Archive for January, 2009

Jan 02 2009

Setelah 32 tahun masa pemerintahan Paman Gober

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan diri ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Agus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Agus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.

“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.

“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!”

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

“Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”

“Apakah saya tidak punya hak bicara?”

“Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”

“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”

“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”

“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”

“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”

“Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?”

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”

“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada satu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.

“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.

“Apakah itu hakikat hidup bebek?”

“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu: Apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

…….

Membaca kisah di atas aku jadi teringat 1 peribahasa lama:

“Ketika lahir, kita menangis dan orang-orang di sekitar kita tertawa;

tetapi ketika wafat, usahakanlah kita tertawa di tengah-tengah tangisan orang-orang…”

Melihat kisah hidup Paman Gober, sepertinya ketika lahir maupun wafat, orang-orang di sekitarnya tetap tertawa, hampir tidak ada yang menangis…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya, bukan??? Apakah ia tidak termasuk pahlawan yang telah berhasil membangun negeri ini???

Apapun itu, aku hanya ingin mengajak kita bercermin sejenak… Pikirkanlah, dengan sikap dan perbuatan kita selama ini, jika kita wafat nanti, apakah banyak orang yang menangisi kepergian kita??? Atau justru sebaliknya, kerabat-kerabat kita justru mendoakan supaya kita cepat-cepat dipanggil yang kuasa???

Di tahun yang baru ini marilah kita instropeksi diri kita masing-masing, marilah kita berusaha membuang sikap kita yang buruk dan menggantinya dengan sesuatu yang bermanfaat…

:)

No responses yet

Jan 01 2009

Happy New Year!!!

Published by b0chun under Tulisan ga penting

Maap yach fotografernya amatiran nich, jadi hasilnya juga rada jelek hahaha… Tapi asli keren nich kembang apinya, bentuknya kaya cacing gini…

kembang-api-hyper

Ini adalah postingan pertamaku di tahun 2009… Jam menunjukkan pukul 02:09 subuh, tetapi jalan-jalan masih lumayan ramai seperti masih jam 10 malam… Ya iya lah, orang-orang baru pada beres ngerayain tahun baruan gitu loh…

Oh, sebelomnya HAPPY NEW YEAR all… Semoga di tahun yang baru ini kita bisa makin diberkati untuk menjadi berkat… Semoga semua usaha pekerjaan kita juga dapat membuahkan hasil yang berlimpah… AMIN!!!

Aku juga berdoa semoga di tahun yang baru ini aku bisa mendapat pekerjaan yang baru juga donk tentunya… Kmrn ini aku sempet mendengar si mamie bangga ngomongin sepupuku yang udah sukses ke temannya… Dia bilang: “Oh, dia mah skrg uda jadi orang…” Sepertinya mamie-ku juga berharap supaya aku bisa cepet2x jadi orang dech… Berarti skrg aku bukan orang yach??? Apa donk kalo gitu???

Balik ke topik dech…

Tahun baru 2008 aku diem di rumah bikin skripsi gara-gara deadline sisa 3 hari lagi… Tahun baru 2007 aku nemenin si Dhe2x kumpul bareng sama anak-anak nari, trz ke sodaranya juga kalo ga salah… Tahun baru 2005 merupakan salah satu tahun baru paling berkesan buatku… Di sana aku pertama kalinya kenal dengan seseorang berinisial F…

Tahun baru skrg… Ampun dech… Si Hentay sms, si So2x teriak-teriak di YM, si Jimmy telp, semuanya nanya: “Ntar malem jadinya gmn???” Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore… Blm ada ide… Tak ada tujuan… Hening… Sepi… Tiba2x si Gun sms: “Chun, ntar malem mau kemana???” Oh my God!!! Pusink dah… Si Hentay mengusulkan ke PVJ, si Jimmy blg macet… Aku mengusulkan ke cafe di sekitar Dago Pakar, si Jimmy blg penuh… Beuh, uda mah waktu mepet, keputusan blm ada pula…

Akhirnya jam 9 kurang dikit kita memutuskan untuk berkumpul dulu di si So2x… Bingung… Blm ada tujuan pasti… Hyper Square-kah??? Atau ada tujuan lain??? Di tengah kebingungan tiba-tiba si Karel telp; dia blg dia lagi di PVJ dan jalanan ga macet… Waduh makin pusink dech… Tapi akhirnya kita mencoba membujuk si Karel dkk untuk nyusul ke Hyper dan akhirnya kita semua terdampar di Hyper dech…

Pesen makan: cepet!!! Ngabisin makanannya: lebih cepet lagi… Aduh ini skrg masih jam 10, masih 2 jam penantian menuju puncak… Ah, untung si Jimmy bawa kartu, jadi qta maen cap sah dech… Mayan lah bisa buang-buang waktu sejenak…

Lagi asik-asik maen tiba-tiba banyak kembang api di sana-sini… Eh, uda jam 12 kurang dikit ternyata… Aku, Jimmy, sama si Hentay asik nonton orang bakar-bakar duid… Lain dengan si So2x, dia mah malah asik nge-shoot-in itu kembang api… Tapi mayan lah ada tukang video gratisan hahaha…

Happy new year all!!!

Akhirnya ganti taun juga…

Ini merupakan pengalaman pertama untukku bisa tahun baruan di tempat umum hehehe… Ternyata rame juga loh…

Happy new year aja yach pokoknya huahahaha…

 

╔══╦══╦══╦══╗
╚═╗║╔╗║╔╗║╔╗║
╔═╝║║║║║║║╚╝║
║╔═╣║║║║║╠═╗║
║╚═╣╚╝║╚╝╠═╝║
╚══╩══╩══╩══╝
¤ø„¸¨°º¤ø„¸ ¸„ø¤º°¨¸„ø¤º°¨
¨°º¤ø„¸ HaPpY ¸„ø¤º°¨
¸„ø¤º°¨ NeW yEaR“°º¤ø„¸
¸„ø¤º “°º¤ø„¸ ¤ø„¸¨°º¤ø„¸¸„

 

happy-new-year

One response so far

 Page 13 of 13  « First  ... « 9  10  11  12  13 

Search