Rumah Sakit **rumah = home, sakit = sick**

Karena tsunami Jepang yang terjadi tanggal 11 Maret 2011 lalu, saya memutuskan untuk tinggal dulu sementara waktu di Bandung pada 22 Maret 2011 – 19 Mei 2011. Berikut adalah cuplikan percakapan yang terjadi setelah saya kembali ke Jepang:

“Seriusan loe pengen pulang lagi?! Kan ini baru beberapa hari doank di Jepun.”

“Iya beneran gua pengen cepet-cepet pulang, uda ga betah diem di sini. Kayanya ini gara-gara kemaren kelamaan diem di Bandung dech.”

Aneh bin ajaib bukan sodara-sodara?! Baru aja beberapa hari meninggalkan rumah, koq sekarang uda homesick lagi?! Padahal waktu dulu pertama dateng boro-boro dech inget rumah, maen terus aja kepikirannya HaHaHa…

Setelah bertapa 7 hari 7 malam sambil merenung di dalam WC, akhirnya saya menemukan beberapa petuah sebagai berikut:

Alasan pertama mengapa saya lebih memilih tinggal di Indonesia adalah karena 90% makanan Jepun dapat ditemui di Indonesia (khususnya Bandung), sedangkan 90% makanan Indonesia tidak dapat ditemui di Jepun. Yach, hal ini tentunya membuat saya selalu kangen dengan Bandung-ku tercinta. Dua bulan saya berada di Bandung dan ada dua hal rutin yang selalu saya lakukan setiap hari: [1] lunch dengan menu masakan tradisional Indonesia, dan [2] dinner di cafe-cafe terkenal yang memberikan promo diskon 50%. Saat ini ketika saya sudah kembali ke Jepun, hal tersebut tidak dapat lagi saya lakukan. Di sini, setiap harinya saya hanya makan makanan yang itu-itu saja, dengan rasa yang hambar tentunya. Sebenarnya makanan di sini banyak sekali variasinya, tetapi menurut saya rasanya tidak jauh berbeda, alias: **bosen chuy**

Alasan kedua datangnya dari kerabat-kerabat terdekat. Hingga saat ini saya telah membina persahabatan dengan banyak orang dan banyak waktu saya dihabiskan bersama mereka. Ketika saya harus meninggalkan Bandung dan melanjutkan study di Jepun, saya merasakan ada sesuatu yang hilang. Jika saya biasanya bisa makan siang/makan malam bersama teman-teman saya, sekarang saya jauh dari mereka dan saya harus melakukannya sendirian. Jika setiap minggu saya rutin bermain futsal dan bad-mint-on, sekarang olah raga rutin yang saya lakukan adalah bersepeda atau lari dari apartemen ke kampus. Jika setiap malam minggu saya selalu berkumpul bersama teman-teman saya, sekarang yang bisa saya lakukan hanyalah kencan dengan laptop tercinta.

Karena beberapa alasan tersebut, kepulangan saya ke Bandung beberapa waktu yang lalu sempat meninggalkan kesan amat mendalam. Salah satunya ketika ada beberapa orang teman saya dari luar kota yang sengaja datang ke Bandung hanya untuk menemui saya dan mentraktir makan. Tentu saja saya sangat menghargai mereka. Tau peribahasa ini kan: the best gift you can give to someone is your time, because you’re giving them something you can never get back. **Oh my God!!!** Seniat itukah mereka?!

Ketika di Bandung, saya sempat menghadiri beberapa undangan pernikahan. Hari itu, teman saya menikah. Mungkin pernikahannya adalah private party, sehingga hanya beberapa teman dekat saja yang diundang dan saya termasuk salah satunya. **terharu** Bahkan hebatnya, saya juga sempat diundang oleh seseorang yang saya sendiri juga belum kenal, karena sebelumnya kita hanya sempat beberapa kali berkirim email. **setidaknya dia menghargai saya yang membantunya menyusun tugas akhir**

Selain itu, ada beberapa teman yang tiba-tiba memberi ‘hadiah’ kepada saya. Ada yang membawakan berbagai jenis makanan kesukaan saya, ada pula yang memberi saya cross stitch dan kue hasil buatan sendiri. **terharu saya dibuatnya** Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memberikan teman-teman yang sangat care kepada saya.

Jujur saja, selama saya hidup, saya baru dua kali merasakan perasaan seperti ini: [1] ketika saya akan berangkat ke Jepun (waktu itu hampir semua kerabat dekat saya memberikan ini-itu kepada saya, hingga saya pusing dibuatnya dan menuliskan status ini di facebook: “Tahukah kamu bahwa sebagian besar barang yang kubawa adalah pemberian kalian semua?! Mulai dari tas, kaos kaki, bolpen, jaket, sweater, syal, Polo/T-Shirt, kemeja, dompet, dasi, laser pointer, kamus, sabun, _______, sampai celana dalem juga ada… Terima kasih banyak kepada keluarga besar dan teman2x yang selalu mendukungku.”), dan [2] ketika Maret 2011 kemarin saya pulang ke Indonesia (waktu itu saya merasakan banyak sekali orang yang care kepada saya, baik itu merupakan orang yang telah lama saya kenal. maupun orang yang baru saja saya kenal). Mungkin hanya saya sendiri yang dapat merasakan perasaan seperti itu, tetapi intinya satu: **saya benar-benar terharu dibuatnya**

Selama dua bulan di Bandung, saya banyak berkenalan dengan orang-orang baru. Ternyata, beda grup main itu beda juga loh culture-nya. Suatu waktu, ketika baru berkenalan, ada seorang anak dari grup lain yang memecahkan gelas di sebuah cafe dan dia harus menggantinya dengan harga yang cukup mahal. Entah mengapa, tanpa mengeluh sedikit pun, kami semua akhirnya dengan sukarela menyumbangkan uang untuk biaya gelas yang pecah tersebut.

Saya membahas hal ini karena permasalahan tersebut menimpa orang yang baru saja saya temui. Saya berpikir . . . andai saja . . . yach, andai saja yang memecahkan gelas adalah orang tua saya, walau pada akhirnya saya rela mengeluarkan uang untuk mengganti gelas yang dipecahkan, mungkin pada awalnya saya akan bersungut-sungut karenanya.

That’s not a story, guys!!! That’s REAL!!!

Pernahkah secara tidak sengaja, ketika sedang berjalan di tempat umum, kalian menyenggol seseorang tidak dikenal hingga dia terjatuh dan tanpa berpikir panjang kalian cepat-cepat  meminta maaf sambil membantunya bangkit berdiri?! Tetapi jika seseorang tidak dikenal itu adalah orang tua kalian, mungkin kalian akan berkata seperti ini, “Ngapain sich berdiri ngalangin jalan?!” **padahal jelas-jelas kalian yang salah**

Jika hal tersebut pernah terjadi pada kalian, saya yakin bahwa orang tua kalian akan diam saja. Tetapi, di hati kecilnya mereka pasti akan menangis dan sedih karenanya.

Saat ini, di hati kecil saya, ada suatu perasaan bersalah yang saya rasakan. Saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, mengapa saya begitu mudahnya terharu pada kebaikan kecil yang dilakukan orang-orang di sekitar saya kepada saya, padahal orang-orang itu belum tentu sudah kenal lama dan kenal dekat dengan saya.

Ketika ada teman saya yang sengaja datang dari luar kota untuk bertemu dengan saya, saya terharu. Ketika ada teman saya yang memberikan berbagai macam barang kepada saya, saya terharu. Ketika ada orang yang sengaja membuatkan makanan khusus untuk saya, saya terharu. Padahal mungkin mereka baru kali ini saja melakukannya kepada saya.

Bandingkan dengan kedua orang tua saya. Ketika saya sedang sakit, mereka selalu ada buat saya, walau di tengah malam sekalipun. Ketika sudah lewat tengah malam dan saya belum pulang ke rumah, mereka selalu menelepon saya, tetapi saya pasti menjadi kesal karenanya. Ketika saya mau meneruskan study, mereka selalu mendukung saya, walaupun kondisi keuangan mereka juga sedang tidak baik. Seringkali mamih saya sengaja masak makanan untuk saya, tetapi saya jarang makan di rumah. Jika diuraikan, masih banyak lagi pengorbanan kedua orang tua saya untuk anak semata wayangnya ini, tetapi saya?! Biasa aja tuh, malah terkadang saya merasa risih.

Saya baru tau sekarang, bagaimana rasanya jauh dari orang-orang yang kita cintai, yang kita sayangi. Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan, karena dengan kepergian saya ke Jepun, saya bisa banyak belajar tentang hidup. Hiduplah untuk belajar, maka kita akan benar-benar belajar untuk hidup.

Ternyata, di Bandung ada banyak orang-orang spesial yang membuat saya ingin segera pulang, sekaligus menguatkan saya agar tetap bertahan di sini. Melalui tulisan ini, saya ingin menghimbau kita semua agar kita selalu mencintai kedua orang tua kita selagi kita masih dapat melakukannya, jangan sampai kita menyesal kemudian. Selalu ingatlah pada hal berikut: Boyfri[end], girlfri[end], and fri[end] have the end, except for FAMILY:

[F]ather [A]nd [M]other, [I] [L]ove [Y]ou

**happy family**

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

15 Responses to “Rumah Sakit **rumah = home, sakit = sick**”

  1. dede says:

    Cun,broo,ada juga orang yang ke korea dengan gagah berani brooo,hahahaha

  2. Iya bener, Dhe…
    Maneh geo pizan wanian ke Korea sorangan…
    Si Li juga skrg lagi di Korea tuh, megikuti jejak seseorang HaHaHa…

  3. Yanne says:

    Cieee..bener banget Cun…Boyfri[end], girlfri[end], and fri[end] have the end, except for FAMILY
    Kasih org tua ke anak tiada akhir..so make them proud!!! n u did well!!:)

  4. Thankx a lot, Yanne!!!
    SyaLaLaLa…

  5. yessie says:

    Huaaa..jd inget dtraktir k honeymoon dessert.thank u van..jauh dekat kau tetap memberiku smangad hehehe..God bless..
    #pulang traktir lg ya hihi

  6. I stumbled upon it and I’ll be bookmarking it and checking back frequently!

  7. senang membaca posting anda, sll bisa diambil intisarinya, berguna bagi para pembaca yg lain.

Leave a Reply

See also: