Apr 07 2009
Masih perlukah kita melakukan forecasting?
Spyros Makridakis, seorang Perancis, pernah mempunyai gagasan yang unik. Dia menggelar suatu kompetisi yang cukup menghabiskan tenaga dan melibatkan banyak orang. Sebagai seorang ahli statistik, khususnya dalam hal forecasting, mudah ditebak bahwa kompetisi yang ia gelar ada hubungannya dengan forecasting. Singkatnya, tuan Makridakis ini tertarik untuk menguji keampuhan dari metode-metode forecasting yang sudah diformulasikan dan dipopulerkan oleh para ahli statistik, baik yang paling sederhana maupun yang sudah sangat kompleks. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari 10 metode forecasting diikutsertakan dan sejumlah 1001 seri data yang diambil dari berbagai belahan dunia digunakan sebagai bahan penguji dan banyak ahli forecasting dari Amerika, Eropa dan Australia dimintai bantuan sebagai juri dalam kompetisi yang panjang dan melelehkan ini.
Banyak kesimpulan dan implikasi yang menarik bagi para praktisi dari kompetisi tersebut. Yang membuat para manajer sedikit “shock” dengan hasilnya adalah: pertama, bahwa metode forecasting yang canggih seringkali tidak menghasilkan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode yang paling sederhana. Kedua, untuk data-data bisnis atau ekonomi yang sangat berfluktuasi dan tidak memiliki pola yang jelas, forecasting secara kualitatif seringkali memberikan hasil yang lebih baik dari pada hasil forecast secara kuantitatif.
Secara umum, implikasi dari kompetisi itu turut memberikan sumbangan untuk menyaringkan lonceng kematian metode forecast secara kuantitatif. Manager makin menyadari bahwa data-data penjualan yang diperoleh dari pasar atau dalam bisnis sudah tidak mengikuti aturan atau pola yang jelas. Akibatnya, kemampuan para manajer semakin lemah untuk melakukan ekstrapolasi walaupun dengan bantuan metode yang paling canggih sekalipun. Dan inilah juga awal kehancuran long-term planning yang sering didengungkan sebagai hal yang penting untuk dilakukan oleh suatu perusahaan bila ingin sukses. Jangankan membuat forecast penjualan untuk lima tahun kedepan seperti biasanya dalam long-term planning, hanya untuk membuat forecast satu tahun saja, keyakinan manajer sudah terkikis terhadap akurasi dari forecast yang dibuat.
Kondisi pasar saat ini, baik untuk industrial product maupun consumer product sudah terlalu kompleks. Terlalu banyak faktor dari lingkungan bisnis yang mempengaruhi pasar, mulai dari peraturan pemerintah, perubahan teknologi, pengaruh globalisasi dan tingkat persaingan yang semakin tinggi. Sejak awal decade 90-an, terlihat sekali bahwa perubahan-perubahan yang terjadi kadang-kadang tidak bersifat incremental lagi tetapi juga sudah mengandung elemen surprising.
Peraturan pemerintah sering berganti-ganti, membuat manajer Indonesia sering mengeluh terutama dalam hal forecasting. Perubahan bea masuk atau perubahan dalam hal ekspor dan impor dapat mengubah kondisi pasar dan peta persaingan berubah dalam waktu sebulan. Dapat dibayangkan apa yang terjadi bila pemerintah misalnya menghancurkan semua bentuk proteksi dalam bidang otomotif ?
Lalu, masih perlukah manajer untuk melakukan forecasting? Pembuatan forecast sudah barang tentu masih diperlukan karena forecast tetap merupakan bagian dari strategic planning yang vital walaupun proses pembuatannya menjadi lebih sulit dan akurasinya dipertanyakan.
Hasil observasi dengan para manajer di beberapa perusahaan menunjukkan bahwa kegiatan pembuatan forecast selalu merupakan bagian yang penting bagi para manajer terutama manajer pemasaran. Marketing manager pada umumnya masih senang menggunakan persentase dari forecast penjualan untuk menentukan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk melakukan aktifitas promosi. Oleh karena itu, pembuatan forecast adalah tahap awal dari pembuatan rencana pemasaran. Demikian juga para accounting manajer, tetap mengandalkan forecast dalam pembuatan budget mereka. Bahkan untuk bagian sales, kinerja dari seorang kepala cabang kadang-kadang diukur dari kemampuan mereka untuk membuat forecast dan bonus dari si salesman sering dikaitkan dengan pencapaian dari penjualan dibandingkan dengan forecast.
Akurasi suatu forecast untuk beberapa jenis industri sangat bernilai. Kemampuan untuk memperbaiki satu persen dari tingkat akurasi dapat menambah penjualan atau mengurangi biaya inventori dalam jumlah yang besar. Bayangkan misalnya dengan perusahaan seperti United Tractors yang memasarkan alat berat dengan merk Komatsu. Setiap unit dari alat berat tersebut dapat bernilai lebih dari satu milyar rupiah. Forecast yang terlalu kecil akan merugikan perusahaan karena gagalnya perusahaan untuk melakukan delivery pada waktu yang ditetapkan sehingga pelanggan mungkin akan memutuskan untuk membeli produk lain. Demikian juga, forecast yang sangat berlebihan akan memberikan beban biaya inventori yang sangat besar. Oleh karena itu, perusahaan sekaliber United Tractors, pembuatan forecast dianggap sebagai pekerjaan yang serius.
Kesimpulan dari argumentasi dan contoh-contoh diatas menunjukkan bahwa pembuatan forecast semakin sulit tetapi forecast tetap harus dilakukan. Berikut ini, adalah beebrapa hal yang dapat digunakan oleh manajer sebagai masukan dalam pembuatan forecasting.
Pertama, Manajer selayaknya menyadari tingkat kompleksitas dari suatu pasar. Mengenal konsumen secara baik serta mempelajari semua variabel-variabel yang mempengaruhi suatu forecast haruslah menjadi agenda penting bagi para manajer. Kegagalan dari mobil Ford “Edsel” yang sering dibuat publikasi adalah forecast yang salah dalam menghitung potensi dari pasar. Perusahaan di Detroit dipersalahkan karena mereka sama sekali tidak menyelenggarakan survey untuk mengetahui selera konsumen tetapi mereka meluncurkan mobil sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Mengenal konsumen, kompetitor serta lingkungan bisnis dengan baik adalah tahap yang baik dalam pembuatan suatu forecast. Survei-survei pemasaran secara rutin sebaiknya dilakukan.
Kedua, untuk manajer yang menggeluti produk-produk yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan bisnis, cara-cara forecasting dengan metode kuantitatif harus diwaspadai. Justru dalam hal ini, forecasting secara kualitatif serta penggunaan intuisi dari si manajer yang bersangkutan tak pelak lagi adalah cara yang tidak dapat dihindari lagi. Untuk mempertajam intuisi dari manajer, ansoff mengingatkan manajer untuk semakin peka terhadap apa yang ia namakan sebagai weak signal, yaitu gejala dini terhadap suatu perubahan. Hanya manajer yang mendengarkan suara dari konsumen serta mempunyai komunikasi yang baik dengan departemen atau bawahan mereka yang dapat melatih kepekaan mereka.
Ketiga, kepekaan seorang manajer dapat ditingkatkan dengan memperbaiki sistem informasi perusahaan. Metode yang dinamakan “environmental scanning system” sudah mulai banyak dipakai di perusahaan-perusaha an besar di US untuk tujuan pembuatan forecast. Pada dasarnya, environmental scanning terdiri dari tahap-tahap seperti mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi bisnis, seberapa besar setiap faktor berpengaruh terhadap bisnis, membuat diagram yang menunjukkan faktor-faktor yang kritikal dan akhirnya adalah pembuatan suatu “environment data base”.
Proses dalam environmental scanning system ini akan memakasa manajer untuk semakin peka terhadap perubahan lingkungan bisnis pada tahap dini. Hal ini jelas akan memberikan keuntungan kepada perusahaan terutama dalam mengantisipasi terhadap perubahan yang sangat mendadak. Barangkali akurasi yang baik tetap tidak dapat dicapai dengan adanya environmental scanning system, tetapi paling tidak, arah dari perubahan lingkungan bisnis dapat diramal lebih akurat.
Keempat, dalam membuat suatu forecast, manajer perlu mempertimbangkan penggunaan skenario. Skenario adalah kata yang sudah sering diucapkan setiap hari. Hanya saja, sedikit manajer yang secara formal melakukan sebagai bagian dari strategic planning. Dalam pembuatan skenario, manajer menyadari bahwa kemampuan dalam pembuatan forecast sangat terbatas. Oleh karena itu, pembuatan skenario menunjukkan bahwa daripada mengalokasikan begitu banyak waktu untuk melakukan forecast yang akurat yang pada dasarnya sangat sulit, manajer tersebut lebih tertarik untuk melihat implikasi.
Oleh: Sukardi Arifin
Random Posts
Tags



