Apr 06 2009
Augmented Product
Menurut Kotler, terdapat 5 tingkatan product:
-
core product: merupakan manfaat paling mendasar yang dibeli oleh konsumen >>> PASTI berupa jasa. Kalo kita membeli bor (barang), maka core productnya adalah lubangnya… Kalo kita beli jasa hotel, maka yang menjadi core productnya adalah tidur/istirahat.
-
basic product: bentuk fisiknya >>> PASTI berupa barang, misalnya: bor, hotel.
-
expected product: sekumpulan atribut dan kondisi yang umumnya diharapkan konsumen ketika mereka membeli product tertentu… Misal: tamu hotel mengingkan kamar yang bersih, tempat tidur yang nyaman, kamar mandi yang bersih, tersedia air panas, dsb… Jika Anda masuk ke pasar, Anda minimal harus sampai pada level ini. Expected product menjadi GATEWAY VALUE dan jika Anda tidak berhasil menyediakan product seperti yang diharapkan konsumen, maka dijamin product Anda akan gagal di pasar.
-
augmented product: JASA/pelayanan/manfaat tambahan yang membedakan produk yang ditawarkan oleh perusahaan dari pesaingnya… Misalnya, jaman dahulu kala di apotek tidak seperti sekarang yang selalu dilengkapi dengan TV di ruang tunggunya… Dahulu kala, TV di ruang tunggu apotek merupakan augmented product >>> pelayanan tambahan yang menyertai product utama… Tetapi seiring berjalannya waktu, augmented product tersebut telah bergeser fungsi menjadi expected product… Tentunya kita sekarang selalu berharap dapat menonton TV sambil menunggu obat pesanan kita jadi… Dan mungkin saja apotek yang tidak memiliki TV bisa membuat konsumen kecewa, karena tidak berhasil memberikan expected product… Oleh karena penggunaan TV sudah bergeser fungsi dari augmented product menjadi expected product, maka apotek harus lebih kreatif lagi dalam memberikan layanan tambahannya, seperti: layanan jasa antar jemput resep, buka 24 jam, dsb… Setiap product yang mampu sampai pada tingkatan ini tentunya memiliki COMPETITIVE VALUE…
-
potential product: product yang mungkin akan booming di masa yang akan datang… PRODUCT-NYA SENDIRI BELUM ADA, tetapi ketika diluncurkan mungkin akan meraup profit yang sangat besar… Misalkan: dulu ketika belum ada rokok low tar low nikotin, A Mild termasuk dalam potential product… Jika sekarang mungkin yang dapat menjadi potential product adalah kendaraan bermotor yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan bakar air… *ngarang* Setiap product yang mampu mencapai tahapan ini tentunya memiliki apa yang dinamakan sebagai ULTIMATE VALUE…
Jika Anda masih bingung apa bedanya product, barang, jasa, dan pelayanan, bisa langsung klik di sini…
…….
Berikut adalah tulisan PJ Rahmat Susanta mengenai augmented product:
Kalau Anda bepergian ke satu daerah mempergunakan pesawat terbang, pastilah sang pramugari akan menjelaskan waktu tempuh penerbangan ke daerah yang Anda tuju. Pramugari yang baik biasanya akan menyampaikan waktu tempuh yang sedikit lebih lama dibandingkan waktu sebenarnya. Biasanya pula, total waktu tempuh adalah pada saat pesawat benar-benar menghentikan pesawatnya di landasan.
Dengan menyampaikan waktu tempuh yang lebih lama, pramugari tersebut sebenarnya ingin mengatur ekspektasi dari para penumpang. Kalau Anda diinformasikan bahwa waktu tempuh adalah dua jam, sementara dalam waktu satu jam lima puluh menit sudah sampai, Anda pastilah merasa puas. Tapi bayangkan jika Anda ternyata baru sampai setelah dua setengah jam, sudah pasti Anda merasa tidak puas.
Marketer yang baik akan selalu memperhatikan ekspektasi (harapan) pelanggan. Ketika handphone baru muncul, konsumen cukup puas dengan adanya fitur SMS. Adanya SMS menggantikan produk pager sehingga konsumen tidak perlu membeli dua produk: handphone dan pager.
Namun pada saat sekarang, konsumen sudah mengharapkan fitur lain yang seharusnya menjadi standar seperti true tone, pemutar musik, pen-download gambar dan lain-lain. Artinya, marketer harus menambah fitur-fitur yang diharapkan oleh pelanggan.
Sebenarnya dalam dunia pemasaran ada tingkatan yang lebih tinggi dari sekadar expected product yakni augmented product. Setiap produk yang telah memasuki tahap augmented product cenderung sudah melebihi apa yang diharapkan. Pada fase ini setiap produk diibaratkan sudah ditambahkan “bumbu-bumbu” atau “toping-toping” yang diluar harapan pelanggan.
Setiap orang yang datang ke hotel mengharapkan di setiap kamar ada televisi, shower air panas dan bath tube. Namun ada tambahan-tambahan lain yang tidak diharapkan namun menyenangkan buat konsumen. Misalnya saja, tersedia video game di kamar atau layanan mini bar di kamar Anda ternyata gratis.
Tentu saja, augmented product lama kelamaan akan menjadi expected product. Dahulu tambahan fitur kamera masih menjadi optional, tapi kini sudah menjadi kewajiban di beberapa tipe handphone. Oleh karena itu, tantangan marketer adalah bagaimana menciptakan augmented product yang terus-menerus. Artinya kita harus terus menggali value-value baru apa menarik buat konsumen.
Harapan pelanggan memang harus dicari terlebih dahulu. Kalau produk Anda ternyata tidak bisa memenuhi harapan konsumen, jangan harap produk Anda akan diterima oleh konsumen. Kalau produk Anda sudah memenuhi harapan konsumen, itu berarti produk Anda sudah diterima oleh konsumen. Tantangannya cuma, berapa harga yang pantas untuk dibeli. Namun kalau produk Anda sudah melebihi harapan pelanggan, itu artinya konsumen sudah rela membayar lebih untuk produk Anda.
Jadi pertanyaannya, apakah Anda ingin bersaing dengan tingkatan harapan yang standar diinginkan oleh konsumen atau melebihi harapan?
Kalau Anda menempuh opsi pertama, itu artinya Anda harus siap memasuki pertarungan harga. Tapi kalau Anda memilih opsi kedua, itu artinya Anda bisa menjual produk dengan harga yang di atas harga rata-rata.
Tantangannya tentu saja, mencari apa yang belum diharapkan pelanggan saat ini. Mencari tahu harapan pelanggan relatif lebih mudah. Namun mencari apa yang melebihi harapan pelanggan seringkali tidak mudah. Konsumen harus memiliki daya imajinasi yang kuat untuk menggambarkan apa yang melebihi harapannya.
Kalau disurvei apa yang menjadi harapan konsumen terhadap sebuah jam, semuanya akan menjawab hal-hal yang memang sudah ada sekarang seperti tahan air, ada navigasi, tahan lama, dan lain-lain.
Namun mungkin tidak ada konsumen yang mengharapkan jamnya dilengkapi dengan alat komunikasi handphone. Siapa konsumen yang punya daya imajinasi ke sana? Mungkin para pembaca dan penonton film Star Trek atau Star Wars yang punya pikiran kesana.
Tantangan kedua adalah besarnya biaya untuk menciptakan augmented product. Setiap tambahan value pasti akan menciptakan cost baru. Semakin banyak value yang di-deliver, semakin banyak cost yang harus dikeluarkan. Tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap harga jual. Keberanian Anda akan dilihat dari besarnya harga yang berani Anda tetapkan.
Tantangan lain adalah peniruan dari para pesaing. Cape-cape Anda membuat produk yang bersifat augmented, dalam waktu singkat apa yang Anda lakukan sudah ditiru oleh pesaing. Bahkan mereka mungkin membuat produk yang sudah lebih baik dari Anda. Marketer zaman sekarang memang hidup di era para follower. Mereka dengan cepat mengadopsi apa yang sudah dilakukan orang lain dan hal ini bisa merugikan Anda.
Makanya, apapun produk Anda, biasakan diri Anda untuk melakukan :
- observasi (pengamatan) . Observasi membantu Anda untuk terus menggali apa yang kira-kira melebihi ekspektasi pelanggan pada masa sekarang. Jalan-jalan ke pasar, kalau perlu jalan-jalan ke luar negeri, mengamati pesaing, memperhatikan perilaku konsumen ketika mengkonsumsi produk Anda, adalah beberapa contoh observasi. Semuanya ini bisa memberikan inspirasi baru bagi Anda.
- biasakan untuk membuat value innovation, yakni berinovasi dalam hal value yang ditawarkan. Jika Ada belum bisa melakukan inovasi dalam hal produk, berinovasi dululah dalam hal value. Tentu saja, value added yang Anda tawarkan harus lebih baik dan berbeda dengan kompetitor.
Random Posts
Tags




Ko…
salam kenal. Menarik sekali ulasan mengenai Augmented Product ini. Hanya bolehkah Ko B0chun bantu saya dengan contoh-contoh untuk JASA?
Karena selama ini banyak sekali contoh untuk barang tetapi sangat jarang mengulas contoh JASA, misalnya Jasa Mayor ataupun Murni Jasa.
Trims Ko..
Loh???
Bukannya di atas saya telah memberikan contoh untuk JASA apotek???
Baiklah, jika dirasa masih kurang saya akan memberikan contoh lainnya…
Untuk menentukan augmented product, tentunya kita harus tahu dahulu apa expected product yang diharapkan oleh konsumen… Misalnya, untuk jasa bioskop, konsumen mungkin hanya mengharapkan tempat yang nyaman + bersih serta kualitas gambar dan audio yang baik…
Tetapi, jika kita dapat memberikan nilai tambah (augmented product) kepada konsumen, tentulah ia akan menjadi loyal kepada jasa yang kita berikan…
Untuk jasa bioskop mungkin augmented product yang dapat kita berikan adalah sebagai berikut:
1. layanan pembelian secara online
2. ruang tunggu yang exclusive bagi calon penonton
3. pelayanan yang ramah dan responsive (penjaga karcis yang murah senyum dan kesediaannya untuk selalu mengantar penonton ke tempat duduknya)
4. memberikan pop corn + minuman gratis kepada penonton (bundled product)
5. dsb.
Intinya, ketika konsumen tidak terpikir bahwa ia memiliki suatu kebutuhan dan kita mampu memberikan hal tersebut, maka sebenarnya kita telah dapat memberikan apa yang kita sebut sebagai augmented product…
Di lain kesempatan mungkin saya akan memperdalam tentang hal ini di sini…
Terima kasih atas partisipasinya…