Nostalgia www.friendster.com

Berikut adalah tulisan saya yang dulu pernah di-post di blog lama pada tanggal 11 Januari 2009. Waktu itu lagi ngetop-ngetopnya Friendster, pengguna facebook pun masih sedikit, tidak seperti sekarang ini, dan kalau tidak salah saya pun pernah berkomentar seperti ini: “Apaan sich facebook?! Orang-orang pada pindah juga gua mah akan tetap setia dengan Friendster.” Tetapi apa buktinya sekarang?! Friendster hanyalah nama semata, bahkan semua orang telah melupakannya.

Mungkin banyak juga dari teman-teman yang bertanya: Kenapa sich Friendster bisa bangkrut, padahal tadinya dia kan market leader dengan memiliki market share yang sangat besar?! Apa sich kelebihan facebook/Twitter, sehingga dia berhasil mengubur Friendster sampai ke dasar bumi yang terdalam?! **halahhh**

Well, karena postingan kali ini bertema nostalgia, maka saya hanya akan menjawabnya secara singkat saja. Intinya, keberhasilan facebook/Twitter saat ini didukung dengan booming-nya perangkat smartphone/tablet seperti BlackBerry, Android, iPhone, iPad, dsb. Intinya, kita dapat men-download facebook/Twitter apps di perangkat smartphone/tablet kita, tetapi tidak dengan Friendster apps.

Ternyata, sebagian besar orang lebih senang mengakses facebook, Twitter, dsb. menggunakan perangkat smartphone/tablet yang bisa selalu ada dalam genggaman mereka. Hanya sedikit orang yang sengaja mengakses facebook/Twitter menggunakan perangkat komputer.

Lagi-lagi kesiapan teknologi-lah yang menghantarkan keberhasilan facebook/Twitter, sekaligus meneggelamkan Friendster. Andai saja saat itu perangkat smartphone/tablet sudah booming ketika Friendster masih naik daun, mungkin sejarah akan bercerita lain.

 

Comment Friendster 01

Bandung, 11 Januari 2011

Hari gini gatau Friendster?!
Dasar kuper kau HaHaHa…

Aku pertama kali membuat Friendster tahun 2004. tepatnya di bulan Maret. Waktu itu dunia per-Friendster-an masih sangat sepi sekali, orang masih banyak yang gatau apa itu Friendster. Followernya pun banyak yang meniru tampilan Friendster, mulai dari Frenster sampai Temanster. Dasar ga kreatip, jangan niru-niru orang donk, ciptakanlah sesuatu yang baru hehehe…

Walaupun saat ini market share-nya masih nomor satu, tetapi pesaing-pesaing potensial mulai bermunculan, mulai dari ngeceng[dot]com, sampai dengan facebook, yang tetap bertujuan untuk sosialisasi, tetapi dengan fitur dan benefit yang berbeda.

Maka dengan segala kelebihannya yang tidak dimiliki oleh Friendster, akhirnya banyak orang menambah (baca: menambah, bukan pindah) berbagai media sosial yang ada tersebut.

Jika di Friendster ada kecenderungan susah ngobrol, maka di facebook fitur ini dipermudah.

Di Friendster sendiri sebenarnya kita bisa mengirim private message ke teman/kerabat kita. Di Friendster juga awalnya ditampilkan kolom testimonial, di mana kita bisa mendapatkan kesan-kesan teman kita tentang kita yang akan terpampang di profile kita.

Saya masih ingat, kira-kira ada sekitar 50 testimonial yang pertama saya dapatkan dengan isi kurang lebih seperti ini:

“Hhmmm… Ngomong-ngomong soal b0chun, gua pertama kenal dia waktu SMA dulu. Dia itu anaknya baik, rajin, ramah, cakep, kaya, setia, suka menolong, gemar berkebun, menanam jagung, bla bla bla . . . .”

Intinya mereka semua bercerita tentang kelebihan dan kekurangan saya. Yach tepatlah jika ini dinamakan: TESTIMONIAL!!!

Tetapi bbrp waktu yang lalu, nama testimonial diganti menjadi comment oleh pihak Friendster. Tapi menurut saya pribadi sich testimonial dan comment maknanya mirip-mirip lah, ga ada bedanya.

Tapi lihatlah isi comment orang-orang belakangan ini:

“Hai, Chun. Kmrn gua sms koq ga dibales?! Sabtu besok maen yux mau ga? Kan uda lama nich ga ngumpul-ngumpul bareng.”

Lalu comment seperti ini biasanya mendapat balesan lagi:

“Oh, sori… Sms yang mana yach?! Gua kan ganti nomer jadi: 080989999. Maen mah hayu aja lah, tar calling-calling lagi yach.”

Nah, terlihat jelas kan fungsi comment di sini uda kaya private message aja, no HP yang rahasia pun bisa dibaca semua orang yang mampir. Fungsi private message-nya sendiri sebagian besar berisi spam message ga jelas.

Dan uniknya, orang-orang koq pada seneng yach kalo jumlah comment mereka tuh bejibun, kaya yang bangga banget gitu rasanya. Mungkin inilah yang menurut Maslow disebut social needs, bisa jadi sudah mencapai self-esteem atau mungkin juga self-actualization.

Comment Friendster 02

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

6 Responses to “Nostalgia www.friendster.com”

  1. Jukie says:

    Cun, gw teh pernah baca di artikel mana gitu ya. Jadi konsep facebook yang beda sama friendster juga yg bikin org2 jadi beralih ke dia. Kalau friendster tuh dibikin dengan konsep nyari temen. Jadi lu kenalan sama org2 yg ga lu kenal. Makanya ada testimoni, jadi orang kasih testimoni biar yang baca mau kenalan sama yg dikasih testimoni itu. Alay lah ya. Nah, klo facebook dia konsepnya mendekatkan temen2 yang ‘jauh’. Jadi yg jadi temen lu yah yang udah lu kenal. Makanya fiturnya jg berbeda. Ga ada testimoni, ya ngobrol aja di wall sama temen lu. Gitu lah kira2… hehe

  2. walah says:

    wakakakak…. frienster sekarang jadi tempat game online, brubah drastis….

    • Cinderella says:

      You’ve got to be kidding me-it’s so trneaparsntly clear now!

    • http://www./ says:

      I’d love a class on Free Motion Quilting. It’s something I admire and envy. Jack is REALLY into sewing right now. My mom is teaching him to sew by hand, then she’ll introduce the machine. I think free motion would be something he’d enjoy in the future.Congratulations on your anniversary!

    • http://www./ says:

      cymbalta, effexor…the list goes on. Mirapex is currently being studied as a treatment for FMS. It’s only approved for RLS right now but It’s quite possible that it will end up being an FDA approved treatment. THe main concern is the side effects, which can be pretty severe. Mirapex worked great for me after the first 2 weeks of adjusting to it. I took it for 6 months and quit when I lost my insurance. I’ll be doing a video review in a couple days on all these meds to be sure to check it out.

Leave a Reply

See also: