Feb 09 2010
I’m back because of PLAGIARISM!!!
Pertama-tama saya mau berterima kasih kepada para pengunjung blog ini, karena walaupun sudah lama tidak terurus (alias sudah tidak pernah update tulisan di sini), tetapi ternyata masih banyak juga pengunjung blog ini…
Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan kepada diriku untuk terus menulis di sini, karena menurut mereka tulisan-tulisan di sini itu cukup menghibur dan juga kadang berisi informasi yang bermanfaat (terutama bagi anak-anak UNPAR)…
Eerrr… Tadi sore, sambil makan-makan, aku berbincang-bincang dengan seorang rekan dari ITB dan dia bercerita tentang plagiat thesis… Intinya dia menerangkan bahwa ada seorang mahasiswa yang kasus dengan dosennya karena dia dituduh plagiat thesis mahasiswa lain, padahal jelas-jelas itu adalah karyanya sendiri, tetapi rekannya yang plagiat tersebut ternyata lebih dahulu membawa proposal research kepada pembimbingnya, dan hebohlah masalah ini…
Lucu juga kedengerannya, tapi hal yang sama pun pernah menimpaku ketika aku masih kuliah di UNPAR dulu, aku menghasilkan suatu ide bisnis tertentu untuk mata kuliah Kewirausahaan dan ternyata ada kelompok lain yang meniru persis hasil karyaku tersebut… Untunglah si dosen yang bersangkutan tahu betul sebenarnya itu merupakan hasil karya siapa dan karena aku ini pendendam, maka kalo ga salah si plagiator itu akhirnya dimusuhin satu angkatan dech… Gua gitu loh, paling pinter kalo disuruh ngumbar keburukan orang, makanya laen kali kalo mau cari musuh tuh liat-liat doeloe Anda berhadapan dengan siapa wkwkwk… Iblis mode: ON!!!
Teruz masih membasah masalah plagiarism, seorang dosen senior-ku di UNPAR, dan seorang dosen senior di ITB juga pernah mengatakan hal yang sama:
-
Minta dan maling itu bedanya tipis banget, kalo maling mah ga ngomong2x doeloe… Sama halnya dengan karya ilmiah, asalkan kita mencantumkan sumbernya, maka sejauh itu pula kita tidak akan dianggap plagiarism.
-
Misalkan ada karya ilmiah berjudul: “Pengaruh Pemberian Diskon terhadap Niat Beli Konsumen Crocs™ di Kota Bandung tahun 2010″; jika kita ingin melakukan penelitian sejenis, asalkan kita merubah sedikit saja objek penelitiannya, seperti misalnya objek kita adalah konsumen di Jakarta, atau untuk produk Nike, maka kita sudah dapat menghasilkan penelitian baru. Atau jika ingin melakukan penelitian yang sama persis, mungkin kita dapat melakukan penelitian sejenis pada tahun yang berbeda, hal tersebut tentunya sudah dapat menghasilkan sebuah penelitian baru, asalkan kita mencantumkan hasil penelitian sebelumnya tentunya, agar tidak dianggap plagiarism. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah: Apa bedanya penelitian ini dengan penelitian sebelumnya? Apa kontribusinya? Ga bosen apa penelitiannya itu lagi itu lagi? Emangnya lahan penelitian hanya sedaun kelor?
UNPAR oh UNPAR… Walaupun demikian ternyata beberapa tahun terakhir ditemukan juga seorang dosen yang gamau nyidang karena anak yang mau disidangnya kedapatan plagiat. Koq bisa tau yach? Ya iya lah, secara itu anak yang hasil karyanya dicontek dulunya ketika pernah ga dilulusin sama itu dosen dan si ibu kayanya masih inget persis dech di mana kesalahan itu anak yang ga dia lulusin. Hebat bener lah ini anak, sampe-sampe titik komanya juga sama persis. Pertanyaan berikutnya: Si dosen pembimbing kerjaannya ngapain yach???
Itulah beberapa fakta yang ada di kampusku tercinta. UNPAR yang dulunya bagus, sekarang mulai terancam keberadaannya. Fakultas Ekonomi yang katanya mantabs, eh makin ke sini makin jelek donk nilai akreditasinya yang salah satunya disebabkan oleh hal-hal berikut ini:
- Tiga tahun lalu tim akreditasi datang ke perpus dan mereka menemukan skripsi yang tidak qualified. Tentulah ketadangan mereka didampingi oleh dosen-dosen senior dan coba bayangkan bagaimana perasaan dosen-dosen tersebut ketika anggota tim akreditasi kurang lebihnya berkata seperti ini: “Skripsi apaan nich kaya gini?!” Skripsi yang kualitasnya buruk mungkin disebabkan karena para mahasiswa tidak mengerti bagaimana seharusnya mereka melakukan penelitian, dan karenanya sejak saat itu mata kuliah Metlit di FE UNPAR sepertinya jadi banyak tugas. Tapi justru karena itulah pengetahuan mahasiswa tentang cara-cara melakukan penelitian menjadi lebih baik.
- Dahulu kala, di perpus lantai 3 UNPAR mahasiswa boleh dengan leluasa mem-foto semua skripsi yang ada. Enak banget kan buat yang males nyatet, tinggal foto, teruz hasil fotonya bisa langsung di-convert ke word, dan langsung copy paste aja dech buat dijadikan skripsi. Di tahun berikutnya, alias dua tahun yang lalu, seperti biasa si tim akreditasi dateng lagi berkunjung ke UNPAR tercinta. Sepertinya kualitas skripsi yang sidang akhir-akhir ini sedikit lebih baik dech karena kasus tahun lalu. Dan sialnya, seperti biasa tempat yang jadi momok untuk UNPAR adalah perpus. Bukan masalah kelengkapan buku dan banyak fotokopian, tetapi yang jadi masalah adalah karena di perpus lantai 3 ternyata banyak juga skripsi-skripsi yang banci kamera. Turun lagi dech akreditasinya huhuhu… Makanya sejak saat itu di perpus lantai 3 jadi ga boleh lagi ada yang bawa kamera…
- Akreditasi tahun terakhir gimana kabarnya yach???
Ngomongin akreditasi, sepertinya yang menjadi salah satu penilaiannya adalah seberapa banyak karya ilmiah yang di-publish ke luar dan seberapa banyak profesor/guru besar di universitas tersebut. Berdasarkan pengamatanku sekilas, sepertinya UNPAR masih kalah jauh dech masalah 2 hal tersebut jika dibandingkan universitas-universitas saingannya.
Tersebutlah salah satu kebanggaan UNPAR (khususnya Fakultas FISIP) seorang yang dikagumi dan dihormati bernama Profesor Banyu. Di mata mahasiswanya, beliau adalah dosen teladan, orangnya baik, ramah, dan jelas ketika menerangkan materi kuliah. Namun, sungguh mengejutkan memang, karena per hari ini, tanggal 9 Februari 2009, berbagai media banyak memperbincangkan beliau karena masalah plagiarism. Ternyata ada beberapa karyanya (termasuk satu buah karyanya yang di-publish di bawah ini) yang dianggap plagiarism, sehingga gelar profesor termuda se-Indonesia ini haruslah dicopot dengan paksa.
Supaya tidak dianggap plagiarism juga, alangkah baiknya jika saya pun mencantumkan salah satu sumbernya:
http://www.detiknews.com/read/2010/02/09/171238/1296139/10/gelar-profesor-banyu-juga-akan-dicopot
Berita terkait mungkin dapat Anda cari sendiri via Google, karena ternyata banyak juga berita yang membahas masalah Prof Banyu yang dicabut gelar profesor-nya tersebut.
Berikut ini saya tampilkan salah satu tulisannya yang dianggap plagiarism:




UNPAR oh UNPAR…
Walaupun secara pribadi diriku ini tidak kenal dengan beliau, tetapi sebagai alumni UNPAR, sepertinya ga enak aja perasaan ini. Tapi apalah yang bisa kulakukan selain membuat tulisan ini dan mengkampanyekan kepada adik-adikku tercinta: STOP PLAGIARISM!!! Atau bahasa halusnya: Kalo mau plagiat itu tolong donk yang pinter dan harus pinter-pinter. Dan ini yang paling penting: CANTUMKAN REFERENSI di Daftar Pustaka. Sekalipun kalian mencontek dari skripsi orang lain, cantumkanlah skripsi yang kalian contek tersebut di daftar pustaka!!!
Haduuhhhh…
*no comment*
Random Posts
Tags



