When I Become a Sensei

Banyak orang beranggapan bahwa arti sensei adalah guru/dosen. Namun ternyata, di Jepang sendiri kata sensei tidak hanya digunakan untuk memanggil guru/dosen saja, tetapi juga merupakan sebutan untuk memanggil dokter, pengacara, politisi, penulis buku, musisi, artis, dan sebagainya. #woowww

Jika demikian, apa sebenarnya arti dari ‘sensei’?

Kata sensei sendiri terdiri dari dua karakter yang diambil dari karakter China 先生 (xiānshēng):

  1. (sen): lebih dahulu
  2. (sei): terlahir/hidup

Jadi, secara harafiah, sensei adalah ‘orang yang terlahir atau hidup lebih dahulu’ (person born before another).

———

Semester genap 2013/2014 ini, saya resmi mencicipi bagaimana rasanya mengajar di SBM-ITB dan FE UNPAR. Dan sebagai seorang lulusan Jepang, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa yang saya ajar, bahwa saya ingin mereka menganggap saya sebagai sensei.

Saya ingin mereka semua tahu, bahwa saat ini saya bisa berdiri di depan mereka dan mengajar mereka itu bukan karena saya lebih hebat dan lebih pintar dari mereka. Bukan!!! Saya bisa berdiri di depan mereka tak lebih karena dulu saya pernah belajar materi yang sama seperti yang saya ajarkan sekarang. Mengapa bisa?! Yach, tak lain karena saya lahir lebih dulu dari mereka. Saya yakin, saya juga lebih berpengalaman dari mereka, karena . . . . . . saya kan lebih tua dari mereka. #huks

Saya sadar kemampuan saya, saya sadar keterbatasan saya, terlebih saya juga sadar bahwa mahasiswa saya pasti banyak yang lebih pintar dari saya. Hal terebut terbukti benar ketika saya mengajar Statistik di SBM-ITB.

Jujur saya, untuk statistik, saya hanya menguasai konsep dasarnya saja. Saya juga kadang gatau rumusnya apa, dan ternyata mahasiswa saya lebih menguasai rumus daripada saya.

Saya memang banyak menggunakan statistik untuk riset, tetapi saya selalu menggunakan software statistik untuk mengolah data, sehingga ketika diminta menghitung manual, terkadang saya juga lupa bagaimana caranya, dan sekali lagi, ternyata mahasiswa saya jauh lebih jago menghitung manual daripada saya.

Untuk urusan hitung-menghitung manual dan menggunakan rumus, saya yakin mereka lebih hebat dari saya. Terkadang saya juga tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan kepada saya. Dan jawaban saya adalah: “Gatau!!!”

Mungkin saya adalah dosen yang paling sering menjawab ‘gatau’ kalo ditanya. Kalo saya gatau yach saya jawab aja gatau. Saya gamau menjawab asal alias sotoy, dan akhirnya menyesatkan mereka.

Saya selalu berkata, “Saya ga janji bahwa saya bisa jawab semua pertanyaan kalian. Kalo saya gatau yach saya bilang gatau. Tapi saya janji satu hal, bahwa ketika saya gatau jawaban dari pertanyaan kalian, saya akan cari tahu jawabannya, lalu memberitahukannya kepada kalian.”

Dan hasilnya . . . ternyata ketidaktahuan saya tersebut toh tidak membuat mereka tidak respect kepada saya. Thank you aLL!!!

———

Bagi saya pribadi, kelas Tutorial Statistik di SBM-ITB berhasil meninggalkan kesan yang cukup dalam. Walaupun di kelas ada beberapa mahasiswa yang males-malesan, ga serius belajar, yang bandel dan susah diatur, tetapi ternyata di kelas saya juga ada beberapa mahasiswa yang berhasil meraih IPK tertinggi se-angkatan.

Ini adalah kali pertama saya mengajar, dan saya sedikit mengalami kesulitan ketika harus menangani kelas yang kemampuan mahasiswanya sedikit ‘jomplang’. Beberapa mahasiswa dengan IPK terbaik ada di kelas saya, dan mungkin juga beberapa mahasiswa dengan IPK terendah ada di sana. Di kelas saya ada sekumpulan kecil mahasiswa yang rajinnya ampun-ampunan, di lain sisi ada juga sekelompok mahasiswa yang malesnya kelewatan. Ketika sekelompok mahasiswa yang sudah mengerti terus-terusan bertanya agar dapat mengerti lebih dalam lagi, sekelompok mahasiswa lainnya (yang saya yakin mereka tidak paham sama sekali) malah diam khusyuk (karena mungkin mereka sama sekali tidak tahu apa yang harus ditanyakan).

Sebenarnya, saya berharap mereka semua bisa mendapatkan hasil yang maksimal, kalo bisa sich semua nilainya A, AB, dan B. Tapi kalo sudah begini keadaannya, saya kuatir beberapa orang bisa jadi ga lulus.

Saya sadar yang saya ajarkan adalah mata kuliah Statistik, yang membutuhkan logika, pengertian, dan latihan. Menghadapi kondisi seperti ini, terpaksa saya berkali-kali mengganti metode pengajaran saya, dan sepertinya metode tersebut cukup sukses (cukup sukses buat saya loh yach, kalo buat mereka sich saya gatau). Tetapi, apapun itu, saya rasa hasil akhirnya cukup memuaskan (cukup fair dengan hasil kerja keras mereka). Jika sudah begini, jadi lega rasanyaaa… #hufff

Actually, “I cannot teach anybody anything, I can only make them think.” ~ Socrates

———

Jika di atas saya telah menuliskan sedikit kesan-kesan saya untuk mahasiswa tingkat 1 di SBM-ITB yang saya ajar, berikut juga dilampirkan sedikit kesan-kesan dari mereka untuk saya:

**silakan klik untuk memperbesar gambar**

1F_01

1F_03

1F_02

———

Seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, di kelas saya ada beberapa mahasiswa yang meraih IPK tertinggi se-angkatan. Tepatnya, di angkatan tersebut, hanya ada 2 mahasiswa yang berhasil meraih IPK 4, dan keduanya ada di kelas saya. What a coincidence?!

Pastinya 2 orang mahasiswa ini menarik perhatian saya. Saya yakin untuk mata kuliah Statistik, nilai mereka akan menjadi yang tertinggi.

Satu-satunya yang dapat membuktikan dugaan saya tersebut adalah dengan membandingkan nilai quiz, UTS, dan UAS mereka, karena ketiga komponen nilai tersebut memiliki standar penilaian yang sama untuk setiap kelas.

Akhir semester pun tiba, dan ketika saya melihat nilai-nilai mereka, . . . ternyata dugaan saya tersebut salah donk!!! Mereka tidak pernah meraih nilai tertinggi. Padahal, jika saya perhatikan, 2 orang ini sangatlah ambisius dalam mendapatkan nilai terbaik. Mereka juga sangat rajin dalam mengerjakan PR mingguan yang banyaknya aduhai. Pertanyaannya: Koq bisa?!

 Berikut saya lampirkan ilustrasi nilai mereka (bukan nilai sebenarnya):

ilustrasi nilai

Misalkan saja, bobot penilaian untuk tugas, quiz, UTS, dan UAS masing-masing besarnya sama, yaitu 25%, maka nilai akhir dan grade-nya dapat dilihat pada tabel di atas.

Si A adalah mahasiswa dengan IPK terbaik tersebut. Walaupun dia tidak pernah mendapatkan nilai tertinggi, tetapi ternyata dia tetap mendapatkan grade A untuk mata kuliah (yang sangat pelit nilai) ini. Mengapa? Karena dia KONSISTEN selalu mendapatkan nilai minimal 85 (yang merupakan batas bawah untuk meraih grade A).

Ternyata, untuk meraih apa yang kita cita-citakan, kita tidak perlu menjadi yang terbaik. Kita cukup KONSISTEN saja melakukan usaha terbaik yang kita bisa.

Mungkin sesekali kita pernah jatuh, tetapi jangan pernah kecewa dengan hal tersebut. Fokuslah pada tujuan jangka panjang kita dan tetap konsisten melakukan yang terbaik. Percayalah bahwa kita pasti bisa.

———

Saya yakin bahwa semester ini mata kuliah Statistik menjadi salah satu mata kuliah yang terberat. Bayangkan saja, setiap minggunya mahasiswa harus mengerjakan tugas hitung-hitungan yang banyaknya aduhai. Jika tidak percaya mari kita berhitung:

12 minggu x 20 soal/minggu x 5 sub-soal (tiap soal beranak pinak jadi a, b, c, d, e, dsb.) = kurang lebih jadi 1.200 soal

Woowww… Angka yang fantastis kan?!

Ditambah lagi, di setiap pertemuan, mereka diwajibkan aktif mengerjakan soal-soal latihan di papan tulis untuk mendapatkan nilai partisipasi. Belum lagi masih ada tugas membuat video, dsb. #hufff

Tentunya tim pengajar berharap bahwa dengan adanya tugas-tugas yang diberikan tersebut mampu membuat mahasiswa mengerti dan memahami tentang statistik. Tetapi nyatanya, ternyata banyak juga mahasiswa yang nyontek PR ke teman-temannya. Yach wajarlah yach, mengingat soal-soal PR Statistik yang banyak, susah, plus waktu pengerjaan yang minim, belum lagi ditambah dengan tugas-tugas dari mata kuliah lain yang banyaknya juga aduhai.

Walaupun demikian, ternyata beberapa orang (yang saya yakin memiliki IPK terbaik) tetap konsisten berusaha mengerjakan PR-nya sendiri (walaupun mungkin mereka juga kemudian jadi stress sendiri). Mereka juga rajin maju ke depan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Maklum lah anak-anak ambisius.

Jika saya perhatikan, para mahasiswa yang berusaha mengerjakan PR-nya sendiri ini ternyata mampu meraih nilai ujian yang baik, dan sebagai hasilnya, grade mereka juga baik donk, kalo ga A yach AB atau B lah. Lumayan kan?!

Sekali lagi, dari mereka saya belajar bahwa untuk meraih hasil yang maksimal, maka kita harus konsisten latihan. Fokuslah pada proses, jangan hanya pada hasil akhirnya. Mengapa?! Karena jika kita menjalani prosesnya dengan baik, maka kita pun akan mendapatkan hasil akhir yang baik. Tetapi, jika kita tidak mau berjuang pada proses yang seharusnya kita lalui, maka hasil akhirnya pun akan menjadi tidak maksimal.

Dan saya akan menutup postingan kali ini dengan quote berikut:

“Practice doesn’t make perfect.
Only perfect practice makes perfect.”

Itulah sedikit pelajaran berharga yang saya dapatkan selama 1 semester mengajar.

^_^V

======================================

PERHATIAN!!! Boleh copy-paste, tetapi mohon cantumkan sumber dengan linkback ke http://www.b0chun.com/. Terima kasih!!!

======================================

13 Responses to “When I Become a Sensei”

  1. kevin says:

    Very nice and inspiring
    Glad to have k ivan as sensei who teach lessons of studies and life

  2. De apariencia, divinas. En mi opinión probablemente hubiera ido mejor con azúcar glass, probablemente menos granulosas y más finas, pero en todo caso, me parecen buenísimas, y menuda cantidad, tendras paciencias para todo un regimiento con esas doscientas unidades.un beso

  3. I wanted to follow up and allow you to know how , a great deal I liked discovering your web site today. I might consider it a real honor to do things at my office and be able to use the tips discussed on your web page and also take part in visitors’ remarks like this. Should a position involving guest article author become offered at your end, i highly recommend you let me know.VA:F [1.9.17_1161]please wait…

  4. kfz 24.de says:

    Global Warming is a corporate tool to tax CO2 output. Paying someone for CO2… Who has the right to own CO2? Does that mean every time we exhale we owe someone money? The trees breath CO2 and produce oxygen in response.Please read actual scientific evidence not produced by companies trying to regulate CO2, you'll see an entire different story.The fact of the matter is, we need to take care of the earth, but An Inconvenient (LIE) is a ploy for Al Gore to own CO2 OUTPUT of the entire country.

  5. APA ADA PADA KETUANAN MELAYU YANG DIBANGGAKAN.BANGSA MELAYU MASIH DIBELAKANG DALAM SEGALA HALTAK PERLU CABUT KERIS TUMPUL PASAL KETUANAN MELAYU.MAJUKAN BANGSA MELAYU SUPAYA BOLEH BERSAING DISEMUA SEGI.APA TINDAKAN PUAK UMNO?

  6. I think these tips were great. Thank you so much. This website’s amazing, I’m so glad I’ve discovered it.

  7. >I don't know which takes top honors . . . running thirty races in one year or running the California International Marathon one year after starting running and quitting smoking. Wow!!! Bravo!I was also envious of those "worn out" shoes . . so clean (not like mine that are more brown than white)!The photos are striking and lovely (as is Lenora).Liz Fancher

  8. http://www./ says:

    obummer IS NOT ELIGIBLE. SHE ALSO SAID THAT A CLOSE FRIEND OF CLINTON WAS MURDERED BECAUSE OF THE 'IN'ELIGIBILITY STORY, AND THAT THE CLINTON'S DAUGHTER CHELSEA WAS THREATENED.

  9. Good Chiropractor In Santa Monica

    When I Become a Sensei – GODISNOWHERE™

  10. Powershot Sd1200 Review

    When I Become a Sensei – GODISNOWHERE™

  11. Mathiasstockton12.Soup.Io

    When I Become a Sensei – GODISNOWHERE™

Leave a Reply

See also: