Dec 22 2008
Untuk seseorang yang bernama: IBU!!!
Mendidik anak ternyata bukanlah suatu hal yang gampang, bahkan persoalan siapa yang lebih bertanggung jawab untuk mendidik anak ini sering menjadi permasalahan dalam keluarga. Berdasar adat istiadat yang diwarisi secara turun temurun, ibu lebih dominan untuk mengurusi tugas-tugas rumah tangga termasuk mendidik anak.
Ibu akan begitu dipuji ketika si anak mendapatkan rangking kelas, mampu meraih cita-cita yang tinggi, menjadi anak yang baik. Tetapi ibu juga sangat disalahkan bahkan dituding-tuding merupakan sosok yang tak mampu mendidik anak jika ternyata si anak tersebut kurang ajar, tak pernah rangking kelas atau terlibat dalam pergaulan bebas seperti narkoba, seks bebas dan sebagainya.
Lalu, timbul pertanyaan: Apakah seorang ibu merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab dalam tugas mendidik anak???
Jika saya harus menjawab, maka jawaban saya adalah: “YA!!!”
Saya merupakan anak tunggal yang dibesarkan di tengah keluarga yang serba berkecukupan. Sejak kecil ibu selalu mengajari saya banyak hal dan ia juga selalu memarahi saya ketika saya bertindak kurang ajar. Ia menjadi teman saya di kala suka maupun duka. Bahkan ketika saya mulai bersekolah sampai lulus kuliah, segala sesuatunya rela ia korbankan demi kesuksesan anaknya.
Saya sangat bersyukur memiliki ibu yang sangat baik. Walaupun saya seringkali membuatnya kecewa, tetapi kasihnya kepada saya tidak ada batasnya. Walaupun saya seringkali membuatnya marah karena kenakalan saya, tetapi setiap hari, di doanya, sebagian besar kata yang terucap adalah nama saya…
Di waktu ku masih kecil
Gembira dan senang
Tiada duka ku kenang
Tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi
Ibuku bertelut
Sujud berdoa kudengar
Namaku disebut
Di doa ibuku
Namaku disebut
Di doa ibu ku dengar
Ada namaku disebut
Seringlah kini kukenang
Di masa yang berat
Di kala hidup mendesak
dan nyaris kusesak
melintas gambar ibuku
sewaktu bertelut
kembali sayup kudengar
namaku disebut
Di doa ibuku
Namaku disebut
Di doa ibu ku dengar
Ada namaku disebut
Ibuku merupakan seseorang yang cerewet. Tetapi di balik kecerewetannya itu dia jarang sekali marah. Ia hanya memberikan nasihat-nasihat saja kepadaku: “Jangan begini, jangan begitu! Harus ini, harus itu!”. Kadangkala aku sebal mendengarnya, tetapi setelah dipikir-pikir semuanya itu dia lakukan karena dia sayang kepadaku. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpaku.
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang
Nada-nada yang indah
S’lalu terurai darimu
Tangisan nakal dari bibirku
Tak ‘kan jadi deritamu
Tangan halus dan suci
T’lah menangkap tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku s’lalu dimanja
Kata mereka diriku s’lalu ditimang
Oh Bunda ada dan tiada
Dirimu ‘kan selalu ada di dalam hatiku




