Ada apa dengan Jepang?!

Hari itu langit cerah dan aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. **sedang mengingat-ngingat masa muda dulu ceritanya** SMUK 1 BPK Penabur nama sekolahku (sekarang uda rubah jadi SMAK 1) dan kabarnya sich sekolahku itu merupakan the best high school di Bandung. Cieehhh… Gaya yach…

Ini adalah bbrp list pelajaran yang aku suka ketika di SMA doeloe:

  1. Bahasa Inggris
  2. Matematika
  3. Fisika
  4. Kimia
  5. Biologi

Dan ini adalah bbrp list pelajaran yang paling kubenci:

  1. Sejarah
  2. Antropologi
  3. Geografi
  4. Sosiologi

Untuk mata pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia, Ekonomi, de el el; biasa aja sich kayanya, suka banget ngga, benci juga ngga. Standar lah. Waktu itu, aku juga sempet psikotest minat + bakat dan katanya sich aku cocok masuk ke bbrp jurusan ini:

  1. Teknik Informatika
  2. Teknik Fisika Murni
  3. Teknik Elektro

Bruakakaka… Gaya pizan yach?! Ngga juga sich sebenernya, soalnya kebetulan aja dulu teman-teman mainku anaknya emang pinter-pinter, jadi aja kecipratan sedikit ilmunya. Ato mungkin juga dulu paz SMA aku suka banget baca komik Conan, jadi aja nempel sedikit kepintarannya. Ga nyambung yach?! Tapi beneran loh, gara-gara itu, di gereja aku sempet punya nickname ‘Conan’, sebelom dipanggil ‘b0chun’ tentunya.

Ooppsss… Maap yach jadi curhat colongan dan isinya ga nyambung sama judulnya wkwkwk… Tapi gpp yach, uda kagok nulis panjang nich, mending diberesin doeloe aja ceritanya oks.

Nah, begini sodara-sodari sekalian. Dulu jaman saya kelas 2 SMA itu sistemnya masih caturwulan. Intinya, paz bagi raport caturwulan pertama nilai-nilaiku untuk mata pelajaran yg disukai jelaslah bagus, begitu juga di Caturwulan kedua. Hhmmm… Uda pasti masuk IPA nich pikirku. **Penjurusan IPA/IPS kala itu ditentukan HANYA berdasarkan nilai raport kita di Caturwulan ketiga di kelas 2**

Bener donk, paz bagi raport teman-temanku datang menghampiriku dan bertanya: “Berapa nilai?” Dengan PeDe-nya mereka yakin kalo aku masuk IPA dan dengan lemesnya aku jawab: “I Pe Es.” Sungguh aneh memang, tapi begitulah kenyataannya, entah kenapa nilai Kimia-ku dikasih 4 di raport dan hal inilah yang menyebabkan aku tidak bisa masuk IPA, seperti teman-temanku yang lain.

Huhuhu… Pupus sudah cita-citaku untuk masuk TEKNIK INDUSTRI. Bener-bener ga terima banget lah pokonya, kenapa sich orang-orang yang selama ini suka aku ajarin ini itu bisa masuk IPA sedangkan aku ngga. Kenapa sich teman-teman yang selalu belajar bareng bersama bisa masuk IPA, sedangkan aku ngga. TUHAN GA ADIL, buktinya banyak orang yang kerjaannya nyontek tetap bisa masuk IPA, sedangkan aku yang bersusah payah belajar mati-matian hasilnya malah kaya gini.

Udah lah cape debat sama TUHAN, jalani aja yang di depan mata. Hari pertama di kelas 3 IPS, ya gitu dech, males-malesan yang ada, uda ga niat sekolah, huuhhh… Di kelas uda ga mood sekolah, sampe-sampe nilai bahasa Inggris yang biasanya bagus aja mendadak jadi jeblok, padahal gurunya kan sama. Tapi gpp, 1 tahun aja mah ga kerasa. Ternyata waktu cepat berlalu dan akhirnya aku bisa juga lulus dengan hasil yang yach… lumayan lah.

Sirna sudah impianku untuk masuk Teknik Industri UNPAR yang notabene harus lulusan IPA. Saat itu aku tak punya pilihan dan karena mayoritas teman-temanku masuk ke Management UNPAR, ya uda lah ngikuuttt arus. Kan ada peribahasa: Monkey See, Monkey Do, dan karena aku bukan monyet, marilah istilahnya dirubah menjadi TTM: TuTurut Munding.

4 semester awal di UNPAR kujalani dengan asal-asalan. Walau nilaiku ga sempat menjadi NASABAH (NAsib SAtu BAwaH) atau NASAKOM (NAsib SAtu KOMa), tetapi asli dech nilaiku mengenaskan. Gmn ngga, wong tiap hari diem di warnet terus maen Ragnarok wkwkwk… Untunglah pada akhirnya aku tersadar, lalu bertobat pada semester ke-5 dan Puji Tuhan, nilai-nilaiku mengalami perbaikan yang sangat berarti. Makanya jangan heran kalo liat transkrip nilaiku: mata kuliah yang gampang (di semester 1-4) dikasi C, sedangkan mata kuliah yang lumayan susah (di semester akhir) banyak yang dapet A, itulah aku: Si Dodol Beracun.

Untungnya saat itu aku sudah bisa bersyukur, ternyata ini dunia Management ga susah-susah amat dan aku masih bisa bernapas di situ. Tinggal skripsi nich skripsi, teruz LULUS dech hehehe… Bimbingan skripsi pertama pun dimulai dan hasilnya: TOPIK-ku di-reject!!! Bbrp bimbingan berikutnya pun hasilnya sama aja. Ketika orang lain sudah maju sidang, aku harus lanjut ke semester berikutnya. SIAL banget emang dapet dosen paling killer di UNPAR yang bersarang di 9522 >>> I hate this feeling.

Yach singkat cerita, setelah melewati pergulatan yang sangat seru, akhirnya topikku disetujui dan aku mulai menyusun skripsi. Menurutku yang namanya skripsi itu sulit dan merepotkan, karenanya kita harus berhati-hati dengan file skripsi kita. Back-up file sangat diperlukan, itu pula yang aku lakukan. Aku mem-back-up file skripsiku di drive C, D, dan E kompie-ku.

Sedikit- sedikit lama-lama jadi bukit, begitulah kata pepatah. Minggu depan akhir semester, itu artinya aku harus cepat-cepat daftar sidang. Dan kerjaannku tinggal bikin Kesimpulan & Saran >>> Yes Yes Yes SIDANG!!! Senangnya hati ini syalalala… Aku pulang ke rumah dengan riang gembira dan sedikit shock menyadari bahwa komputer di rumah koq gamau nyala yach?! Selidik punya selidik, ternyata Hard Disk-nya rusakkk donk, padahal semua file-ku kan di situ. Aku ga pernah print hasil kerjaanku sama sekali, kecuali bab 1 aja. Dan sialnya, ternyata drive C, D, dan E, di mana file-file skripsiku itu tersimpan terletak pada 1 Hard Disk yang sama. Kesimpulannya: Semester depan ngulang skripsi lagi dari awal >>> Dan hal ini benar-benar terjadi. Dengan si dosen killer itu pula. (Pesan moral: Jangan menyimpan file-file penting dalam satu tempat yang sama.)

Kan kan kan… Sekali lagi TUHAN ga adil. Apa-apaan sich ini?! Aku yang selalu membantu orang-orang menyusun skripsi, koq diperlakukan seperti ini pada skripsiku sendiri?! Saat itu aku benar-benar down, tetapi mungkin aku harus banyak bersyukur, karena dengan kejadian ini aku bisa tahu siapa saja orang yang care terhadapku. Kedua orang tuaku selelu menyemangatiku, begitu juga dengan teman-temanku, sampai akhirnya aku bisa bangun dan mulai bergerak maju.

Singkat cerita, pada semester berikutnya aku bisa maju sidang dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan 1 bulan setelah itu aku mndapat panggilan kerja di Danamon, salah satu bank swasta terbaik, yang masuknya juga susah banget katanya, soalnya seleksinya cukup ketat.

Memasuki dunia kerja merupakan hal yang baru bagiku. Ternyata dunia kerja tak seperti yang kubayangkn selama ini. Ternyata aku tidak dapat cepat beradaptasi sehingga bbrp bulan kemudian aku mengundurkan diri dari sini. Danamon aja yang seleksinya ketat bisa lolos, masa perusahaan laen ga ada yg mau nerima sich?! Dan, memang demikianlah kenyataannya: Ga ada perusahaan yang mau menerimaku, baik itu perusahaan raksasa, perusahaan gajah, perusahaan cecurut, sampai perusahaan semut juga ga ada dech, gatau kenapa pokonya. Dan sia-sialah waktuku selama kurang lebih 7 bulan dalam perjalanan mencari kerja, dan hasilnya: NIHIL!!!

TUHAN, ini ketiga kalinya Kau mempermainkan aku!!! Heyyy… Ada apa dengan-Mu?! Apa salahku coba?! Sekali lagi TUHAN menjadi sasaran amarahku.

Tetapi ternyata TUHAN punya rencana lain. Saat itu hari Kamis malam dan mamih-ku tiba-tiba nyeletuk gini:

“Loe teh nganggur aja gmn sich?”

“Ya da gmn atuh, Mih?! Ini juga kan uda coba-coba ngelamar kerja ke banyak tempat, tapi da belom ada hasil atuh, jadi harus gmn?”

“Ya uda lah daripada loe buang-buang waktu ga jelas, coba S2 aja sana!”

**jreng** Ada pertanda bagus nich. Aku kan uda pengen S2 dari dulu, tapi ga dibolehin sama si mamih, disuruh kerja doeloe katanya. Eh, skrg boleh. Langsung dech dgn semangat 45 aku mencari-cari info dan mendapat hasil sebagai berikut:

  1. Universitas Gajah Mada (UGM): Uda telat daftar, bahkan saat ini kuliahnya sudah dimulai.
  2. UNPAR: Ga bole masuk situ sama si dosen pembimbing yg killer itu, tar kalo masuk situ bisi diapa-apain kan repot.
  3. MBA ITB: Terakhir pendaftaran bulan depan dan katanya temenku si Cisca juga mau masuk sana >>> mari qta telp si Cisca:

“Cis, katanya u mau S2 ke ITB ya? Gua juga mau nich, daftarnya terakhir bulan depan kan yach, daftar barengan yuxxx!”

“Iya bener, gua mau S2 ke ITB. Tapi gua mah maunya masuk MSM, bukan MBA, dan terakhir pendaftaran besok.”

“Hah??? Apa bedanya MSM sama MBA??? **dia lalu menjelaskan sekilas** Ya uda pokonya gua mau ikutan daftar juga besok.”

Singkat cerita, aku, si anak malang yang gatau apa-apa ini, terdampar sudah di MSM ITB angkatan ke-4. Syarat masuknya kalo ga salah ada test TOEFL, TPA, dan wawancara. Thankx God banget dech pokonya, aku yang serba dadakan ini ternyata bisa lolos seleksinya bruakakakaka…

Ketika tulisan ini dimuat, aku sudah berada di semester ketiga. Dan kira-kira baru setengah tahun yang lalu aku tahu bahwa ternyata ada program Double Degree antara SBM ITB dengan TUS Jepang. Karena bbrp teman-temanku menoba apply, aku pun ikut-ikutan mereka, toh ga ada salahnya ini kan?! Nothing to Lose gitu lohhh. Ternyata oh ternyata, skrg ini aku sudah berada di Jepang saudara-saudara. It’s so amazing, right?!

Melalui tulisan ini, aku mau share aja bbrp berkat Tuhan yang sungguh luar biasa buatku:

  1. Skripsi-ku yang lamanya ga karuan itu, mendapat pujian bbrp dosen dan sempat menjadi fenomenal di UNPAR: Siapa sich yang gatau tentang skripsi-ku?! Jawabannya: BANYAK!!!
  2. Ternyata karena ga dapet-dapet kerja, aku justru malah mendapatkan beasiswa S2 di SBM ITB.
  3. Sekali lagi, karena kemurahan Tuhan, aku juga mendapatkan kesempatan + beasiswa untuk bisa meneruskan study di Jepang.
  4. Setelah sekian lama, kini kusadari bahwa aku itu cocok banget berada dalam dunia management, dan ga seneng sama yang namanya itung-itungan Fisika, dsb. Thankx God, aku dikasi masuk IPS, kalo ga bisa salah arah dech.

Dan tahukah kalian, apa fakultasku di jepang sini?! Tak lain dan tak bukan adalah: Industrial Engineering. Yach benar, kalo diterjemahkn ke dalam bahasa Indonesia menjadi: TEKNIK INDUSTRI, persis sama seperti apa yang kuinginkan ketika masih duduk di bangku SMA dulu. Apa yang kelihatan mustahil bagiku, tapi itu mungkin bagi-Nya.

Satu hal yang masih menjadi teka-teki sampai skrg: Apakah Conan ada hubungannya dengan Jepang?!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahteradan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depanyang penuh harapan.”

Ketika aku meminta agar aku menjadi seseorang yang sukses, tetapi TUHAN malah menggambar singa. Ketika aku meminta agar aku menjadi seorang yang hebat, Tuhan malah menggambar beruang. Saat itu aku kesal dan mengeluh, sampai pada akhirnya aku tahu, sebenarnya Tuhan menggambar aku yang sedang mengalahkan singa dan beruang itu. Ia ingin aku menjadi PEMENANG.

Sambil tersenyum Ia berkata kepadaku: “Kalo nonton film itu harus lengkap, jangan cuman sebagian-sebagian. Ada awal, ada tengah, dan ada akhir.” There’s always a rainbow after the rain.

There are no mistakes, no coincidences. All events are blessings given to us to learn from.

Everything happens for a reason; if you don’t know the reason now, it will make sense with time, because everything will be okay in the end; if it’s not okay, it’s not the end.

Jika manusia harus melakukan fungsi Plan-Do-Check-Action atau fungsi manajemen lainnya, maka Tuhan hanya perlu melakukan fungsi PLAN saja, karena rencana-Nya sempurna dan tak pernah gagal.

Hachiko @ Shibuya Station exit 8 (hachi)

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

One Response to “Ada apa dengan Jepang?!”

  1. Rizka says:

    hi, sorry, boleh tanya,,,
    dari postingan diatas, katanya kamu dpt beasiswa s2 di SBM ITB, boleh tau beasiswa dr mana? soalnya saya juga lagi cari2 beasiswa s2 untuk MBA nya

Leave a Reply

See also: