Archive for the 'It's all about LIFE!!!' Category

Jan 05 2009

Wanita itu memalingkan wajahnya…

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

hmmSemasa kuliah, wanita inilah yang suka memberikan pinjaman catatan kepadaku…

Ketika aku tak mengerti tentang feasibility study dan segala sesuatu yang berkaitan dengan finance, dia jugalah yang mengajariku banyak hal…

Ketika aku kesulitan mengedit skripsiku yang bahasanya acak-acakan, dia mengambil alih tugas itu, tidak hanya itu, dia juga selalu menyemangatiku untuk segera menyelesaikan skripsi…

Ketika papa mamaku pergi ke luar kota dan aku lupa bahwa aku tidak memegang uang tunai sedikit pun, dia berinisiatif memberiku uang dan menawarkan untuk memasak makanan untukku…

Setelah lulus dan sedang mencari kerja, dia selalu menyemangatiku… Sampai detik ini pun dia selalu menyemangatiku dalam berbagai hal…

Dia yang selalu menemaniku ngobrol, mendengarkanku ketika aku curhat, bermain bersamaku di waktu senggang, dan banyak lagi hal-hal lainnya yang telah dia lakukan untukku…

Tapi apa yang telah kulakukan terhadapnya??? Tak satupun hal yang berarti kecuali membuatnya marah atas kesalahan konyol yang aku lakukan…avatar

Kehadirannya mungkin tak terlalu aku acuhkan ketika kami bermain bersama, tetapi jika tak ada dirinya, pasti aku merasa kehilangan… Yach, mungkin itu memang sudah sifat dasar manusia, ketika ada tak pernah dihargai, tetapi ketika hilang baru terasa bahwa sesuatu itu sungguh tak ternilai harganya… Dan skrg aku benar-benar merasakan bahwa ternyata dia adalah salah satu temanku yang paling berharga buatku…

Saat ini yang dapat kulakukan hanyalah meminta maaf terhadapnya dan berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan bersikap egois lagi…

Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua…

6 responses so far

Jan 03 2009

Berpikirlah sebelum bertindak!!!

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

Beberapa waktu yang lalu aku sempat melihat Friendster-nya si Riema dan menemukan shoutout yang menggugah hati, akhirnya aku nge-google dan mendapatkan artikel lengkapnya…

Diceritakan di ruang tunggu sebuah bandara, seorang ibu muda terlihat tengah menunggu pesawat yang akan membawanya terbang. Karena harus menunggu keberangkatan cukup lama, ia memutuskan untuk membeli buku. Ia juga membeli sebungkus biskuit sebagai camilan sambil membaca buku. Itu memang lebih baik sebagai pengusir kejenuhan.

Si ibu muda duduk di salah satu kursi ruang VIP. Dengan menyadarkan tubuhnya yang terlihat terawat dengan baik, ia mulai membaca buku yang baru dibeli. Karena mungkin isi bukunya menarik, si ibu muda langsung saja tersihir untuk tetap fokus pada bacaan. Dia seperti tidak ingin terganggu oleh kesibukan di sekitarnya.

Di kursi sebelah, yang cuma dipisahkan meja kecil, duduk seorang pria yang lantas saja sibuk membuka majalah dan larut membaca. Di atas meja tampak sebungkus biskuit. Untuk beberapa saat, si ibu muda tak terusik oleh kehadiran pria lumayan tampan di sebelahnya. Ia hanya sempat melirik sejenak memastikan orang yang duduk di sebelahnya adalah orang baik-baik. Matanya juga sempat menangkap bungkus biskuit di atas meja.

Si ibu muda mulai terusik ketika ia mengambil sepotong biskuit dari bungkusnya di atas meja. Si pria pun ikut mengambil sepotong. Untuk kedua kalinya pun begitu. Si ibu muda jadi merasa terganggu oleh prilaku pria di sebelahnya. Iapun berguman saking dongkolnya: “Huh…! Menyebalkan! Ingin rasanya kutampar saja mukanya!”

Sialnya, kejadian itu tidak berlangsung satu-dua kali. Tapi setiap si ibu muda mengambil sepotong biskuit, si pria pun selalu ikut mengambil sepotong. Hampir amarah si ibu muda meledak kalau tidak ingat sedang berada di ruang VIP. Ia begitu geram melihat perbuatan pria yang dianggapnya sangat tidak sopan.

Ketika biskuit tinggal sepotong, si ibu muda bergumam dalam hati: “Coba saja! Ingin lihat apa yang akan dilakukannya.” – Konyolnya, tanpa merasa jahil, si pria membelah biskuit. Ia mengambil separoh dan mempersilahkan si ibu muda untuk menikmati sisa parohannya. Walau si pria tersenyum simpatik menawarkan, namun hati si ibu muda sudah tidak tahan. “Keterlaluan!!” rutuknya dalam hati sambil bergegas mengemasi barang dan pindah ke boarding room. Ibu muda merasa harga dirinya telah dipermainkan. Benar-benar menjijikkan laki-laki yang tidak kenal sopan santun itu!

Masih dengan kegeraman hati oleh kejadian yang baru dialaminya, akhirnya si ibu muda berusaha lebih menangkan diri setelah duduk di dalam pesawat yang akan membawanya pergi. Dia pikir, lebih cepat berangkat, lebih cepat pula melupakan si pria “kurang ajar”.

Minat untuk melanjutkan bacaan buku yang sempat tertunda tadi sudah hilang. Ibu muda ingin mencoba tidur saja. Maka, ia membuka tas jinjing miliknya untuk mengambil kaca mata. Betapa terkejutnya dia… Ternyata biskuit yang dibelinya tadi masih utuh dalam tas jinjingnya. Melihat itu mulut si ibu muda kontan ternganga dengan mata besar seperti tak percaya. Rasa malu, merasa bersalah, dan menyesal menyesak dada hingga membuatnya sulit bernafas.

Pria tadi membagi biskuit kepunyaannya kepada si ibu muda tanpa merasa marah, terganggu, ataupun merasa rugi. Sementara si ibu muda, tanpa menyelidiki terlebih dulu biskuit itu milik siapa, sudah begitu marah saat sesamanya manusia turut menikmati kebahagiaannya.

Ternyata, di dalam hidup ini ada 4 hal yang tidak dapat diraih kembali:

  1. Batu… setelah dilempar…
  2. Kata-kata…  setelah diucapkan…
  3. Kesempatan… setelah berlalu…
  4. Waktu… setelah beranjak pergi…

…….

Membaca artikel di atas aku jadi teringat pada kisah berikut:

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ketika ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku, Paku? Ya, paku!

Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata bijak kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakan rumah setiap kali marah. Ajaib!

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku! Begitu juga di hari kedua, ketiga, dan beberapa hari selanjutnya. Tapi tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan begitu banyak paku ke pagar.

Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak telah bisa mengendalikan amarahnya. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari di mana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ditancapkannya. Ia bergegas melaporkanm kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bengkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah itu.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya,” kata sang ayah bijak.

Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek-pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu.

“ Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau kepada seseorang., lalu mencabut p[isau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik,” ucap sang ayah lembut namun sarat.

Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghunjam relung hatinya.

…….

Mungkin sebagian besar dari kita pernah membaca atau sempat mendengar kedua cerita di atas… Namun di sini aku hanya ingin menekankan 1 hal: Jangan sampai menyesal akan segala sesuatu yang telah kita lakukan, Segala sesuatu yang kita lakukan pasti memiliki dampak bagi orang lain, bisa itu positif, bisa juga negatif. Berpikirlah sebelum bertindak, karena jika kita salah bertindak, maka kita tidak mungkin menarik kembali tindakan kita itu. Kita bisa saja dengan mudah meminta maaf kepada seseorang dan dia bisa saja dengan mudah memaafkan kita, tetapi ingatlah bahwa semuanya itu tetap akan membekas di hati…

Peace…

^_^V

No responses yet

Jan 02 2009

Setelah 32 tahun masa pemerintahan Paman Gober

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, “Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu.” Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hampir selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada dipihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan diri ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
“Dunia sudah jungkir balik,” ujar Nenek Bebek kepada Agus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Agus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

“Suatu hari dia pasti mati,” ujar Kwik.

“Memang pasti, tapi kapan?” Kwak menyahut.

“Kwek!” Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!”

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Paman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

“Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?”

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.

“Terlalu, masak tidak ada bebek lain?”

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

“Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula.”

“Apakah saya tidak punya hak bicara?”

“Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih.”

“Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia.”

“Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia.”

“Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?”

“Yang jelas manusia bisa makan manusia.”

“Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat manusia?”

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

“Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?”

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

“Paman Gober,” kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi.”

“Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan.”

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada satu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia.

“Paling kaya di dunia?” Kwak bertanya.

“ Iya, paling kaya di dunia,” jawab Nenek Bebek.

“Apakah itu hakikat hidup bebek?”

“Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober.”

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu: Apakah hari nin Paman Gober sudah mati. Seriap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

…….

Membaca kisah di atas aku jadi teringat 1 peribahasa lama:

“Ketika lahir, kita menangis dan orang-orang di sekitar kita tertawa;

tetapi ketika wafat, usahakanlah kita tertawa di tengah-tengah tangisan orang-orang…”

Melihat kisah hidup Paman Gober, sepertinya ketika lahir maupun wafat, orang-orang di sekitarnya tetap tertawa, hampir tidak ada yang menangis…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya, bukan??? Apakah ia tidak termasuk pahlawan yang telah berhasil membangun negeri ini???

Apapun itu, aku hanya ingin mengajak kita bercermin sejenak… Pikirkanlah, dengan sikap dan perbuatan kita selama ini, jika kita wafat nanti, apakah banyak orang yang menangisi kepergian kita??? Atau justru sebaliknya, kerabat-kerabat kita justru mendoakan supaya kita cepat-cepat dipanggil yang kuasa???

Di tahun yang baru ini marilah kita instropeksi diri kita masing-masing, marilah kita berusaha membuang sikap kita yang buruk dan menggantinya dengan sesuatu yang bermanfaat…

:)

No responses yet

Dec 25 2008

Kebenaran HAKIKI

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

Sebenernya ini merupakan kuliah pertama metlit…

Pinter-pinter gini juga aku pernah ikut kelas metlit sebanyak 5 kali, dan inilah penjelasan VJWW pada kuliah perdananya:

Penelitian bahasa Inggrisnya adalah re-search…  ”re” artinya kembali dan “search” artinya mencari… Jadi secara harafiah, research artinya mencari kembali… Dan apa yang dicari kembali? KEBENARAN!!!

Sebenernya, apa sich yang dimaksud dengan kebenaran… Di jaman yang uda serba ga jelas ini terkadang kita sendiri gatau mana yang benar mana yang salah…

Segala sesuatu dapat dibuktikan salah, tetapi segala sesuatu tidak dapat dibuktikan benar… Dan segala sesua yang belum dapat dibuktikan salah, hal tersebut masih dianggap benar… Hal ini banyak terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan… Misalnya saja sebelum dapat dibuktikan bahwa bumi itu bulat, maka penyataan bahwa bumi itu datar masih dianggap benar… Sebelum diketemukan planet ke-10 dan ke-11, planet Pluto masih dianggap benar sebagai planet terjauh dari matahari… Dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang akhirnya dianggap salah ketika ada penemuan baru yang dianggap benar…

Kebenaran sendiri dapat digolongkan menjadi 4 kategori:

1. Kebenaran DEDUKTIF

Sesuatu dianggap benar jika ada pendahulunya (yang dianggap benar)…

Misalnya saja bukti bahwa aku merupakan anak dari papa mamaku adalah melalui akte kelahiran dan melalui kartu keluarga…

Atau contoh lainnya, kita percaya bahwa bumi mengelilingi matahari karena kita menganggap penelitian para peneliti itu benar. Hasil penelitian mereka dapat kita jumpai dari berbagai sumber…

2. Kebenaran INDUKTIF

Sesuatu dianggap benar jika dapat diobservasi secara indrawi (dapat ditangkap oleh kelima indra manusia) dan dapat dibuktikan secara empiris…

Misalnya saja, bahwa aku merupakan anak dari papa mamaku dapat dibuktikan dengan tes DNA…

Contoh lainnya, jika kita ingin membuktikan bahwa bumi memang benar-benar berputar mengelilingi matahari, maka kita dapat melakukan berbagai penelitian secara empiris untuk membuktikan kebenaran hal tersebut…

3. Kebenaran PRAGMATIS

Sesuatu dianggap benar jika menguntungkan…

Contoh kasus: misalnya ada kembar siam yang memiliki 2 kepala, 4 lengan, 4 kaki, tetapi hanya memiliki 1 bagian tubuh dan 1 jantung dan 1 paru-paru… Atau kasus yang lebih sering terjadi ketika seorang ibu melahirkan ia bagaikan makan buah simalakama, jika si anak dikorbankan maka si ibu selamat dan sebaliknya, tetapi jika kedua-duanya dipertahankan maka keduanya akan menjemput ajal… Di sini kita harus memilih mana yang akan kita “bunuh” untuk menyelamatkan yang lainnya… Di sini sesuatu dianggap benar JIKA MENGUNTUNGKAN…

Contoh lainnya: Sudah barang tentu harga buku teks wajib itu mahal… Dan sudah barang tentu fotokopi itu jauh lebih murah namun melanggar hak cipta… Banyak kasus di mana ketika seorang mahasiswa tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku teks wajib, sedangkan jika tidak memilikinya maka ia tidak dapat belajar sehingga tidak akan lulus… Akhirnya yach si dosen juga maklum ketika mahasiswanya memfotokopi buku teks wajib, walaupun hal tersebut sebenarnya salah… Sesuatu tetap dianggap benar selama hal tersebut menguntungkan…

Namun, sangatlah disayangkan, karena sebagian besar orang kemudian memilih kebenaran yang pragmatis ini… Akhirnya mereka cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungannya sendiri…

4. Kebenaran HAKIKI

Merupakan kebenaran yang benar2x BENAR, datang dari sang PENCIPTA… Atau kata lainnya kebenaran hakiki merupakan kebenaran yang dilihat dari sudut pandang TUHAN!!! Tidak ada yang dapat mendebat… Benar yach benar, salah yach salah… Titik!!!

Sudahkan kita mencapai kebenaran hakiki itu???
Jika belum, di hari Natal ini penulis mengajak kita semua untuk berubah guna mencapai kebenaran hakiki tersebut…

Merry X’mas all…

Jesus Loves You always…

One response so far

Dec 25 2008

TAHU vs. TIDAK TAHU

Published by b0chun under It's all about LIFE!!!

Jika dikelompokkan berdasarkan pengenalan dirinya sendiri, manusia dapat digolongkan menjadi 4 tipe:

Tipe pertama:

MEREKA YANG TAHU BAHWA MEREKA TAHU

Mereka ini adalah tipe orang-orang yang PINTAR, misalnya saja orang berikut ini:  V.J. Wisnu Wardhono, Drs., MSIE.

Sosok ini merupakan dosen pembimbingku. Pengetahuannya sangatlah luas, mulai dari politik sampai ke research methods, mulai dari gosip artis sampai ke marketing pasti semuanya dia tahu. Dia tahu dan sadar betul akan pengetahuannya tersebut, karenanya sampai saat ini pun aku belum berhasil mengalahkannya ketika berdebat tentang apapun.

Tipe kedua:

MEREKA YANG TAHU BAHWA MEREKA TIDAK TAHU

Mereka ini adalah tipe orang yang RENDAH HATI. Mereka sadar betul akan kekurangannya dan mereka mengakuinya. Contohnya si Dhe2x… Dia sadar betul bahwa dia orangnya penakut dan dia mengakuinya. Tetapi anehnya, uda mah tau takut eh malah ngajakin mulu nonton yang horor2x hahaha…

Orang dengan tipe kedua ini juga cenderung berusaha keras untuk mengantisipasi ketidaktahuan mereka… Contoh lainnya adalah temanku si Chindra… Dia sangat low profile dan merasa bodoh untuk semua mata kuliah sehingga dia belajar ekstra keras… Hasilnya, dia berhasil menjadi mahasiswa terbaik dengan hanya memiliki 1 nilai C saja pada mata kuliah berbobot 2 sks…

Tipe ketiga:

MEREKA YANG TIDAK TAHU BAHWA MEREKA TAHU

Mereka ini adalah tipe yang POTENSIAL… Sebenarnya mereka mampu, tetapi mereka tidak menyadari kemampuannya tersebut. Jika, kemampuannya ini diasah dengan baik, maka dia akan memiliki keunggulan kompetitif. Contohnya: Faustine! Seringkali aku iri dengan kemampuan yang dimilikinya, tetapi dia seringkali minder dengan dirinya sendiri, sehingga seringkali aku harus berusaha keras memotivasi dia… Dan hasilnya, dia yang merasa tidak mampu akhirnya bisa menyelesaikan segala sesuatunya dengan baik, karena sebenarnya dia mampu, hanya saja dia tidak sadar akan kemampuan dirinya sendiri…

Tipe keempat:

Nah ini dia tipe yg picabokeun…

MEREKA YANG TIDAK TAHU BAHWA MEREKA TIDAK TAHU

Mereka ini adalah tipe orang yang SOK TAHU dan cenderung KERAS KEPALA UNTUK MEMPERTAHANKAN SESUATU HAL YANG SALAH!!!  Mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu… Yang mereka tahu adalah mereka tahu, padahal hal tersebut salah… Di UNPAR aku menemukan ternyata banyak juga tipe orang yang seperti ini… Menurutku hal tersebut terjadi karena 2 alasan:

1. mereka benar-benar tidak tahu bahwa mereka tidak tahu

2. walaupun mereka tahu bahwa mereka tidak tahu juga mereka gengsi mengemukakannya

Hal ini dapat jelas terlihat ketika sehabis sidang/ujian kita menanyakan apakah dia bisa atau tidak dan biasanya beginilah jawabannya:

“Oh bisa koq!!! Gampang itu mah!!!”

“Lumayan lah bisa!!! Dosen pengujinya baek koq ga nanya macem2x!!!”

Eh gataunya paz keluar hasilnya: FAILED alias GA LULUS!!!

Cape dech…

4 responses so far

 Page 3 of 4 « 1  2  3  4 »

Search