi.

Saat ini, para pemasar telah menciptakan satu pengetahuan manjur tentang iklan dari mulut-ke-mulut (MKM). Bahkan ada Asosiasi Pemasaran MKM untuk para profesional pemasaran yang bertugas membangun iklan dari mulut-ke-mulut untuk perusahaan mereka. Tapi kenyataannya, perbincangan yang tepat tidaklah selalu murah, dan Anda harus secara aktif mengupayakan iklan MKM.

Menurut majalah *Kim T. Gordon* (Enterpreneur Magazine Des 2006) Untuk hasil yang maksimum, buatlah satu program iklan MKM dengan menggunakan paling tidak salah satu dari tiga siasat berikut ini :

*1. Pemasaran ke orang-orang berpengaruh (influencers) : *Tiap komunitas punya *influencers* . Melalui media elektronik ataupun pertunjukan, mereka kerap menjadi pemimpin dalam setiap trend. Mereka tidak hanya tahu restoran mana yang punya koki hebat, atau toko mana yang menjual sepatu atletik terbaik, mereka juga senang banget mengabari semua rekan dan kenalan mereka tentang apa-apa yang mereka ketahui tersebut.

Bagaimana sih menemukan *influencers* dan membuat mereka membicarakan Anda? Bukalah dialog melalui situs web Anda dengan menampung komentar para pelanggan, positif maupun negatif. Kemudian identifikasi para peserta yang paling aktif dan undang mereka untuk menjadi bagian grup dengan hak istimewa untuk memperoleh info atau akses pertama terhadap berbagai produk dan jasa baru Anda.

Pilihan lain adalah dengan memilah organisasi atau grup yang anggotanya akan mau menerima pesan Anda, dan carilah *influencers* di antara mereka. Sebagai contoh, pabrikan dari satu produk sirup memfokuskan pesannya tentang bagaimana produk ini menolong orang meminum air yang direkomendasikan bagus untuk kesehatan tanpa gula ekstra atau ramuan kimia, dan pabrikan ini mengirimkan contoh ke para ahli diet dan ahli gizi di seluruh negeri untuk membagikannya ke para pasien mereka.

*2. Usahakan mendapat liputan humas: * Informasi di liputan editorial umumnya dianggap lebih terpercaya daripada pesan yang diterima konsumen di dalam iklan. Penempatan humas memainkan peran yang tidak ternilai dalam suatu kampanye MKM. Ada berbagai publikasi dan ribuan situs web amatir yang khusus melaporkan subjek apapun, jadi Anda tinggal mengidentifikasi editor atau jurnalis terbaik yang menulis tentang apa yang Anda pasarkan. Sesuaikan pesan atau kisah Anda untuk mereka, kemudian kirimkan surat atau *press release *Anda. Tindaklanjuti melalui telpon atau e-mail bilamana perlu.

Ulasan editorial adalah penting, khususnya bagi pemasaran produk baru. Tapi hanya produk atau jasa yang bagus yang diberitakan di media yang tepat-lah yang dapat membuat orang-orang membicarakannya — terutama *influencers* yang dengan lahapnya akan membaca apapun, mulai dari *blogs* sampai majalah-majalah, demi mencari kabar mutakhir untuk mereka sebarluaskan. Yang terbaik, liputan media seringkali menyebar dengan sendirinya. Satu hal menarik yang diliput dalam sebuah *blog* populer, sebagai contoh, bisa jadi akan dibaca oleh banyak orang.

*3. Semaikan pemasaran menular (viral marketing): * Sudahkah Anda mengidentifikasi satu gagasan jelas yang Anda ingin komunikasikan melalui iklan MKM? *Viral marketing* berhasil jika Anda punya satu topik yang memotivasi pelanggan untuk memperbincangkannya dan Anda memberikan mereka sarana untuk berbagi* *percakapan. Sediakanlah satu infrastruktur, misalnya sebuah situs web interaktif yang khusus untuk menciptakan satu komunitas *online* yang kuat, dan fasilitasi koneksinya dengan mempergunakan *blog*perusahaan, *message board* ataupun forum. Atau berikanlah pelanggan Anda sesuatu yang
menarik yang bisa mereka teruskan (*forward*). Sebagai contoh, bila Anda menempatkan satu penawaran khusus dalam sebuah e-mail, ini bisa menjadi satu sarana yang mudah-di-*forward* untuk membangun iklan MKM.

salam
ERIANTO SIMALANGO

…….

Word of mouth..memang membuat suatu produk dapat menjadi terangkat atau bahkan jatuh karenanya..
Oleh karena itu WOM sendiri sebenarnya dapat dibuat sedemikian mungkin agar menjadi baik..baik itu bagi produk atau perusahaan yang bersangkutan..

Caranya:
1. Buat produk yang memang berkualitas baik.
2. Bilamana produk tidak memenuhi standar kualitas, itu sudah pasti menjadi tugas marketing untuk mengangkat fitur2 yang terkandung dari produk tersbut yang merupakan selling point yang baik..
3. Betul sekali bahwa WOM dikeluarkan oleh pihak ketiga dan seterusnya.. oleh karena itu buatlah pihak ketiga tersbut benar2 memahami kebutuhannya dan memang terakomodir oleh produk ini..
4. WOM terbaik keluar dari orang2 besar..atlit, petinggi, pejabat, artis, dll..bila kata2 mutiara telah keluar dari mulut mereka, maka semua dapat terhipnotis. .
5. Buatlah orang2 penghasil WOM ini puas..caranya. .entertain mereka..endors mereka..buat hubungan yang selalu baik dengan mereka..last but not least tanamkan kehebatan produk dan perusahaan kita pada diri mereka..
6. Buatlah event yang membuat nama perusahaan menjadi besar..atau setidaknya sponsorilah event2 yang besar..perkenalkan produk kita lewat alat2 promosi yang tepat pada event tersebut..
789..100..Usaha. .dan berusahalah membuat perusahaan dan produk terkenal (bukan dikenal), dan menjadi yang terbaik untuk survive diantara macan2 bertaring..

Salam
agung maulana

…….

Salam,
Informasi dari mulut ke mulut (mouth To mouth) untuk saat ini menurut saya cukup efektif dalam menyebarkan informasi di masyarakat kita. Kebetulan saya kuliah di UIN Syahid Jakarta-Marketing Management (Baru lulus) dan teman saya mengadakan penelitian untuk itu..ternyata informasi dari mulut ke mulut merupakan cara promosi yang cepat dan dapat diterima oleh masyarakat kita.

Kenapa begitu, berikut ini beberapa alasan :

1. Informasi dari mulut ke mulut cenderung cepat tersebar karena, satu orang yang memiliki info tersebut sedikitnya akan menyebarkan info tersebut kepada 5 orang kerabatnya. Dan apabila 5 orang kerabatnya menyebarkan info tersebut kepada 5 rekannya maka info tersebut sudah dapat diterima oleh 25 orang lain, dan begitu seterusnya yang akan terjadi. (Namun info ini akan cenderung cepat tersebar bila info yang disebarkan bersifat negatif).

2. Si penerima info di masyarakat kita biasanya cenderung akan tertarik untuk mencoba/mempercayai produk yang diceritakan oleh kerabatnya

3. Tingkat kepercayaan si penerima info biasanya lebih tinggi karena yang menyampaikan info tersebut adalah orang yang dia kenal.

4. Biaya yang dibutuhkan sedikit (bahkan cenderung tidak ada biayanya)

Itulah beberapa alasan mengapa Mouth To Mouth bisa berjalan efektif (apalagi bila info yang disebarkan mengenai produk yang berkaitan dengan wanita…itu bisa lebih cepat tersebar ). Begitu pendapat saya

terima kasih
“dadi supriyadi” 

…….

Jika di topik tentang cara memasarkan produk baru saya membahas ada 5 alat promotion mix, mulai dari advertising sampai dengan PR, maka ternyata ada 1 lagi alat promosi lainnya, yaitu: EVENT & EXPERIENCE.. . Sebenarnya inilah bahasa ilmiahnya dari WOM… Karena pada dasarnya, si event & experience ini merupakan suatu cara memberikan experience tertentu yang positif sehingga si customer yang puas akhirnya akan menceritakan tentang keunggulan produk tertentu ke temannya dan merekomendasikan mereka untuk menggunakan produk tersebut…

Kita ambil contoh saja, ketika kita kuliah dulu, faktor apakah yang menjadi pertimbangan kita untuk memilih sebuah universitas? ??

Advertising???
Membuat jadi tahu sich iya, tapi saya rasa untuk membuat kita dapat menentukan pilihan TIDAK

Personnal seling???
Kalo dia bisa menjelaskan dgn baik sich boleh lah jadi pengen kuliah di sini, tapi kalo orang-orang bilang ini univ jelek, apakah tetep mau berkuliah di sini??? >>> Ini contoh WOM negatif

Direct marketing???
Cuman membuat kita sekedar tahu saja kayanya…

Sales Promotion???
Daftar hari ini gratis formulir pendaftaran >>> tapi kalo orang-orang bilang ini univ brengsek buat apa juga yach daftar di sini…

Public Relation???
Kayanya bagus juga nich imagenya, tapi koq si mami ga setuju yach aku kuliah di sini???

Nah apapun usaha yang dilakukan oleh univ ini ternyata yang dapat menentukan pilihan kita adalah beberapa pertimbangan berikut:
1. diajak teman-teman supaya bisa sekampus dengan mereka
2. kata orang-orang lulusan univ A bagus dan lulusannya mudah dapet kerja

Dari sini dapat terlihat jelas seberapa pentingnya WOM itu dalam menentukan pilihan dan membuat keputusan…

Mengapa???
Karena mulai dari adv sampai dengan iklan ITU YANG MEMBUAT ADALAH PIHAK PERUSAHAAN.. . Mana ada sich perusahaan yang ngeluarin dana hanya untuk menjelek2an produknya yang ternyata memang jelek…

Tetapi WOM >>> DIBUAT OLEH PIHAK KETIGA >>> Kalo dia bilang bagus yach artinya bagus, kalo dia bilang jelek berarti dia pernah ga puas dengan produk tsb…

Jadi kesimpulannya: WOM (+) ITU SANGAT PENTING!!!

Segini doeloe aja yach penjelasannya, kalo masi kurang jelas bisa ditanyakan nanti pasti saya beri penjelasan lanjut…

Terima kasih
Ivan Prasetya, SE
(tambahin SE biar gaya dan terpercaya) :)

2 responses so far

Jan 20 2009

ATL vs BTL vs TTL

Published by b0chun under All about MARKETING!!!

Sebenarnya istilah LINE (yang berarti garis) dalam ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam neraca keuangan. Kategori pertama berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan. Ini dimasukkan dalam ‘cost of sales’ dan dikurangi sebelum ditentukan gross profit. Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional dan dikurangi sebelum ditentukan net profit.

Kedua jenis budget tersebut dipisahkan dengan sebuah garis (LINE). Yang mengandung unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut sebagai Above the line (ATL). Sisanya, dijadikan satu di bawah garis tadi, disebut kelompok Below the line (BTL). Sudah banyak yang melupakan definisi awal komunikasi ATL vs BTL tersebut.

Dalam banyak tulisan, ATL dan BTL dijelaskan perbedaannya sebagi berikut:

Above the line (ATL)
- Target audiens luas
- Lebih untuk menjelaskan sebuah konsep atau ide, tidak ada interaksi langsung dengan audiens.
- TV, Radio, Majalah, koran, billboard

Below the line (BTL)
- Target audiens terbatas
- Media atau kegiatannya memberikan audiens kesempatan untuk merasakan, menyentuh atau berinteraksi, bahkan langsung action membeli.
- Event, Sponsorship, Sampling, Point-of-Sale (POS) materials, Consumer promotion, Trade promotion, dll

Saat ini, dimana landscape media sudah bergeser secara dramatis dengan munculnya media-media baru, terutama yang berbasis teknologi tinggi (Internet dan mobile phone), beda ATL vs BTL semakin kabur.

Persoalannya, karakteristik media baru tidak eksklusif lagi. Internet media, karena fiturnya yang sangat kaya (disebut dengan rich media), bisa mencakup target audiens yang luas sekaligus spesifik; mempunyai fasilitas interaksi secara langsung.

Situasi dalam pemasaran modern ini yang mengharuskan Strategic Brand Planner berfikir integrasi dalam disain pesan dan alokasi medianya. Integrasi kegiatan komunikasi secara simultan ini dikenal dengan sebutan ’Integrated Marketing Communication’ (IMC).

Istilah TTL (Through the Line)
Jika kita perhatikan di sekitar kita, memang banyak kegiatan yang tidak bisa dikatakan eksklusif lagi. Ada kegiatan ATL yang mengandung unsur BTL. Atau sebaliknya, BTL yang mengandung unsur ATL. Contoh ATL dengan BTL adalah iklan sebuah brand di majalah yang sekaligus ditempeli sample produknya. Sedangkan contoh BTL dengan ATL: kegiatan event di outlet tertentu yang disebarluaskan lewat iklan radio dan sms.

Wilayah abu-abu atau ‘grey area’ itulah yang mendorong timbulnya istilah baru, yaitu ’Through the Line’ atau TTL. Istilah ini secara harafiah berarti ‘cakupan dari ujung satu ke ujung lainnya’. Istilah TTL diperkenalkan untuk menjembatani pihak perusahaan jasa komunikasi periklanan yang ingin membuat gambaran kongkrit terhadap segmen jasa kreatif komunikasi yang ditawarkannya.

‘Awareness + Image building’ vs ‘Brand Activation’

Kerancuan dalam penggunaan istilah ATL dan BTL perlu dijadikan bahan pemikiran ulang. Apakah masih relevan cara kita mendefinisikan kegiatan komunikasi pemasaran dengan pembagian ATL/BTL? Jika kita mengacu pada situasi historis pada saat istilah ATL dan BTL muncul, itu adalah sebuah usaha klasifikasi yang relevan pada saat tersebut. Biro iklan pada saat itu terfokus pada kegiatan-kegiatan ATL, sehingga dalam klasifikasi budget unsur komisi jelas masuk dalam ATL saja. Saat ini, sudah terjadi pergeseran yang cukup signifikan dalam percaturan di dunia jasa periklanan/komunikasi. Muncul banyak agensi baru yang memposisikan diri sebagai IMC Agency. Dalam konteks ini, seringkali tidak berlaku lagi komisi. Mereka bahkan menawarkan jasa sebagai strategic partner perusahaan yang komitmennya direalisasikan dalam bentuk fixed retainer cost (biaya jasa tetap tiap bulannya).

Dengan situasi baru seperti sekarang ini, dimana jasa yang ditawarkan oleh biro iklan dan biro pendukung kegiatan komunikasi non-iklan sudah sangat terfragmentasi, penggunaan istilah komunikasi ATL vs BTL menjadi tidak relevan lagi, dan sudah waktunya ditinggalkan. Adapun istilah baru, TTL, menurut saya tidak akan menjadi solusi untuk memperjelas perbedaan konsep dan prinsip dalam kegiatan komunikasi pemasaran. Mungkin ada baiknya mulai sekarang kita lupakan saja istilah LINE. Forget the line! It is the end of the line.

Sebagai gantinya, sebaiknya kegiatan komunikasi pemasaran dibagi dari segi tujuan komunikasi itu sendiri. Dalam proses brand building, ada dua tahap penting yang cukup signifikan bedanya yaitu (1) tahap ”Awareness+ Image building” dan (2) tahap “Interest, Trial dan Loyalty building” (yang popular dengan istilah Brand Activation).

Perspektif Strategic Brand Planner dalam menyusun Integrated Marketing Communications (IMC), sebaiknya lebih didasari oleh tujuan komunikasi brand. Maka, akan lebih bermakna bila kita mulai menyiapkan sebuah format baru dalam template budgeting pemasaran. Tidak lagi membagi budget komunikasi dengan kategori budget ATL dan BTL, tetapi membagi budget dengan kategori baru yaitu (1) Budget untuk “Awareness+Image building”, dan (2) Budget untuk “Brand Activation”. Sekali lagi, Forget about the LINE!

Oleh: Amalia E. Maulana

No responses yet

Jan 20 2009

Nonton bareng Dhe2x…

Published by b0chun under Tulisan ga penting

si-dhe-dhe-pulang

Iklan lewat…

Klik di sini untuk download beberapa foto nonton bareng…

…….

Menyambut kepulangan Koko Dhe-Dhe yang tampan, maka Sabtu kmrn, tepatnya tanggal 18 Januari 2009, kita anak-anak B2 berkumpul lagi…
Walaupun dadakan, tapi lumayanlah, seengganya bisa juga terkumpul 19 orang…
Acara hari ini nonton bareng “Chi Bi Xia: Jue Zhan Tian Xia” atau lebih terkenal sebagai Red Cliff 2…

Film yang berdurasi 2 jam lebih ini sebenernya lumayan bagus, tapi jika Anda mengerti benar tentang sejarah aslinya, maka Anda akan menemukan berbagai kejanggalan… Yach, apapun itu, anggap saja kita buta sejarah, karena jika dibahas toh hanya akan menimbulkan debat kusir saja… :)

…….

Sebenarnya acara ini terwujud berkat jasa si Tjung Han… Hari Sabtu 1 minggu sebelumnya, aku, Gun, dan Tom berencana pergi nonton ke XXI… Biasa lah, malem minggu kan saatnya si BCA Card beraksi: buy 2 get 2 free… Tapi berhubung saat itu kita cuman 3an sedangkan tiketnya ada 4, jadi kita mencoba mencari korban…

Satu persatu kita telp-in, tapi semua pada gamau karena waktunya mepet banget… Kita nonton jam 21.30, tetapi saat itu waktu telah menunjukkan pukul 20.00; lagian siapa sich yang mau diajak dadakan gitu, secara dianya masi di rumah sedangkan kita uda nyampe dari tadi gitu loh…

Beberapa mission failed, dan sampailah kita pada korban berikutnya: Tjung Han >>> kali ini aku yang menjadi penjahat perangnya

“Oi, Tjung!!! Di mana loe???”

“Di toko, Chun… Ada apa???”

“Oh, kita nonton yux skrg pizan!!! Di Ciwalk jam 21.30, loe buruan ke sini aja yach, tiketnya uda dibeli soalnya…”

“Aduh sori Chun ga bisa… Gua masi di toko ini… Gua ga bawa kendaraan… Nanti juga pulang harus jalan kaki kayanya… Lagian tokonya gatau tutup jam berapa, lagi rame soalnya… Nonton sama sapa aja emang???”

“Yach Cung ikut lah plz!!! Ini gua cuman bareng si Gun & Tom doank… Ntar Jumat depan kan si Dhe-Dhe sampe Bandung, kita harus menjalankan amanat koko Dhe-Dhe tercinta, kalo ga ntar dia bisa marah tuch… Kali ini mah kita latihan dulu aja, Cung!!! Jadi minggu depan paz dia pulang kita uda terbiasa lagi ngumpul…”

“Oh, ya uda kalo gitu… Nanti gua usahain lah dateng ke sana…”

“Oks, Cung!!! Kita tunggu…”

Singkat cerita, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30 tepat, waktu di mana filmnya mulai, tapi saat itu si Cung blm dateng juga… Hhmmm… Masuk duluan aja ah, tiketnya titip weh ke si mbaknya…

Jam 21.35 >>> Kmn si Cung teh??? Katanya mau dateng, ga jelas dech ini…

Walaupun orangnya bener-bener aneh, tapi setauku Tjung Han adalah tipe orang yang setia kawan… Dia bisa memegang janjinya sendiri… Kalo dia bilang mau dateng yach artinya pasti dateng, walau saat itu ada hujan badai sekalipun… Dan ternyata tepat kan dugaanku… Di saat film sudah mulai selama 7 menit, dia muncul juga dengan napas terengah-engah… Two thumbs up lah Cung!!! Gara-gara loe harga tiketnya jadi lebih murah lagi dech hahaha…

…….

Beberapa hari kemudian, kalo ga salah sich hari Kamis, si Thomas sms: “Chun, tar sabtu ini si Cung ngajak Red Cliff tuh!!! Memperingati kepulangan si Dhe-Dhe cenah…” >>> Oh, my God!!! Ini artinya aku harus ikut, tak dapat kutolak ajakannya itu… Ya uda dech ikut aja lah, ga ada salahnya koq…

…….

Hari ini hari Sabtu, hari di mana kita semua merencanakan nonton bareng… Jam menunjukkan jam 11 siang dan yang mau ikut nonton baru 5an aja: aku, Dhe-Dhe, Thomas, Novi, dan Gun!!! Tak diundang tak dijemput diba-tiba si Thomas nongol di depan rumah bawa si babi Rik… Ceritanya mereka mau mempersiapkan sidang si Riko sich tadinya mah, tapi paz sampe di rumahku yang terjadi adalah: 1. sibuk bersihin virus dari USB dan 2. sibuk ngejarah hard disk-ku…

Berhubung mereka dateng, aku omongin aja tentang acara nonton nanti malem, suru si Thomas sms yang laen ajak semuanya ikut… Maka kami berdua pun sibuk sms orang-orang…

Sekitar jam 12an, si Cung telp mau pinjem credit card ku untuk beli tiket, aku bilang aja: Cung, yang jadi nonton ada 19an, u pinjem yg laen aja, yang si Gun kalo ga yg si Charlie… Akhirnya, si Cung ke si Gun dan berhasil pinjem credit card-nya…

Nah, sampai sini memang beginilah ceritanya… Sampai tiba-tiba dia telp lagi ke aku sekitar jam 2an: “Chun, di mana loe??? Ini gua, Charlie, sama Dhe-Dhe uda di Ciwalk mau beli tiket… Cepetan loe ke sini, ditungguin…”

“Gila loe, Cung!!! Uda sampe Ciwalk baru telp gua… Gua masi di rumah lah!!! Baru beres mandi ini… Lagian si Thomas juga masi di gua nich…”

“Gila juga loe jam segini masi di rumah… Gua kira teh loe di si Thomas, jadi deket ke sininya… Ya uda buruan ke sini…”

*tulalit kan ini anak*

Dengan kecepatan cahaya, setelah mengusir si Thomas n si Riko, akhirnya aku mengeluarkan motor dan langsung ngebut ke Ciwalk… Ah, sial!!! Ini motor koq ga enak gini bannya yach… Beuh kempes!!! Ga bisa ditambal lagi… Ganti ban dech terpaksa… Bener-bener perjuangan dah itu hari… Uda mah belom sempet makan apa-apa, harus cepet-cepet beli tiket, ban kempes pula; apa lagi namanya kalo bukan sue…

Lagi stress-stressnya berjuang untuk menyambung nyawa, si Gun telp pula… Si Dhe-Dhe telp juga… Haduh2x…

*sampe juga nich di Ciwalk*

Ya ampun!!! Penuh banget nich bioskopnya… Saat itu masi jam 3an, tapi buat yang nonton jam 21.30 aja uda penuh 2/3-nya… Huyuh2x… Untung lah masi kebagian tempat juga Red Cliff yang jam 18.45… Uda beli tiket nonton, pulang doeloe aja dech ke rumah… Asli dah hari itu menyebalkan banget: cape & stress…

Orang-orang tau nonton kali ini yang ngaturnya aku, jadi supaya ga pusink aku kirim sms 3 halaman aja ke tiap-tiap peserta… Isinya kaya gini:

“Chi Bi Xia: Jue Zhan Tian Xia
Studio 1 XXI Ciwalk
Jam 18.45
Rating: 7,2
Durasi: 2,5 jam >>> siap2x bawa makanan yang banyak
Jam kumpul:
18.15 Yogya - belanja
18.30 depan XXI
18.45 Studio 1 - tiket dititip atas nama Dhe2x
HTM Rp 14.500,-
Jangan lupa pada bayar ke b0chun
Yang ikut nonton:
henchun
tom
novi
cung
gun
dhe2x
b0chun
ko ali
chan lung
charlie
manto
riko
botan
xu ming
m’per
pitong
jimmy
renald
morin
NB: ke XXI lewat lift/tangga samping yach…
C u there…”

Jelas lah aku kirim sms kaya gitu tuh tujuannya supaya ntar orang-orang ga nanya-nanya ini itu lagi ke aku…

Uda mah pulsa abis, batere uda sekarat, masi aja ada yang telp & sms nanya:

“Uda di mana euy???”
“Uda ada sapa aja???”
“Kumpul di mana???”

Terus uda beres nonton juga hampir semuanya nanya:

“Bayar ke siapa, Chun???”
“Berapa???”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

Nasib-nasib… :(

…….

Klik di sini untuk lanjutan cerita nonton bareng Dhe2x…

41 responses so far

Jan 20 2009

i love blogging

Published by b0chun under Tulisan ga penting

i-love-blogging

Ingin ini ingin itu banyak sekali…
La.. La… La….
Aku sayang sekali…
Oom Emon…

Ngomong-ngomong, apakah kalian tahu siapa itu Oom Emon???
Oom Emon adalah orang yang memprovokasi-ku untuk membuat blog baru dan pindah domain ke sini…
Dia juga mengajariku banyak hal…
Mulai dari beli domain, beli hostingan, setting ini, setting itu, yach pokonya semuanya dia yang ajarin dech…
Makasih, Oom Mon…
Terbukti kan muridmu ini pintar hahaha…

Hari ini tanggal 20 Januari 2009, genap sudah blog-ku berusia 1 bulan…
Diawali dari blog yang acak-acakan, kini sudah mulai rapih dikit, walau isi postingannya masih ga fokus…
Yach kalo dibandingin sama blog tetangga sich blog-ku ini dijamin dech ga ada apa-apanya…
Tapi hope lah ke depannya blog ini bisa maju oks…

No responses yet

Search