Re-Search Problem

Kisah tenggelamnya Titanic sangat legendaris. Banyak tulisan yang menceritakan dan menjelaskan tentang peristiwa tenggelamnya kapal ini, bahkan sempat sampai di-film-kan.

Hampir semua orang tahu bahwa Titanic tenggelam karena menabrak gunung es dalam perjalanan menuju Kutub Utara. Banyak orang juga berpendapat bahwa tenggelamnya kapal tersebut disebabkan hukuman Tuhan akibat kesombongan manusia yang lupa pada kekuasaan Tuhan.

Menjelang keberangkatannya, kapten kapal dengan congkaknya menyatakan bahwa kapal mewah dan besar tersebut tak akan pernah tenggelam di lautan, karena teknologi yang diterapkan benar-benar paling canggih saat itu. Namun kenyataannya?! Ternyata semua itu diluar dugaan sang kapten kapal.

Di atas merupakan gambar dari gunung es. Sebenarnya mudah saja bagi kapten kapal untuk menghindari gunung es tersebut. Tetapi ternyata ada satu hal yang tidak dia sadari, yaitu: Seberapa besar gunung es yang ada di hadapannya tersebut. Gunung es yang tampak tersebut ternyata hanya 10% saja dari keseluruhannya. Keseluruhan gunung es tersebut terlihat pada gambar berikut:

Sang kapten kapal hanya fokus menghindari visual gunung es yang ada di hadapannya, tanpa mengetahui masalah apa yang sebenarnya dia hadapi. Hal yang serupa pun sering terjadi dalam perusahaan. Banyak pemimpin perusahaan fokus mengurus masalah yang ada di hadapannya, seperti: ketika penjualan menurun, dia sibuk beriklan agar penjualan meningkat; ketika banyak pelanggan komplain, dia sibuk melatih customer service agar dapat menanggapi keluhan pelanggan dengan baik, dsb.

Bagi pemilik perusahaan, mungkin hal-hal tersebut merupakan masalah. Tetapi, dari sudut pandang researcher, hal tersebut hanyalah merupakan gejala. Di sini saya akan membahasnya dari kacamata seorang researcher.

Saya seringkali melakukan penelitian terapan (applied research) yang mana tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah yang ada. Adapun definisi masalah sendiri adalah: segala sesuatu yang TIDAK SESUAI dengan teori dan BERDAMPAK NEGATIF.

Pada contoh di atas, penjualan yang menurun dan komplain dari pelanggan sebenarnya hanya merupakan gejala saja. Gejala merupakan fenomena masalah yang tampak di permukaan. Gejala merupakan 10% gunung es yang tampak. Masalah akan menimbulkan gejala. Dan untuk gejala yang sama belum tentu masalahnya juga sama.

Contoh: Jika ketika di-starter mobil kita tidak mau menyala, hal tersebut merupakan gejala, lalu apa masalahnya? Bisa jadi bensin kita yang habis, atau aki-nya soak, atau karburatornya kotor, atau masalah pada busi, dan masih banyak lagi kemungkinan lainnya.

Alangkah mudahnya kita menemukan gejala, tetapi untuk mengetahui apa masalahnya terkadang amatlah sulit. Dahulu saya pernah mengalami pengalaman buruk dengan desktop di rumah. Entah kenapa hard disk saya corrupt teruz, ga bisa digunakan untuk menyimpan data. Selama kurang lebih 2 bulan saya coba ini itu, mulai dari format hard disk, install ulang Windows, sampai mengganti power supply, dan masih banyak lagi usaha-usaha lainnya. Ternyata masalahnya bukan itu semua, masalahnya hanyalah satu: ada sebuah kabel yang tidak support hard disk saya tersebut. Dan kabel tersebut harganya hanya 4rb rupiah saja.

Gila ga sich, saya uda cape setengah mati plus keluar duid banyak banget buat ganti ini itu, eh ternyata masalahnya cuman di kabel sialan seharga Rp 4rb aja. Yach, emang sulit menemukan masalah itu, tetapi kalo masalahnya uda ketauan di mana, pasti dech benerinnya gampang.

Begitu juga untuk di perusahaan. Penjualan yang buruk bukan semata-mata disebakan oleh kurangnya promosi, bisa saja karena harganya terlalu mahal, atau kualitas produknya buruk, atau brand image-nya jelek, atau orang gatau gmn cara dapetin itu produknya, dan masih banyak lagi kemungkinan2x yang lainnya. Tetapi, jangan takut. Jika permasalahan intinya sudah diketahui, kita kan punya teori yang berfungsi sebagai obat untuk memecahkan masalah yang ada. Dan jika masalah tersebut sudah berhasil diatasi, pasti dech gejala yang muncul, seperti penjualan yang buruk, banyaknya konsumen yang komplain, dsb juga akan menghilang dengan sendirinya.

Dan dalam melakukan applied research, yang namanya menemukan GEJALA + MASALAH itu merupakan suatu hal yang WAJIB. Masalah di sini berarti benar-benar masalah yang ada di lapangan, bukan semata-mata merupakan masalah peneliti (karena sebenarnya ingin melakukan suatu penelitian menggunakan topik tertentu dengan alasan agar mudah memperoleh data, merupakan perusahaan milik sendiri, dsb).

Gejala merupakan fenomena masalah yang muncul ke permukaan, merupakan gunung es yang muncul di atas permukaan air. Namun, seringkali juga ada kabut yang menutupi pandangan, sehingga membuat kita semua sulit untuk melihatnya, karenanya kita harus hati-hati dalam menyikapi hal ini.

Dan dengan ini saya menyatakan 2 hal berikut:

NO PROBLEM = NO RESEARCH

NO RESEARCH = NO PROBLEM

Untuk apa melakukan riset jika tidak ada masalah yang hendak dipecahkan. Dan jika tidak ada yang melakukan riset tersebut juga gpp, daripada cape-cape riset tapi ga ada gunanya. ^_^

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

2 Responses to “Re-Search Problem”

  1. […] variabel UTAMA yang menjadi INTEREST si peneliti. INGAT, seperti pada postingan terdahulu saya di sini, sebuah riset HARUS-lah dimulai dari penentuan gejala terlebih dahulu. Gejala = variabel Y = […]

  2. Thanks like your Re-Search Problem – GODISNOWHEREâ„¢

Leave a Reply

See also: