Lagi-lagi tentang SKRIPSI

Tuhan memang tidak pernah memberikan ujian yang lebih berat daripada kemampuan umat-Nya, tetapi terkadang beberapa dosen pembimbing memberikan ujian yang jauh lebih berat daripada kemampuan mahasiswanya.

Mungkin banyak dari mahasiswa yang membenarkan pernyataan di atas. Tetapi, apakah kenyataannya benar demikian?!

Sebelum saya membahas permasalahan di atas, silakan jawab dahulu beberapa soal berikut:

———

SOAL #1.1

Dengan menggunakan sebuah pensil, buatlah empat garis lurus yang saling berhubungan TANPA TERPUTUS (tanpa mengangkat pensil sama sekali) dan melintasi kesembilan titik yang ada!

SOAL #1.2

Bagaimana cara membelah kue berikut menjadi 8 potongan yang sama besar, hanya dengan melakukan 3 kali potongan menggunakan sebuah pisau?

SOAL #2

Temukan kesalahan dalam kalimat berikut:

Didalam kalimat ini terdapat tiga kekesalahan.

SOAL #3

Temukan darimana lubang berikut dapat muncul:

———

Sebenarnya, dosen pembimbing tidak pernah memberikan ujian yang jauh lebih berat daripada apa yang seharusnya diuji. Yang jadi permasalahan adalah kualitas riset di negara kita yang masih begitu rendah. Sangat memprihatinkan memang. Dan salah satu pihak yang bertanggung jawab atas hal ini tentunya adalah para dosen pembimbing skripsi/tugas akhir. Oleh karena itu, saat ini mereka sedang gencar menggenjot mahasiswanya untuk membuat sebuah riset yang berkualitas.

Berikut ini saya lampirkan surat edaran Dikti yang memuat ketentuan bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memuat karya ilmiahnya di jurnal ilmiah. Ketentuan ini berlaku bagi lulusan setelah Agustus 2012.

Syarat Lulus S-1, S-2, S-3: Harus Publikasi Makalah

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.

Disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia. Apa saja bunyi ketentuan itu?

[1] Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah.

[2] Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti.

[3] Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.

Ketentuan ini berlaku mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kompas.com menghubungi Dirjen Dikti Djoko Santoso dan berjanji akan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai ketentuan ini pada hari ini, Jumat (3/2/2012).

Beberapa waktu lalu terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, seperti Scopus dan Google Scholar, masih sangat rendah. Tak hanya karya ilmiah para mahasiswa, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Eky S Soeria Soemantri juga mengakui minimnya hasil penelitian para peneliti Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal penelitian internasional.

“Itu makanya para peneliti harus diberikan pelatihan agar memiliki kemahiran dalam menulis,” kata Eky kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

———

Menurut saya, ketentuan baru ini cukup berat memang, mengingat kualitas riset kita yang masih di bawah rata-rata. Saya sudah cukup lama berkecimpung di dunia riset, terutama riset yang berhubungan dengan marketing dan manajemen. Saya juga seringkali menjadi konsultan skripsi, tugas akhir, thesis, dan lain sebagainya. Selama menjadi konsultan, hati kecil saya seringkali berteriak:

[1] Koq (topik/metodologi) risetnya gini lagi gini lagi sich?! **bosen dan uda ketebak hasilnya bakal kaya gimana**

[2] Ini hal-hal ga penting (format penulisan, margin, font, kerapihan tulisan, dsb.) koq selalu jadi bahan perdebatan sich?! **justru hal-hal yang penting ngga dibahas**

[3] **Masalah adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan TEORI yang seharusnya dan berdampak negatif** Mana teorinya?! Sumbernya dari mana?! Terpercaya ga?! Bisa dipertanggung-jawabkan ga?! JANGAN NGARANG!!!

Dan kesimpulannya: Kalo risetnya gitu-gitu terus, gimana bisa masuk jurnal ilmiah?! Ga dibantai paz sidang aja uda untung banget kayanya.

Memang benar sich ada beberapa dosen yang membolehkan mahasiswanya membuat riset dengan kualitas jauh di bawah standar, dan memang benar bahwa riset dengan kualitas seperti itu juga bisa lulus dengan baik, bahkan tidak jarang juga yang mendapatkan nilai akhir A. Tetapi, apakah mereka merasa puas dengan pencapaian seperti itu?! Apakah mereka merasa bangga dengan hasil skripsi mereka sendiri?! Mungkin kalian yang membaca ini akan berkata: “Ah, kalo saya sich yang penting lulus aja dengan cepat.” ATAU “Itu kan mereka aja yang idealis, kalo saya sich yang penting bisa beres dan cepat dapet gelar uda cukup dech.”

Saya sudah banyak menemukan mahasiswa yang memiliki pemikiran seperti itu pada awalnya. Dan apa yang terjadi?! Ternyata mereka SEMUA menyesal dan merasa tidak puas dengan hasil pencapaiannya sendiri. Mereka berpikir, “Ah, seandainya dari dulu saya serius mengerjakan skripsi saya, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik daripada yang sekarang, secara saya juga sudah meluangkan tenaga dan waktu yang sangat besar.” Tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Dan ternyata, penyesalan terbesar muncul bukan atas apa yang telah kita lakukan, tetapi atas apa yang tidak kita lakukan. Jadi, lakukanlah yang semustinya Anda lakukan agar tidak menyesal kemudian.

SELAMA INI, BANYAK MAHASISWA YANG BERPIKIR BAHWA UNTUK MEMBUAT RISET YANG BERKUALITAS, PASTILAH MEMBUTUHKAN WAKTU YANG LAMA, DAN TERNYATA ANGGAPAN TERSEBUT SALAH BESAR.

Berdasarkan pengalaman saya, untuk level skripsi, dari awal penentuan topik sampai dengan selesai, idealnya hanyalah dibutuhkan waktu 3 bulan saja. Sudah banyak mahasiswa (khususnya mahasiswa FE UNPAR) yang membuktikan hal tersebut. Dan hasilnya?! Sebagian besar dari mereka akhirnya mendapat pujian karena pencapaian yang baik.

Dan untuk mahasiswa yang membuat skripsi secara asal-asalan?! Ternyata banyak juga yang dari mereka sudah mengambil skripsi selama 2 semester atau lebih dan masih belum lulus juga karena masih harus revisi ini itu.

JIKA KALIAN INGIN TAHU BAGAIMANA CARA MENYUSUN SKRIPSI/PENELITIAN ILMIAH SECARA BENAR, IKUTI TERUS PEMBAHASAN YANG AKAN SAYA TULIS DI BLOG b0chun.com INI.

Adapun, sedikitnya ada 3 modal utama yang perlu kalian semua siapkan untuk memulai membuat sebuah riset yang baik. Ketiga hal tersebut adalah:

———

JAWABAN #1 : Think Out of The Box

Banyak orang yang tidak dapat menjawab soal ini karena mereka dibatasi oleh kotak pikirannya. Mereka hanya berpikir tentang cara-cara lama, tanpa mau mengembangkan cara-cara baru. Hal itulah yang membuat kreatifitas mereka mati.

Dalam penulisan skripsi pun demikian. Ternyata banyak mahasiswa yang terperangkap dalam topik/metodologi yang sudah ada sebelumnya, tanpa mau berusaha mengembangkannya. Mereka cenderung hanya mau mengikuti contoh skripsi yang sudah ada (di perpustakaan), dan tidak pernah mau belajar dari jurnal-jurnal ilmiah/text book keluaran terbaru. Hal itulah yang membuat kualitas riset kita sulit untuk ditingkatkan.

Berikut adalah cara ntuk membelah kue tersebut menjadi 8 potongan:

[1] belah kue tersebut secara horisontal (menjadi 2 potong kue sama besar)

[2] belah kue tersebut secara vertikal (menjadi 4 potong kue sama besar)

[3] belah kue tersebut di tengah-tengah antara bagian atas dan bawahnya (menjadi 8 potong kue sama besar)

.

JAWABAN #2: Adalah jauh lebih penting CONTENT daripada CONTEXT

Kesalahan kalimat tersebut adalah:

[1] “Didalam” seharusnya menjadi “Di dalam”

[2] “kekesalahan” seharusnya menjadi “kesalahan”

Namun, ternyata banyak orang yang tidak dapat menemukan kesalahan ketiga. Mereka hanya fokus melihat context-nya saja, tanpa memperhatikan content-nya. Dalam penulisan skripsi pun banyak yang demikian. Kecenderungan mahasiswa adalah menjadi idealis untuk hal format penulisan, tanda baca, margin, font, EYD, tebal kertas, penjilidan, dsb; tanpa terlalu peduli pada content skripsinya, apakah risetnya tersebut bermutu/berguna atau tidak.

Dua kesalahan di atas merupakan context, sedangkan kesalahan terakhir terletak pada content-nya. Seharusnya, angka “tiga” diganti menjadi “dua”, namun banyak yang tidak berani merubahnya. Tanya kenapa?!

Adalah lebih penting kualitas riset Anda, daripada bagaimana Anda mengemasnya.

.

JAWABAN #3: Gunakan TEORI yang sesuai

Banyak orang tidak dapat menjawab soal ini karena mereka tidak memiliki teori yang tepat. Banyak orang berpikir bahwa ada yang salah dengan gambarnya, namun mereka sendiri tidak yakin dengan jawaban mereka. Sebenarnya di sini bukan masalah apa jawaban kalian, tetapi bagaimana kalian berargumen mempertahankan jawaban kalian tersebut.

Untuk memecahkan soal ini, ada beberapa teori yang dapat digunakan. Saya sendiri akan mencoba memecahkan soal ini menggunakan teori Trigonometri.

tan A = a/b

Dari soal di atas:

tan (sudut lancip)▲merah ≠ tan (sudut lancip)▲hijau

3/8 ≠2/5

**padahal jika dilihat dari gambar besarnya SAMA**

Seharusnya besar sudut lancip dan tumpul segitiga merah dan hijau tidaklah sama. Namun, jika dilihat di gambar, besar sudut keduanya adalah sama. Hal ini jelas membuktikan bahwa ada yang salah dengan (kotak-kotak) pada gambar tersebut.

Saya benar-benar yakin dengan jawaban saya karena saya didukung oleh teori yang kuat. Umumnya jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi adalah penelitian terapan (applied research) dan bersifat deduktif. Dalam penelitian ini, teori dianggap benar, tetapi penerapannya salah, oleh karenanya menimbulkan masalah.

Dalam penelitian terapan, penggunaan TEORI YANG SESUAI & TEPAT sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, banyak juga mahasiswa yang cari gampang dengan mengutip teori dari skripsi lain yang tidak relevan.

Misalnya saja, saya meneliti tentang tingkat kerajinan direktur di PT X. Saya melihat bahwa ada skripsi lain yang juga meneliti tentang tingkat kerajinan. Lalu saya mengutip teori yang ada di skripsi tersebut dan mendapatkan indikator tingkat kerajinan sebagai berikut:

[1] banyaknya waktu yang diluangkan untuk mengerjakan PR setiap harinya

[2] banyaknya buku pelajaran yang dibaca setiap bulannya

[3] banyaknya waktu yang dihabiskan untuk belajar di perpustakaan

[4] banyaknya tugas yang dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu

[5] dsb.

Walaupun teori tentang kerajinan tersebut adalah benar, tetapi apakah penggunaannya sudah tepat?! Mungkin ketika membaca tulisan saya di sini, kalian semua bisa tersenyum puas, namun ketika kalian sendiri yang berada pada situasi di atas, apakah kalian juga akan terjebak pada hal yang sama?!

———

Sekali lagi, untuk bisa sukses dalam membuat riset (skripsi/tugas akhir), saya benar-benar berharap semoga kalian semua setidaknya memiliki ketiga modal di atas:

[1] Think out of the Box: Be creative!!! Do inovate or die. Jika kalian hebat, kalian bisa menjadi nomor satu. tetapi, jika kalian unik, kalian jadi satu-satunya. Jangan menunggu terinspirasi dulu baru menulis, tetapi mulailah menulis, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu. Jangan menunggu contoh dulu baru bergerak mengikuti, tetapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

[2] Utamakan kualitas content-nya, bukan context-nya: Kunci utama menikmati kopi, bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

[3] Pilihlah TEORI yang sesuai untuk riset kita: Jangan selalu nyontek dari skripsi di perpustakaan, tetapi mulailah gunakan jurnal-jurnal ilmiah. If you steal from one author: It’s PLAGIARISM!!! If you steal from many: It’s RE-SEARCH!!!

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

One Response to “Lagi-lagi tentang SKRIPSI”

  1. Arfida says:

    i do really love your post 🙂 salam kenal saya anak marketing unpad. mendadak googling hipotesis terus nyasar ke blog mas bochun. hehehe, topik bahasan skripsi ngena banget, skrg sy lagi skripsi sm pembimbing yg super duper perfect, jadi tau banget rasanya harus cari teori dan review jurnal bener2….

Leave a Reply

See also: