May 26 2010
Archive for May, 2010
May 26 2010
Bagaimana cara ciuman?
Tadi ceritanya aku lagi nge-Google, teruz iseng aja ketik nama “Ivan”, siapa tau aja namaku muncul. Eh, sialnya ga ada donk, trz aku iseng ketik kata “bagaimana” dan ternyata hasilnya seperti yang dapat dilihat di print screem berikut:

Dari hasil tersebut, aku dapat menyimpulkan beberapa hal:
- Ternyata lebih banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara berciuman daripada bagaimana cara membuat Facebook atau Twitter.
- Ternyata lebih banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara membuat anak daripada bagaimana cara memikat lawan jenisnya.
- Lebih banyak wanita tidak tahu bagaimana cara memikat laki-laki daripada bagaimana cara laki-laki memikat wanita >>> So, buat para cowoq ga usa kuatir masalah ini wakakaka…
- Ternyata lebih banyak orang tidak tahu bagaimana cara nge-hack Facebook daripada cara membuatnya.
Sambil garuk2x kepala: Koq pertanyaan orang2x ke si Oom Google aneh bin ajaib gitu semua yach???
May 26 2010
Research Problem?
Kisah tenggelamnya Titanic sangat legendaris. Banyak tulisan yang menceritakan dan menjelaskan tentang peristiwa tenggelamnya kapal ini, bahkan sempat sampai di-film-kan.

Hampir semua orang tahu bahwa Titanic tenggelam karena menabrak gunung es dalam perjalanan menuju Kutub Utara. Banyak orang juga berpendapat bahwa tenggelamnya kapal tersebut disebabkan hukuman Tuhan akibat kesombongan manusia yang lupa pada kekuasaan Tuhan.
Menjelang keberangkatannya, kapten kapal dengan congkaknya menyatakan bahwa kapal mewah dan besar tersebut tak akan pernah tenggelam di lautan, karena teknologi yang diterapkan benar-benar paling canggih saat itu. Namun kenyataannya?! Ternyata semua itu diluar dugaan sang kapten kapal.

Di atas merupakan gambar dari gunung es. Sebenarnya mudah saja bagi kapten kapal untuk menghindari gunung es tersebut. Tetapi ternyata ada satu hal yang tidak dia sadari, yaitu: Seberapa besar gunung es yang ada di hadapannya tersebut. Gunung es yang tampak tersebut ternyata hanya 10% saja dari keseluruhannya. Keseluruhan gunung es tersebut terlihat pada gambar berikut:

Sang kapten kapal hanya fokus menghindari visual gunung es yang ada di hadapannya, tanpa mengetahui masalah apa yang sebenarnya dia hadapi. Hal yang serupa pun sering terjadi dalam perusahaan. Banyak pemimpin perusahaan fokus mengurus masalah yang ada di hadapannya, seperti: ketika penjualan menurun, dia sibuk beriklan agar penjualan meningkat; ketika banyak pelanggan komplain, dia sibuk melatih customer service agar dapat menanggapi keluhan pelanggan dengan baik, dsb.
Bagi pemilik perusahaan, mungkin hal-hal tersebut merupakan masalah. Tetapi, dari sudut pandang researcher, hal tersebut hanyalah merupakan gejala. Di sini saya akan membahasnya dari kacamata seorang researcher.
Saya seringkali melakukan penelitian terapan (applied research) yang mana tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah yang ada. Adapun definisi masalah sendiri adalah: segala sesuatu yang TIDAK SESUAI dengan teori yang ada dan BERDAMPAK NEGATIF bagi perusahaan.
Pada contoh di atas, penjualan yang menurun dan komplain dari pelanggan sebenarnya hanya merupakan gejala saja. Gejala merupakan fenomena masalah yang tampak di permukaan. Gejala merupakan 10% gunung es yang tampak. Masalah akan menimbulkan gejala. Dan untuk gejala yang sama belum tentu masalahnya juga sama.
Contoh: Jika ketika di-starter mobil kita tidak mau menyala, hal tersebut merupakan gejala, lalu apa masalahnya? Bisa jadi bensin kita yang habis, atau aki-nya soak, atau karburatornya kotor, atau masalah pada busi, dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya.
Alangkah mudahnya kita menemukan gejala, tetapi untuk mengetahui apa masalahnya terkadang amatlah sulit. Dahulu saya pernah mengalami pengalaman buruk dengan desktop di rumah. Entah kenapa hard disk saya corrupt teruz, ga bisa digunakan untuk menyimpan data. Selama kurang lebih 2 bulan saya coba ini itu, mulai dari format hard disk, install ulang Windows, sampai mengganti power supply, dan masih banyak lagi usaha-usaha lainnya. Ternyata masalahnya bukan itu semua, masalahnya hanyalah satu: ada sebuah kabel yang tidak support hard disk saya tersebut. Dan kabel tersebut harganya hanya 4rb rupiah saja.
Gila ga sich, saya uda cape setengah mati plus keluar duid banyak banget buat ganti ini itu, eh ternyata masalahnya cuman di kabel sialan seharga Rp 4rb aja. Yach, emang sulit menemukan masalah itu, tetapi kalo masalahnya uda ketauan di mana, pasti dech benerinnya gampang.
Begitu juga untuk di perusahaan. Penjualan yang buruk bukan semata-mata disebakan oleh kurangnya promosi, bisa saja karena harganya terlalu mahal, atau kualitas produknya buruk, atau brand image-nya jelek, atau orang gatau gmn cara dapetin itu produknya, dan masih banyak lagi kemungkinan2x yang lainnya. Tetapi, jangan takut. Jika permasalahan intinya sudah diketahui, kita kan punya teori yang berfungsi sebagai obat untuk memecahkan masalah yang ada. Dan jika masalah tersebut sudah berhasil diatasi, pasti dech gejala yang muncul, seperti penjualan yang buruk, banyaknya konsumen yang komplain, dsb juga akan menghilang dengan sendirinya.
Dan dalam melakukan applied research, yang namanya menemukan GEJALA + MASALAH itu merupakan suatu hal yang WAJIB. Masalah di sini berarti benar2x masalah yang ada di lapangan, bukan semata-mata merupakan masalah peneliti (karena ingin melakukan penelitian itu).
Dan dengan ini saya menyatakan 2 hal berikut:
NO PROBLEM = NO RESEARCH
NO RESEARCH = NO PROBLEM
Untuk apa melakukan riset jika tidak ada masalah yang hendak dipecahkan. Dan jika tidak ada yang melakukan riset tersebut juga gpp, daripada cape2x riset tapi ga ada gunanya. ^_^V
May 21 2010
Who said???
First day of school in an American high school in Washington DC. The teacher introduces the new kid, Suzuki Yamaguchi from Japan to the rest of the class. As the class start, the teacher says:
“Let’s start with a small quiz in American history”. Who said “Freedom or death?”
Suddenly silence and only Suzuki raises his hand:
“Patrick Henry, 1775. in Philadelphia.”
“Very good Suzuki”. And who said: “The nation is its people and as such can never die?”
Suzuki raises his hand again:
“Abraham Lincoln, 1863, Washington.”
The teacher looks at her students and says:
“Shame on you, Suzuki is a Japanese and know American history better than you.”
A silent voice from the back of the class:
“Go f*ck yourselves, sh*tty Japanese”
“Who said that!?”, yells the teacher.
Suzuki raises his hand and says:
“General MacArthur, 1942, Guadalcanalu, and Lee Iacocca 1982 at the Chrysler management board meeting, Detroit.”
The class is in silence and you can again hear a silent voice:
“Suck my c*ck!!!”
The teacher is furious:
“I’ve had enough. Who said that?”
Suzuki:
“Bill Clinton to Monica Levinsky, Oval Office, 1997 in Washington.”
Another voice yells:
“Suzuki is sh*t!”
Suzuki:
“Valentino Rossi in Rio de Janeiro at the Brazil moto Grand-Prix in 2002.”
The class goes wild, the teacher starts crying, and in walks to the school
Principal she said:
“What the hell is going on? I am going to quit!!”
Suzuki:
“Sri Mulyani, Ministry of Finance, Jakarta, Indonesia, 2010 when KPK auditors were in her office.”

Good bye, Sri Mulyani!!!
Thankx you so much for all you have done for us…
May 07 2010
Buat apa belajar???
Semakin banyak belajar, semakin banyak pula yang kita tahu.
Semakin banyak yang kita tahu, semakin banyak pula yang kita lupakan.
Semakin banyak yang kita lupakan, semakin sedikit pula yang kita tahu.

Dan sebaliknya…
Semakin sedikit belajar, semakin sedikit yang kita tahu.
Semakin sedikit yang kita tahu, semakin sedikit pula yang kita lupakan.
Semakin sedikit yang kita lupakan, semakin banyak pula pengetahuan kita.
Jadi kesimpulannya: BUAT APA BELAJAR???




