Validity vs. Reliability

Di FE UNPAR, pertanyaan ini doeloe pernah jadi pertanyaan favorit di sidang: “Apa beda validitas dan reliabilitas?! Diujinya mana terlebih dahulu?!” Dan ini adalah pertanyaan favorit mahasiswa dari tahun ke tahun: “Sebenernya harus ga sich kita pake uji validitas dan reliabilitas?!”

>>> DOWNLOAD PPT UNTUK CONTOH & PENJELASAN LANJUT <<<

Beberapa dosen senior mungkin akan berteriak: “PERLUUU!!!”, tetapi dosen yang lebih senior lagi mungkin akan berkata seperti ini: “Oh, untuk tingkatan S-1 itu ga wajib, kalo untuk S-2 baru wajib.”, padahal di luaran sana ia membangga-banggakan bahwa kurikulum S1-Manajemen UNPAR itu setara loh dengan program Magister Manajemen-nya. Perlu ga perlu, harus ga harus, atau apapun itu, menurutku pribadi sebenernya yang namanya uji validitas dan reliabilitas itu WAJIB hukumnya jika kita melakukan survey research dengan menggunakan kuesioner. Untuk lebih jelasnya, marilah kita terlebih dahulu membahas apa itu validitas dan reliabilitas.

Valid sendiri berarti benar/tepat. Uji VALIDITAS menguji apakah alat ukur yang digunakan sudah benar atau belum, apakah KUESIONER yang dibuat sudah melakukan pengukurannya secara tepat atau belum. Misalnya saja, kita ingin menimbang berat badan, tetapi kita menggunakan alat ukur berupa penggaris/meteran: Ini mah Jaka Sembung naek Nissan, alias BENER-BENER GA VALID PIZAN!!!

Pada kenyataannya, kita bisa mengetahui berat badan dengan berbagai metode: (1) isikan air ke dalam bak sampai penuh, masukkan tubuh seluruhnya ke dalam bak, lalu kita ukur berapa liter air yang tumpah. Dengan asumsi bahwa 1 liter air = 1 kg, maka berat badan kita = banyaknya liter air yang tumpah, (2) dengan menggunakan jungkat-jungkit anak SD, (3) dengan menggunakan timbangan besi yang kiloannya kasar, (4) dengan menggunakan timbangan badan yang menggunakan pegas, (5) dengan menggunakan timbangan digital. Dari nomor 1 sampai ke nomor 5, masing-masing alat dapat digunakan untuk mengukur berat badan dan dari atas ke bawah tingkat pengukurannya makin akurat, oleh karena itu dikatakan VALIDITAS nya makin tinggi.

Berbeda dengan validitas, RELIABILITAS mengukur apakah si responden sudah menjawab kuesioner dengan jujur/terpercaya belum. Bisa jadi walaupun alat ukur yang kita gunakan sudah sangat baik, tetapi si responden ini menjawabnya asal-asalan saja, maka hasil kuesionernya patut dipertanyakan. Misalnya saja, kita sudah menggunakan timbangan digital yang sangat akurat untuk menimbang berat badan, tetapi ketika ditimbang, si dudut teh loncat-loncatan, ato misalnya dia malah ngantongin batu bata segede goblog, yang menjadikan kita mandapati hasil pengukuran yang kacau, maka hasil pengukurannya dikatakan TIDAK RELIABEL: Perhatikan gambar di bawah ini!!! Misalkan saja saya menembak dengan menggunakan 3 buah senapan yang semuanya diarahkan tepat ke tengah bidang sasaran, tetapi dari ketiganya didapati hasil tembakan seperti berikut:

Gambar yang paling kiri menunjukkan TIDAK VALID dan TIDAK RELIABEL. Kesalahan tidak hanya disebabkan oleh akurasi tembakan yang tidak presisi, tetapi juga si penembak sepertinya mengarahkan sasaran ke arah yang tidak sama. Gambar yang tengah menunjukkan RELIABEL, tetapi TIDAK VALID. Walaupun si penembak selalu mengarahkan sasaran ke tengah, tetapi ternyata hasil tembakannya selalu melenceng ke arah yang sama. Sedangkan, gambar yang kanan menunjukkan VALID dan RELIABEL. Semua tembakan berada pada daerah sasaran yang dituju.

Kesalahan-kesalahan umum sering terjadi ketika kuesioner dibuat dengan memungkinkan si responden bisa berbohong dengan adanya pertanyaan yang bias, contoh: “Apakah Anda termasuk mahasiswa yang rajin?” “YA!!!” “Dari skala 1 sampai 5 kira-kira tingkat kerajinan Anda ada di mana?” “4 = RAJIN” Melihat hasil ini mungkin kita akan berpikir bahwa responden kita adalah mahasiswa yang rajin, tetapi mari kita sajikan ulang pertanyaan-pertanyaan lainnya yang dapat mengukur tingkat kerajinan secara VALID: “Dalam  1 hari, berapa jam waktu yang Anda habiskan untuk mengulang bahan kuliah?” “TIDAK PERNAH” “Dalam 1 minggu, berapa kali Anda singgah ke perpustakaan untuk belajar/membuat tugas?” “HAMPIR TIDAK PERNAH” “Dalam 1 bulan, berapa banyak buku yang habis Anda baca?” “GA PERNAH BACA BUKU” Seperti inikah yang dinamakan rajin?! So, hati-hati dengan validity, hati-hati ketika menyusun kuesioner!!!

Berikut contoh kasus lainnya: Produk yang disediakan oleh Pasaraya X lengkap dengan kualitas yang baik dan harga yang relatif murah. [STS >TS >KS > S > SS] Ini adalah contoh kuesioner yang SANGAT TIDAK VALID!!! Misalkan saja, kita mau bilang produknya lengkap, tapi kualitasnya kurang dan harganya juga cenderung mahal, maka apa yang harus kita pilih?! Seharusnya 1 pertanyaan HANYA MENGUKUR 1 sub variabel saja. Ini bukan masalah salah atau benar, tapi masalah logis apa ngga.

Masalah reliabilitas lebih lucu lagi. Ketika seseorang ditanya: “Apakah Anda mengetahui tentang MM UNPAR?” Dia jawab: “GATAU” Trz di bawahnya ada pertanyaan lagi: “Menurut Anda kualitas MM UNPAR bagaimana?” Dia jawab lagi: “BAGUS” Sotoy banget ga sich?!

Contoh lainnya: “Si Pa Wisnu ngajarnya enakeun ga?!” “Wah enakeun bngt lah dia mah.” “Kalo dosen Metlit & Marketing yang ruangnya di 9522 ngajarnya gmn?!” “Ga enak!!!” Nah ini jawabnya geblek, jelas-jelas dosen metlit+marketing yang bertapa di 9522 = Wisnu Wardhono.

**one more example** Si Cuplis: “Tom, menurut loe BOLT rame ga?! Si Tom: “Wah rame banget, ceritanya seru, animasinya juga mantap, kocak pula lagi.” Si Cuplis: “Ah menurut gua mah jelek ah, apa lucunya coba?! Ceritanya juga garink tuch.” Si Tom: “Ooo…”

**keesokan harinya** Aku: “Tom, BOLT gmn?! Rame ga?!” Tom: “Biasa aja menurut gua mah, uda mah gambarnya kurang bagus, ceritanya kurang seru pula.” >>> Nah ini anak omongannya ga bisa dipercaya kan.

Kembali lagi ke topik permasalahan. Jadi, validity sama reliability mana duluan yang diukur?! Yach jelas lah validity doeloe, karena validity menguji apakah si kuesioner sudah tepat belom ngukurnya. Kalo uda tepat baru sebar kuesioner dan kalo uda sebar kuesioner baru uji reliability, buat nguji apakah si responden jujur ga jawabnya.

Setelah itu, biasanya dilakukan uji normalitas. Apa itu uji normalitas?! Selengkapnya dijelaskan dalam postingan lainnya yach.

Salah satu cara yang biasa dilakukan untuk uji validity/reliability adalah dengan menggunakan SPSS: Masuk ke Analyze >>> Scale >>> Reliability >>> pindahkan variabelnya  ke kolom sebelah kanan >>> di Statistic pilih Scale if item delete >>> Continue >>> OK

Kita lihat yg corrected item-total correlation ada yang lebih kecil dari r-table ga, kalo ada berarti ga valid >>> harus dibuang >>> kalo ada lebih dari satu buang dulu 1 yang paling kecil >>> uji lagi sampe uda valid semua.

Untuk reliabilitas kita lihat yang alpha if item deleted (Cronbach’s Alpha) ada yang lebih kecil dari 0.6 ga, kalo ada artinya ga reliabel dan harus dibuang. Kalo jumlah sampelnya sangat sedikit disarankan uji validitas dan reliabilitasnya menggunakan Excel, dengan menggunakan split-half. **klik di sini untuk contoh test validity & reliability menggunakan split-half**

>>> DOWNLOAD PPT UNTUK CONTOH & PENJELASAN LANJUT <<<

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

11 Responses to “Validity vs. Reliability”

  1. yessie says:

    selamat ya ko bochun..welcoming http://www.bochun.com hahaha.tetap menulis,kami memerlukanmu 🙂

  2. ahmad says:

    thank you bochun…. for the enlightment keep writing

  3. sinta says:

    kak ni sinta..aq mw nanya kn kuesionerq ada variabel yg cuma pk satu pertanyaan.itu gmn cara uji validitasnya?
    mnta bantuannya y kak…
    tolong hub saya d email saya..plis

  4. sinta says:

    bagi yg bisa menjawab pertanyaan saya tlong hub saya di fera.sinta@ymail.com
    atau d twitter saya @sintafera karna saya butuh sekali..trims 🙂

  5. ardi says:

    klo cuma 1 pertanyaan gimana yaa caranya uji validitasnya ?

  6. Jacoby says:

    You’ve got it in one. Con’dult have put it better.

  7. wiwit says:

    penelitian saya x1 memakai one tail x2, dan x3 menggunakan two tail nah lihat validitas nya dari nilai r tabel, kan ada pilihan one tail dan two tail nya. Jadi saya bingung untuk lihat validitas dependent nya menggunakan r tabel one tai atau two tail
    mohon bantuannya untuk skripsi saya saya gak ngerti ini jadi berhenti disini

  8. Hello there, You have done an excellent job.
    I’ll definitely digg it and personally recommend to my friends.
    I am confident they will be benefited from this website.

Leave a Reply

See also: