Archive for the 'Panduan seminar & skripsi' Category

Dec 29 2008

Contoh BAB III Metode dan Obyek Penelitian

Published by b0chun under Panduan seminar & skripsi

Judul Thesis:  ANALISIS PENGARUH PERSEPSI KONSUMEN ATAS EXPERIENTIAL MARKETING DARI ATMOSPHERE RESORT CAFE TERHADAP POSITIVE WORD OF MOUTH

 

3.1 Metode Penelitian

            Berdasarkan tujuannya, penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied research), karena penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan informasi yang hasilnya diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menyelesaikan suatu masalah di perusahaan Atmosphere Resort Cafe (Sekaran, 2003:7). Menurut Simamora (2004:47), penelitian ini dilakukan dengan mendayagunakan teori yang tersedia sesuai masalah yang diteliti.

            Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian survey, yaitu “Penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok” (Singarimbun & Effendi, 1995:3).

            Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu : bertujuan untuk menggambarkan secara cermat karakteristik dari suatu gejala atau masalah yang diteliti dalam satu situasi (Silalahi, 1999:51). Penelitian ini juga mencoba untuk menjelaskan tentang pengaruh antara dua atau lebih gejala atau variabel. Oleh karena itu penelitian ini digolongkan sebagai penelitian eksplanasi (Silalahi, 1999:53).

 

3.1.1    Studi Pendahuluan

            Sebelum melakukan pengumpulan data, penulis melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu melalui observasi dan wawancara tidak terstruktur. Observasi dilakukan di Atmosphere Resort Cafe, Jl. Lengkong Besar no. 97, Bandung. Wawancara tidak terstruktur dilakukan dengan seorang Wakil Manajer di Atmosphere Resort Cafe, Jl. Lengkong Besar no. 97, Bandung (pedoman pertanyaan wawancara tidak terstruktur dapat dilihat pada lampiran no.2 di bagian akhir penelitian ini) serta 10 (sepuluh) orang konsumen Atmosphere Resort Cafe. Tujuan dari studi pendahuluan ini adalah untuk memperoleh gambaran dalam menentukan masalah dan sebagai bahan masukan untuk melakukan penelitian.

 

3.1.2    Populasi Penelitian

            Menurut Sekaran (2003:265), “Population refers to the entire group of people, events, or things of interest the researchers wishes to investigate”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh konsumen yang pernah makan di Atmosphere Resort Cafe Bandung. Dalam penelitian ini sulit diketahui ukuran populasi yang sebenarnya karena tidak adanya daftar pengunjung Atmosphere Resort Cafe dan jumlah konsumen yang besar serta sulit untuk menemukannya.

 

(to be continued ah…)

No responses yet

Dec 29 2008

Contoh BAB II Tinjauan Pustaka

Published by b0chun under Panduan seminar & skripsi

Judul skripsi: Analisis Hubungan Antara Brand Image SMPK X Dengan Niat Orangtua Menyekolahkan Anaknya Ke SMPK X

2.1 Definisi Jasa

Menurut Kotler (2003:444):

“A service is any act or performance that one party can offer to another that is essentially intangible and does not result in the ownership of anything. Its production may or may not be tied to a physical product.”

Menurut Palmer (2001:3), jasa adalah “The production of an essentially intangible benefit, either in its own right or as significant element of a tangible product, which through some form of exchanges, satisfies an identified need.” Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa jasa adalah suatu tindakan penawaran oleh seseorang/sekelompok orang yang menawarkan barang yang tidak berwujud dan juga tidak berupa kepemilikan yang berkaitan dengan barang fisik, yang memuaskan kebutuhan seseorang atau sekelompok orang.

2.2 Karakteristik Jasa

Menurut Kotler (2003:445), jasa mempunyai empat karakteristik yang berpengaruh terhadap proses mendesain program pemasaran jasa:

1. Intangibility

Tidak seperti produk fisik, jasa tidak bisa dilihat, dirasakan, dicicipi, didengar atau dicium sebelum jasa dibeli. Untuk mengurangi ketidakpastian, pembeli jasa akan mencari bukti kualitas jasa. Mereka akan mencari bukti kualitas dari tempat, orang-orang penyedia jasa, perlengkapan, peralatan komunikasi, simbol dan harga yang mereka lihat. Karena itu, tugas penyedia jasa adalah “tangibilize the intangible”.

2. Inseparability

Jasa diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Jika seseorang menawarkan jasa, maka dia pun merupakan bagian dari jasa itu sendiri karena pembeli jasa juga ikut hadir ketika jasa diproduksi, maka interaksi antara penyedia dan pembeli jasa merupakan special feature dari pemasaran jasa.

3. Variability

Jasa sangat bervariasi karena jasa tergantung pada penyedia jasa, kapan dan dimana jasa tersebut diberikan. Pembeli jasa sadar akan hal ini dan seringkali mereka berbicara pada orang lain sebelum memilih penyedia jasa. Untuk mengatasi hal ini penyedia jasa dapat mengambil tiga langkah pengendalian kualitas. Yang pertama, berinvestasi pada prosedur latihan dan perekrutan karyawan yang baik. Yang kedua menstandarisasikan proses performance jasa di seluruh organisasi. Dan yang ketiga memonitor kepuasan konsumen lewat sistem komplain dan saran, survey konsumen dan comparison shopping.

4. Perishability

Jasa tidak bisa disimpan. Sifat jasa yang tidak bisa disimpan ini tidak menjadi masalah jika permintaan stabil. Ketika permintaan berfluktuasi, perusahaan jasa akan mendapat masalah. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan permintaan misalnya dengan differential pricing, nonpeak demand, complementary services, reservation systems. Sedangkan untuk menyeimbangkan penawaran dapat dilakukan dengan menyewa pekerja part-time, part-time effeciency, meningkatkan partisipasi konsumen, shared services atau fasilitas bagi ekspansi di masa yang akan datang.

2.3 Brand

Miller dan Muir (2004:3) mendefinisikan brand sebagai berikut: “A brand is a name and/or symbol that is directly used to sell products or services. In addition, a brand almost always has a visual expression: a symbol of some kind, a design, a trademark, a logo.”

Selain itu, menurut Gardner dan Levy (1955) brand didefinisikan sebagai:

“A complex symbol that represents a variety of ideas and attributes. It tells the consumer many things, not only by the way it sounds (and its literal meaning if it has one) but, more important, via the body of associations it has built up and acquired as a public object over a period of time.”

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu brand merupakan simbol yang digunakan untuk menjual produk atau jasa. Brand juga menunjukkan asosiasi yang dibangunnya sendiri dan dapat berupa simbol sesuatu, desain, trademark dan logo. Selain itu, brand dapat dikatakan sebagai janji seorang penjual atau perusahaan untuk konsisten memberikan value, manfaat, feature, dan performance tertentu bagi pembeli (Aaker, 1996:68).

Menurut American Marketing Association: “A brand is a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them intended to identify the goods and services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competition.” Menurut definisi brand ini, kunci utama untuk menciptakan sebuah brand adalah memilih sebuah nama, logo, simbol, desain kemasan, atau atribut lain yang mengidentifikasikan suatu produk dan membedakannya dari produk lain.

Brand dikatakan memiliki enam tingkat pengertian (Kotler,2003:148):

1. Attributes : a brand brings to mind certain attributes.

2. Benefits : attributes must be translated into functional and emotional benefits.

3. Values : the brands also says something about the producer’s values.

4. Culture : the brand may represent certain culture.

5. Personality : the brand can project a certain personality

6. User : the brand suggests the kind of consumer who buys or uses the product.

Perusahaan penyedia jasa perlu meneliti posisi brand mereka dalam benak konsumen. Menurut Keller (1998), sesuatu yang membedakan suatu brand dari barang komoditi yang tidak memiliki brand adalah persepsi konsumen dan perasaan mereka mengenai atribut produk dan bagaimana produk dari brand tersebut memuaskan konsumen. Dalam memasarkan produk yang mempunyai brand, faktor emosional (affective) akan lebih berperan daripada faktor rasional (cognitive). Seseorang akan memilih produk dengan brand tertentu karena brand tersebut dianggap berkualitas, terpercaya, memiliki nilai lebih dan seringkali dianggap dapat mewakili ekspresi pribadi seseorang (Temporal & Lee, 2001:37). Karena itu suatu brand akan menjadi kuat apabila ia memiliki brand identity yang jelas. Sebuah brand yang mempunyai pesona emosional dan kualitas produk yang tinggi akan mendekati, mendapatkan dan mempertahankan konsumen yang loyal.

2.3.1 Brand Awareness

Menurut Aaker (1991:61): “Brand awareness is the ability of a potential buyer to recognize or recall that a brand is a member of a certain product category.” Tingkat brand awareness menurut Aaker (1991:62) dibagi menjadi empat yaitu top of mind, brand recall, brand recognition, dan unaware of brand. Hal ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1

Tingkat brand awareness

Top of mind

Brand Recall

Brand Recognition

Unaware of Brand

Sumber: Aaker, D.A.,(1991), Managing Brand Equity: Capitalizing on The Value of A Brand Name. United States of America: The Free Press, p.62.

Masing-masing tingkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Top of Mind (TOM), merupakan brand yang berada di peringkat atas dalam benak konsumen secara umum. Hal yang sama berlaku pula untuk advertising. Persoalan TOM memang kurang ada hubungannya dengan kinerja perusahaan. Namun jika menempati posisi TOM, perusahaan dapat menikmati keuntungan untuk menikmatinya beberapa lama karena sangat sulit mengubah persepsi orang. Oleh karenanya, posisi tersebut perlu dipertahankan dengan keras. Tidak saja melalui iklan dan promosi tetapi juga lewat peluncuran produk baru yang memperkuat brand positioning.

2. Brand Recall, merupakan daftar brand yang yang ada dalam benak konsumen untuk kategori produk sejenis.

3. Brand Recognition, merupakan brand yang baru kemudian diingat konsumen setelah konsumen tersebut dibantu (brand disebutkan/aided recall).

4. Brand Unawareness/brand unrecognized, merupakan brand yang tidak ada dalam ingatan konsumen bahkan setelah dilakukan aided recall.

2.3.2 Brand Identity

Selain harus menggabungkan unsur-unsur daya tarik, baik dari segi fungsional maupun emosional, sebuah brand yang kuat harus mempunyai identity yang jelas, yang dapat diidentifikasikan oleh konsumennya untuk membedakannya dari produk pesaing yang sejenis, seperti dikatakan Joachimsthaler dan Aaker (1995:5): “The identity of the brand—the concept from the brand owner’s perspective—is the foundation of any good brand-building program.”

“Brand identity is a unique set of brand association that the brand strategist aspires to create or maintain. These associations represent what the brand stands for and imply a promise to customers from the organization members.” (Aaker, 1996:68).

Berdasarkan definisi di atas brand identity mencerminkan sejumlah asosiasi yang ingin dikaitkan pemasar kepada brand yang dihasilkannya termasuk di dalamnya terkandung janji kepada konsumennya. Temporal dan Davies (BRANDING ASIA.com, 14 Mei 2007) menyatakan “Brand identity is the total proposition that a company makes to consumers - the promise it makes”. Jadi brand identity adalah suatu janji produsen kepada konsumennya.

Brand identity ini dapat terdiri dari features dan attribute, benefits, performance, quality, service support, dan nilai yang dimiliki brand tersebut. Suatu brand dapat dilihat konsumen sebagai sebuah produk, kepribadian, sekumpulan nilai, dan sebuah posisi yang ada di benak konsumen. Jadi, suatu brand supaya menjadi kuat, maka konsumen harus bisa mengasosiasikan brand dengan sesuatu yang dikehendaki oleh pemasar dimana sesuatu itu berlaku juga sebagai janji pemasar kepada pembeli brand tersebut.

Brand identity ini harus dikomunikasikan kepada konsumen melalui brand position agar konsumen dapat menangkap apa arti sebuah brand yang diinginkan pemasar sehingga brand building suatu produk dapat dilaksanakan dengan efektif (Aaker & Joachimsthaler, 2000:27). Untuk itu pemasar juga perlu untuk memastikan bahwa brand identity yang diciptakannya tertanam dengan baik dalam pikiran konsumen sasarannya.

2.3.3 Brand Position

Rise & Trout (2002: 3) berpendapat bahwa: “Positioning bukanlah sesuatu yang Anda lakukan pada produk. Positioning adalah sesuatu yang Anda lakukan pada pikiran calon konsumen”. Selain itu Kotler (2003:308) berpendapat bahwa: “Positioning is the act of designing the company’s offering and image to occupy a distinctive place in the target market’s mind.” Jadi positioning berhubungan dengan bagaimana memperoleh posisi yang jelas dan mengandung arti dalam pikiran konsumen di antara ramainya persaingan.

Positioning merupakan strategi komunikasi yang menjembatani produk/brand dengan calon konsumen. Komunikasi ini berhubungan dengan atribut-atribut yang secara fisik melekat pada produk, diantaranya adalah warna, desain, tulisan, kemasan, maupun nama brand. Selain itu komunikasi ini juga meliputi citra (image) yang hendak ditanamkan melalui model iklan (endorser), pemilihan media, berbagai bentuk sponsorship hingga ke sekelompok armada penjualan (Aaker & Joachimsthaler, 2000:41).

Aaker (1996:176) mendefinisikan brand position sebagai: “Brand position is the part of the brand identity and value proposition that is to be actively communicated to the target audience and that demonstrates an advantage over completing brands.”

Berdasarkan definisi secara umum, positioning adalah bagaimana pemasar menempati produk dalam pikiran calon konsumennya. Hal ini berarti pemasar harus memposisikan brand-nya secara tepat dalam pikiran calon konsumennya dengan menyampaikan brand identity seperti yang diinginkan oleh pemasar dan menempatkan semua value yang ditawarkan lebih daripada yang ditawarkan oleh pesaingnya secara konsisten sehingga brand kita selalu diingat oleh konsumen (Aaker & Joachimsthaler, 2000:41).

Brand position merupakan suatu tahap penting dalam menciptakan brand image dalam pikiran konsumen. Karena semakin tepat suatu brand diposisikan dalam pikiran konsumen, brand tersebut akan menjadi semakin kompetitif. Jadi pemasar dapat membangun kredibilitas brand-nya dalam jangka panjang dan mendapatkan kepercayaan dari konsumen yang kemudian membuat konsumen lebih memilih brand yang dihasilkan oleh pemasar dibandingkan brand pesaing (Aaker, 1991:94).

2.4 Cara Membangun Brand

Untuk dapat membangun brand, dapat dilakukan cara-cara seperti di bawah ini (Freddy Rangkuti, 2002:5):

1. Memiliki positioning yang tepat

Membangun positioning adalah menempatkan semua aspek dari brand value (termasuk manfaat fungsional) secara konsisten sehingga menjadi nomor satu di benak pelanggan. Tetapi menjadi nomor satu di benak pelanggan bukan berarti selalu menjadi nomor satu untuk semua aspek. Merek yang berhasil harus memiliki kategori spesifik agar menjadi nomor satu di benak pelanggan.

Keberhasilan positioning adalah tidak hanya menemukan kunci dari core benefit suatu merek, tetapi juga menjembatani keinginan dan harapan pelanggan sehingga dapat memuaskan pelanggan. Positioning yang tepat memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap produk yang bersangkutan, perusahaan, tingkat persaingan, kondisi pasar serta pelanggan.

2. Memiliki brand value yang tepat

Semakin tepat brand diposisikan di benak pelanggan, brand tersebut akan semakin kompetitif. Untuk mengelola hal tersebut diperlukan pengetahuan mengenai brand value. Brand value membentuk brand personality. Brand personality lebih cepat berubah dibandingkan brand positioning, karena brand personality mencerminkan perubahan selera konsumen. Brand value juga mencerminkan brand equity secara nyata dengan customer valuenya.

3. Memiliki konsep yang tepat

Untuk dapat mengkomunikasikan brand value dan positioning yang tepat kepada konsumen harus didukung oleh konsep yang tepat. Pengembangan konsep merupakan proses fleksibel karena harus terus menerus berubah sesuai dengan daur hidup produk yang bersangkutan. Konsep yang baik adalah dapat mengkomunikasikan semua elemen-elemen brand value dan positioning yang tepat, sehingga brand image dapat terus menerus ditingkatkan.

2.5 Brand Image

Menurut Temporal & Trott (2001:37):

“Brand Image refers to the schematic memory of brands which contains the target market’s interpretation of the product attributes, benefit, usage situations, users and manifacturer or marketer characteristics.”

Menurut Aaker (1991:109): “A brand image is a set of associations, usually organized in some meaningful way”. Berdasarkan definisi tersebut, brand image ada dalam ingatan seseorang dan diinterpretasikan dalam atribut produk, manfaat, situasi penggunaan, karakteristik pengguna serta produsen atau pemasarnya. Secara implisit di dalamnya pun terkandung sisi emosional konsumen yang perlu diarahkan oleh pemasar menuju sekumpulan asosiasi tertentu yang diinginkannya. Brand image menurut Dr. Paul Temporal dan Rod Davies (BRANDING ASIA.com) adalah kumpulan persepsi konsumen mengenai brand tersebut atau bagaimana konsumen melihat brand tersebut. Persepsi didefinisikan sebagai proses dengan mana individu memilih, mengorganisir, dan mengartikan rangsangan (stimulus) ke dalam suatu makna atau arti dalam gambaran nyata (Schiffman dan Kanuk, 2000:158). Ketika konsumen dihadapkan kepada suatu stimulus (brand, produk, atribut produk, dsb) maka ia akan memberikan respon yang bergantung pada persepsinya. Karena itu, konsumen yang berbeda akan merespon suatu stimulus yang sama bergantung pada persepsinya masing-masing. Konsumen bereaksi dan beraksi atas dasar persepsinya. Jadi pembuatan keputusan pembelian didasarkan pada persepsi dan bukan pada fakta-fakta aktual. Oleh karena itu, pembentukkan persepsi konsumen melalui brand image menjadi sangat penting.

Image mengandung sekumpulan persepsi atau konsep publik akan sebuah institusi, individu atau objek. Perusahaan yang sukses berpendapat bahwa image lebih penting dalam menjual produk daripada fitur produk itu sendiri. Brand image membantu pemasar dalam mengakumulasikan sekumpulan konsumen yang loyal dari suatu brand tertentu agar tetap melakukan pembelian ulang.

2.5.1 Tolak Ukur Brand Image

Faktor-faktor yang menjadi tolak ukur suatu brand image adalah (Plummer, seperti dikutip Aaker, 1991:139 dan Aaker 1996:196):

1. Product Attributes

Sebuah brand bisa memunculkan sejumlah atribut produk tertentu dalam pikiran konsumen yang mengingatkannya pada karakteristik brand tersebut, misalnya brand SMPK X mengingatkan konsumen akan sekolah dengan biaya yang terjangkau, sekolah yang memperhatikan kerohanian anak.

2. Consumer Benefit

Sebuah brand harus bisa memberikan suatu nilai tersendiri bagi konsumennya yang akan dilihat oleh konsumen sebagai manfaat yang diperolehnya ketika dia membeli atau mengkonsumsi produk tersebut.

Consumer benefit terdiri dari:

· Functional benefit

Merupakan serangkaian benefit yang didapatkan karena produk dapat melaksanakan fungsi utamanya, misalnya: dengan bersekolah di SMPK X, siswa mendapat bekal pelajaran yang cukup untuk masuk ke SMU.

· Emotional benefit

Merupakan serangkaian benefit yang didapatkan karena produk dapat memberikan perasaan yang positif kepada konsumen, misalnya dengan munculnya perasaan bangga jika memasukkan anak ke SMPK X.

· Self-Expressive benefit

Merupakan serangkaian benefit yang didapatkan ketika sebuah brand dianggap bisa mewakili ekspresi pribadi seseorang. Konsumen seringkali menghubungkan ekspresi pribadinya dengan endorser yang digunakan dalam iklan.

3. Brand Personality

Brand personality dapat didefinisikan sebagai perangkat karakter personal yang akan diasosiasikan konsumen terhadap suatu brand tertentu, misalnya: konsumen dapat mempersepsikan SMPK X sebagai brand sekolah yang disiplin.

4. User Imagery

User imagery dapat didefinisikan sebagai serangkaian karakteristik manusia yang diasosiasikan dengan ciri-ciri tipikal dari konsumen yang menggunakan brand ini misalnya: konsumen mengasosiasikan murid-murid SMPK X rata-rata pandai, pergaulannya baik.

5. Organizational Association

Konsumen seringkali menghubungkan produk yang dibelinya dengan kredibilitas perusahaan yang memproduksinya. Hal ini kemudian mempengaruhi persepsinya terhadap sebuah brand yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut misalnya: konsumen menganggap yayasan X, pendiri SMPK X, merupakan yayasan sosial Kristen yang sering memberikan bantuan kepada kalangan tidak mampu.

6. Brand Customer Relationship

Sebuah brand harus bisa menciptakan hubungan dengan konsumennya. Hal ini bisa diukur dengan tujuh dimensi, yaitu:

a. Behavioral Interdependence, misalnya konsumen merasa tergantung pada brand SMPK X.

b. Personnal Commitment, misalnya konsumen merasa loyal terhadap brand SMPK X.

c. Love and Passion, misalnya konsumen akan merasa kecewa apabila anaknya tidak dapat masuk ke SMPK X.

d. Nostalgic Connection, misalnya brand SMPK X mengingatkan konsumen akan suatu kenangan di masa lalu.

e. Self-concept Connection, misalnya brand SMPK X mengingatkan konsumen akan dirinya sendiri.

f. Intimacy, misalnya konsumen merasa familiar (sangat dekat) dengan brand SMPK X.

g. Partner Quality, misalnya konsumen merasa brand SMPK X dapat mengerti kebutuhan dan keinginannya.

2.5.2 Strategi Mencapai Brand Image yang Kuat

Brand image yang kuat dapat dicapai dengan menciptakan keakraban akan nama brand, yang dapat dilakukan melalui (Arnold, 1992:118):

1. “Being different”, produk harus memiliki pembeda atau keistimewaan sehingga mudah diingat dan dikenal.

2. Melibatkan slogan atau jingle sehingga mudah diingat dalam aktivitas promosi.

3. Symbol Exposure untuk memudahkan pengenalan konsumen akan brand.

4. Event Sponsorship (below the line) untuk menarik perhatian masyarakat.

5. Mempertimbangkan brand extension untuk membuat brand lebih menonjol.

6. Recall Require Repetition untuk mencapai tingkat brand image yang diinginkan.

2.5.3 Manfaat Brand Image

Brand image yang efektif akan mencerminkan tiga hal menurut Kotler (2003:326), yaitu:

1. Membangun karakter produk dan memberikan value proposition.

2. Menyampaikan karakter produk secara unik sehingga berbeda dari pesaing.

3. Memberikan kekuatan emosional lebih dari kekuatan rasional.

Ketika brand image mampu membangun karakter produk dan memberikan value proposition, kemudian menyampaikan karakter produk kepada konsumennya secara unik, berarti brand tersebut telah memberi kekuatan emosional lebih dari kekuatan rasional yang dimiliki oleh produk tersebut. Hal ini akan membuat konsumen mengasosiasikan serangkaian hal yang positif dalam pikirannya ketika mereka memikirkan brand tertentu (Dolak, 2004). Dalam jangka panjang hal ini dapat meningkatkan kekuatan brand, yang lebih sering disebut brand equity—dengan cara meningkatkan brand awareness, brand loyalty, perceived quality dan brand association (Aaker, 1996:8).

2.6 Hubungan Brand Image Dengan Niat Beli

Mengenai hubungan antara brand image dengan niat beli konsumen, teori marketing mengatakan, “If brand is a good one, consumers will purchase it and it become a valuable asset. “ Lebih jauh lagi dikatakan:

“But it’s asset value derives from more than just its ability to attract sales. Their very fact that consumer perceive a brand as embracing a set of values which they can specify means that they will reject or tend to reject, alternatives which presented to them that perhaps may not posses all this values. Brands are therefore enduring assets as long as they kept in good shape and continue to offer consumers the values they require” (Murphy, 1987:4).

Sedangkan Schiffman dan Kanuk (2000:41) berpendapat bahwa:

“In today’s highly competitive environment, a distinctive product image is most important. As products become more complex and the market place more crowded, consumers rely on the product’s image than on its actual attributes in making purchase desicion. A positive brand image is associated with consumers loyalty, consumers beliefs about positive brand value, and a willingness to search for the brand.”

Saat ini konsumen dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan dalam melakukan keputusan pembelian. Sehubungan dengan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan keputusan pembeliannya konsumen tidak hanya mengandalkan pada atribut produk saja namun lebih kepada brand image yang dianggapnya positif. Image suatu brand yang terekam dalam ingatannya secara sadar atau tidak akan memberikan petunjuk untuk membuat keputusan pembelian tersebut. Jika konsumen mempersepsikan suatu brand memiliki image yang lebih unggul dan akan memberikan nilai tambah baginya, tentunya ia akan memilih produk dengan brand image yang dianggapnya terbaik (Kahn, 1999).

2.7 Niat Beli Konsumen

Pengertian purchase intention/ intention to buy adalah tahap sebelum purchase decision dalam proses pengambilan keputusan pembelian menurut Kotler (2003:207) yang dijelaskan pada 2.7.1.

2.7.1 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian

Gambar 2.2 menunjukkan enam tahap proses pembelian yang akan konsumen lewati ketika mengambil keputusan pembelian yaitu: problem recognition, information search, evaluation of alternatives, purchase intention, purchase decision and post purchase decision (Kotler, 2003:207):

Gambar 2.2

Six Stages Model of The Consumer Buying Process

Problem

Recognition

Information Search

Evaluation of alternative

Purchase Intention

Purchase Desicion

Post Purchase Decision

Sumber: Kotler, P.,(2003), Marketing Management, 11th edition, Prentice Hall, p.207.

Tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Problem Recognition

Proses pembelian dimulai saat konsumen mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipengaruhi oleh rangsangan internal maupun eksternal, misalnya pada tahap ini konsumen merasa butuh untuk menyekolahkan anaknya tetapi belum menentukan sekolah mana yang akan dipilihnya sebagai pilihan.

2. Information Search

Pada tahap berikutnya konsumen akan berusaha mencari dan mengumpulkan berbagai informasi mengenai produk dan juga brand yang akan dibelinya. Informasi ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya:

a. Sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, kenalan).

b. Sumber komersial (iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan)

c. Sumber publik (media massa, organisasi konsumen pemeringkat).

d. Sumber pengalaman (penanganan, pengkajian dan pemakaian produk).

3. Evaluation of Alternatives

Setelah konsumen mempunyai informasi mengenai produk dan brand yang akan dibelinya maka konsumen membedakan kelebihan dan kekurangan antara brand yang satu dengan brand yang lainnya, misalnya konsumen membedakan kelebihan dan kekurangan SMPK X dengan SMP lainnya.

4. Purchase Intention

Setelah mengetahui berbagai alternatif brand yang dipilih untuk memenuhi kebutuhannya, konsumen akan mempunyai niat untuk secara spesifik membeli brand tertentu misalnya konsumen berniat memasukkan anaknya ke SMPK X.

5. Purchase Decision

Pada tahap ini konsumen sudah mengambil keputusan untuk membeli sebuah brand tertentu dalam memenuhi kebutuhannya, misalnya konsumen memutuskan untuk mendaftarkan anaknya ke SMPK X

6. Post Purchase Behavior

Setelah konsumen memutuskan untuk membeli dan mengonsumsi sebuah brand tertentu, selanjutnya konsumen akan melakukan evaluasi yang berhubungan dengan kepuasan yang didapatkannya dan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya misalnya konsumen yang merasa puas setelah memasukkan anaknya ke SMPK X mungkin akan kembali memasukkan anak mereka yang selanjutnya akan memasuki SMP atau merekomendasikan SMPK X kepada orang lain.

2.7.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Niat Beli

Keputusan pembelian konsumen sangat dipengaruhi oleh karakteristik budaya, sosial, pribadi dan psikologis.

1. Faktor Budaya

Faktor-faktor budaya memiliki pengaruh yang paling luas dan paling dalam pada perilaku konsumen. Para pemasar perlu memahami peran yang dimainkan kebudayaan, subbudaya, dan kelas sosial konsumen. Misalnya untuk SMPK X yang target marketnya konsumen kalangan menengah dan menengah bawah, pihak sekolah perlu mengetahui bagaimana perilaku konsumen mereka dalam golongan ini contohnya kenaikan uang pendaftaran masuk ataupun kenaikan iuran bulanan sedikit saja mungkin akan berpengaruh besar bagi mereka, sehingga pihak sekolah perlu mempertimbangkan baik-baik jika ingin menaikkan uang pendaftaran masuk ataupun iuran bulanan.

2. Faktor Sosial

Perusahaan perlu mempertimbangkan faktor sosial ketika merancang strategi-strategi pemasaran mereka karena faktor ini dapat mempengaruhi tanggapan konsumen. Misalnya jika SMPK X terlibat dalam pemberian bantuan kepada korban bencana alam, misalnya dengan mengumpulkan sumbangan, memberikan pakaian-pakaian layak pakai kepada korban bencana alam, masyarakat sekitar akan melihat SMPK X sebagai sekolah yang juga ikut peduli pada lingkungan sekitarnya sehingga memberikan kesan baik juga bagi masyarakat sekitar maupun konsumen SMPK X.

3. Faktor Pribadi

Usia dan tahap daur hidup, pekerjaan, kondisi ekonomi, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri mempengaruhi konsumen terhadap apa yang akan mereka beli.

4. Faktor Psikologis

Motivasi, persepsi, pembelajaran dan kepercayaan serta sikap turut mempengaruhi pemilihan pembelian konsumen

No responses yet

Dec 29 2008

Contoh BAB I Pendahuluan

Published by b0chun under Panduan seminar & skripsi

Judul Skripsi: Analisis Pengaruh Service Quality Berdasarkan Persepsi Konsumen terhadap Niat Beli Ulang Jasa Hiburan Bioskop di Cineplex Ciwalk

.
1.1. Latar belakang penelitian

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu melakukan aktivitas-aktivitas yang menyita waktu, perhatian, tenaga dan pengorbanan-pengorbanan lainnya yang terkadang malah membuat mereka mengalami stress, dikarenakan mereka tidak menikmati hal tersebut. Maka dari itu, untuk menghindari stress, manusia sering mencari hiburan.

Kita pasti pernah mengenal suatu tempat penyedia jasa hiburan yang sering disebut bioskop. Dimana tempat ini dipersepsikan oleh masyarakat pada umumnya untuk memutar film.

Pada awalnya bioskop biasanya didirikan di tempat-tempat khusus, namun, seiring dengan masuknya masyarakat Indonesia pada era “Mall”, maka pembangunan bioskop pada saat ini biasanya ditempatkan di dalam sebuah Mall. Biokop pun dijadikan sebagai salah satu alat penarik pengunjung, yang makin hari makin ampuh.

Bicara tentang bioskop, terdapat 1 brand yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat luas, “21”. Ya, Cineplex 21 yang dimiliki oleh Subentra Group adalah sebuah perusahaan besar yang selama ini memonopoli jasa hiburan penayangan film di Indonesia.

Khususnya di Bandung, terdapat banyak Cineplex, dan salah satu-nya terletak di Mall Cihampelas Walk atau yang lebih sering disebut CiWalk (Ciwalk). Di Mall ini, pada awalnya Cineplex hadir hanya dengan 3 studio (2 berukuran sedang & 1 lebih besar). Namun sekitar akhir tahun 2006, Cinelex menambahkan 4 studio lagi dan memberikan nama yang berbeda yaitu XXI.

XXI sebenarnya dimaksudkan untuk menjangkau segmen pasar kelas yang lebih atas, dibandingkan 21. Hal ini telah diterapkan di kota-kota besar seperti Jakarta. Dimana harga tiket XXI bisa memiliki selisih Rp. 15.000,00 dibandingkan 21, untuk film yang sama.

Namun, hal tersebut belum diberlakukan di Bandung, sehingga harga tiket XXI hingga saat ini tidak berbeda jauh dengan 21.

Seiring waktu berjalan, muncullah 1 pesaing yang sangat kuat dalam usaha penyediaan jasa hiburan ini. Mengambil tempat di Mall paling “hangat” di Bandung saat ini (Paris Van Java), Blitz Megaplex tampil sebagai pesaing Cineplex di kota Bandung (catatan, Blitz Megaplex yang didirikan di Bandung ini adalah yang pertama) dan mengkonsentrasikan diri pada segmen pasar mahasiswa kelas menengah atas & kelas atas.

Sejauh ini, bisa dibilang kehadiran Blitz cukup membuat Cineplex Ciwalk menjadi was-was. Menurut penuturan beberapa responden, mereka beralih dari Cineplex Ciwalk dan lebih memilih Blitz. Secara otomatis hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah customer pada Cineplex Ciwalk.

Pada permulaan tahun ini, Cineplex melakukan tindakan penurunan harga (yang menunjukkan sedikit perbedaan segmen pasar antar Cineplex) pada seluruh XXI &21 di seluruh Bandung dan bahkan Jakarta.

Namun, khususnya di Bandung, hal tersebut seolah-olah tetap saja tidak memberikan angin segar pada Cineplex, walaupun harga sudah diturunkan, sejumlah responden tetap saja memilih Blitz daripada Cineplex.

Menurut peneliti, hal tersebut dikarenakan Cineplex belum dapat menyampaikan pelayanan pada jasa hiburan bioskop sebagaimana yang diinginkan oleh konsumen (Gap 5). Dan hal tersebut mempengaruhi niat beli ulang akan jasa hiburan tersebut. Untuk itulah dilakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Service Quality Berdasarkan Persepsi Konsumen terhadap Niat Beli Ulang Jasa Hiburan Bioskop di Cineplex Ciwalk”

…….

Judul skripsi: Pengaruh Brand image Toko Gunung Agung terhadap Niat Beli Konsumen (Studi Kasus di Toko Gunung Agung Cihampelas Walk)

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana persepsi konsumen terhadap brand image Toko Gunung Agung?
  2. Bagaimana niat beli konsumen Toko Gunung Agung?
  3. Seberapa besar pengaruh antara brand image Toko Gunung Agung terhadap niat beli konsumen di Toko Gunung Agung Cihampelas Walk?

…….

Judul skripsi: Analisis Hubungan Antara Brand Image SMPK X Dengan Niat Orangtua Menyekolahkan Anaknya Ke SMPK X

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, maka tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mengerti:

  1. Bagaimana brand image SMPK X di mata orangtua siswa SD kelas 6.
  2. Bagaimana niat orangtua tersebut menyekolahkan anaknya ke SMPK X.
  3. Sejauh mana brand image SMPK X berhubungan dengan niat orangtua menyekolahkan anaknya ke SMPK X

…….

*1.4 & 1.5 nya akan ditambahkan kemudian*

One response so far

Dec 28 2008

Begini Seharusnya Skripsi BAB I & BAB II

Published by b0chun under Panduan seminar & skripsi

Ini adalah kesalahan umum dalam proses penyusunan sebuah skripsi…

…….

Judul (fiktif): Pengaruh Advertising Mirinda terhadap Awareness Konsumen

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Seharusnya di sini kita memasukkan gejala & masalah penelitian >>> akan menjelaskan mengapa kita memilih penelitian ini >>> menjelaskan pula apa manfaat penelitian >>> sebaiknya hasil dari preliminary research juga dimasukkan ke sini untuk menjelaskan betapa pentingnya penelitian kita ini…

Umumnya mahasiswa hanya menjelaskan sesuatu yang normatif saja, menulis sesuatu yang TIDAK PERLU DIJELASKAN JUGA KITA SEMUA SUDAH TAHU… Membacanya saja sudah males, jadi buat apa pula ditulis?! Boleh-boleh saja sich memulai dengan sesuatu yang normatif, tetapi porsinya hanya sedikit saja, tidak mencakup sebagian besar dari latar belakang penelitian…

INGAT: Penelitian yang DISARANKAN selalu berawal dari PENEMUAN VARIABEL Y lalu dicari apa variabel X-nya, dan bukan bermula dari variabel X yang kemudian baru dicari variabel Y-nya…

Mengapa?

Tak lain karena pada awalnya kita menemukan gejala dulu di lapangan (variabel Y) dan lalu baru dicari apa sich masalahnya (variabel X)!!! Adapun definisi MASALAH adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan teori yang seharusnya dan BERDAMPAK NEGATIF!!! Bagaimana jika sesuatu yang tidak sesuai dengan teori itu ternyata berdampak positif… Ini namanya bukan masalah, tetapi justru dapat menciptakan teori baru… ;)
Sedangkan GEJALA adalah fenomena masalah yang muncul/tampak ke permukaan…

Untuk kasus kali ini,  awalnya si peneliti menemukan gejala bahwa ternyata banyak orang yang tidak aware terhadap produk Mirinda… Misalnya kuesioner awal dibagi kepada 20 responden… Ketika diminta menyebutkan 3 merek softdrink yang mereka ketahui, ternyata sebagian besar responden menjawab Coca-Cola, Fanta, Sprite, dan Pepsi; tetapi tidak satu pun dari mereka menyebutkan merek Mirinda… Jelaslah sudah bahwa ternyata awareness konsumen terhadap produk ini amatlah sangat kecil sekali…

Untuk itu si peneliti mencari tahu apa penyebab/masalahnya, dan sesuai dengan teori yang ia peroleh, ternyata ditemukan bahwa salah satu pembentuk awareness adalah dengan melakukan advertising… Dan ketika dipelajari lebih lanjut, ia menemukan bahwa advertising yang dilakukan si Mirinda ini ternyata buruk dan hal ini juga telah membuat awareness yang rendah, maka ia melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Advertising Mirinda terhadap Awareness Konsumen”

…….

1.2 Identifikasi Masalah

Ini adalah rumusan masalah yang DISARANKAN:

1.Bagaimana X (advertising Mirinda)?

2. Bagaimana Y (awareness konsumen)?

3. Bagaimana pengaruh antara X dan Y?

Ingat: Hal ini harus dibawa terus sampai akhir, tujuan penelitian harus sama dengan identifikasinya, kesimpulan harus menjawab identifikasi masalah ini, dan saran harus memberikan solusi atas kesimpulan…

…….

1.3 Tujuan Penelitian:

Sama persis seperti identifikasi masalah, hanya saja di depannya ditambahkan kata: “UNTUK MENGETAHUI”

…….

1.4 Kegunaan Penelitian

Ngarang aja lah apa guna penelitian untuk penulis, untuk perusahaan, untuk pihak lain, dsb…

…….

1.5 Kerangka Pemikiran

Berisi KERANGKA PEMIKIRAN bagaimana pengaruh antara variabel X terhadap variabel Y dengan disertai bukti-bukti teori HANYA YANG RELEVAN SAJA!!! Dan BUKAN BERISI PENGGALAN-PENGGALAN TEORI YANG DISAMBUNG-SAMBUNGKAN!!! Dapat juga dimasukkan hasil dari penelitian awal dan selalu DIAKHIRI DENGAN HIPOTESIS jika perlu… Ingat: Hipotesis yang dibuat harus sudah jelas apakah mau 1-tailed apa 2-tailed dan harus tetap konsisten, karena hal ini sangat berpengaruh pada penulisan bab 3 nanti…

(Cara pembuatan hipotesis akan dibahas di postingan selanjutnya…)

…….

…………..

…….

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi HANYA TEORI-TEORI YANG RELEVAN DENGAN PENELITIAN!!!

Jangan lupa mencantumkan darimana sumbernya… Buku apa, siapa pengarangnya, taun berapa terbitnya, dan halaman berapa…

Jika judulnya seperti ini, Bab 2 jangan bertele-tele dimulai dengan pengertian marketing,  pengertian marketing management, pengertian marketing mix, ah cape dech… Knp ga masukin aja itu si Kotler ke bab 2 nya… (Jangan ketawa yach, banyak loh yang kaya gini…)

Tetapi langsunglah masuk dari advertising, semakin dalam semakin baik… Masukkan juga teori tentang awareness… Dan jangan lupa, karena hal ini seringkali dilupakan: CARI JUGA TEORI TENTANG PENGARUH antara advertising dan awareness…

Beres dech bab 2 nya… Gampang kan???

One response so far

Dec 27 2008

Berbohong dengan statistik

Published by b0chun under Panduan seminar & skripsi

Dalam bukunya Berbohong dengan Statistik, Darrel Huff mengungkapkan bahwa kebohongan itu terdiri atas 3 tingkatan, dan statistik merupakan kebohongan tingkat tertinggi. Adapun kebohongan tingkat pertama dapat dicontohkan sebagai berikut. Jika seseorang akan menjual sebuah mobil, orang bisa mengatakan, “Mobil saya ini baru, lho,” (padahal sebenarnya pada petunjuk kilometernya, misalnya sudah mencapai 100.000 kilometer). Namun, orang tersebut tidak memberikan polesan apa pun pada mobil tersebut, dia hanya mengatakan bahwa itu adalah mobil baru. Itu disebut sebagai kebohongan karena dia tidak melakukan tindakan untuk menutupi kebohongannya.
Adapun kebohongan tingkat kedua adalah menipu. Penjualan mobil dikatakan menipu apabila ia mengatakan seperti ini, “Mobil saya ini baru” dan kemudian ia melakukan berbagai usaha, di antaranya menurunkan angka kilometer, body mobil dicat ulang, mesin dibersihkan, bannya diganti baru. Karena di make-up seperti baru lagi, penjual itu mengatakan mobilnya baru. Dengan tindakannya itu orang (pembeli) menjadi tertipu. Dia telah menipu karena semuanya itu ditambahkan atau diubah agar tampak baru untuk menutupi kebohongonnya tersebut.
Dan kebohongan yang paling “kejam” adalah kebohongan dengan kebenaran statistik. Contohnya, sebuah mobil yang kilometernya sudah mencapai 100.000 tersebut bisa dia anggap baru, misalnya dengan mengadakan survei kepada 2.000 orang dengan basil bahwa mobil dengan kilometer 100.000 adalah termasuk mobil baru. Caranya dengan mengajukan pertanyaan seperti ini (karena survei dan jawaban tergantung
pertanyaan), “Kalau dibandingkan dengan mobil yang telah mencapai kilometernya yang ke 200.000, apakah mobil dengan kilometer 100.000 termasuk baru?” Pastilah 2.000 orang yang mendapatkan pertanyaan seperti itu akan menjawab bahwa mobil dengan kilometer 100.000 tersebut termasuk baru.
Contoh lainnya, ketika salah satu majalah nasional melakukan survei beberapa tahun yang lalu, dan hasil surveinya dikatakan bahwa “Ternyata dua di antara tiga lelaki di Jakarta berselingkuh”. Jika hasil tersebut kita terima secara mentah-mentah, dampak yang timbul menjadi kurang baik karena kita tidak mengetahui dengan lebih pasti basil survei tersebut sampling-nya dilakukan di mana, siapa respondennya, dan kira-kira jam berapa meskipun mereka mengatakan bahwa metode yang digunakan adalah “MULTIPLE PURPOSE RANDOM SAMPLING.” Sebab, jika mereka mengadakan surveinya di kafe-kafe pada jam 2 pagi, ya… pantas saja jika basil yang didapatkan adalah bahwa 2 di antara 3 lelaki berselingkuh. Bahkan, sebenarnya bisa juga dibuat basil survei “Bahwa lima di antara empat orang pria di Jakarta berselingkuh” (jadi ada satu orang yang bahkan berselingkuh dua kali). Caranya untuk mendapatkan basil survei tersebut mudah saja, yaitu apabila surveinya dilakukan di lokalisasi yang ramai pada jam 2 pagi.
Saya pernah bertemu seorang ahli riset dan saya memberikan tantangan seperti ini, “Bapak boleh menggunakan strategi riset apa pun, hanya ada satu hal yang akan saya sembunyikan, yang tidak pernah diungkap dan saya akan menjamin hasilnya akan sangat kecil atau boleh dikata nol, bahwa tidak seorang lelaki pun yang telah menikah itu berselingkuh. Dengan menggunakan metodologi apa pun juga, atau di mana pun juga, dan jam berapa pun juga surveinya dilakukan.” Saya hanya memberi satu syarat survei. Dan syaratnya sebenarnya mudah… yaitu pada saat survei dilakukan, istrinya harus berada di sebelahnya. Apakah dengan survei seperti itu kira¬kira akan ada basil bahwa laki-laki berselingkuh? Bahkan bisa jadi hasilnya nol. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan hal ini saya benar-benar menekankan agar kita harus mulai sadar untuk berhati-hati menanggapi basil angket atau survei tertentu. Begitu pula halnya dengan angket atau survei yang berkaitan dengan program pemasaran yang akan kita lakukan.
Di suatu negara maju, seorang walikota pernah melakukan kebohongan statistik dengan mengatakan seperti ini, “Ketika saya menjabat sebagai walikota selama dua tahun, kejahatan menurun dengan drastis, dan statistiknya adalah seperti ini ….. (kemudian ditunjukkan angka statistiknya mulai dari tahun “x” hingga tahun “y”). Namun, setelah dia turun jabatan baru diketahui bahwa ternyata statistik angkanya dimulai dari 2200 dan 2100. Padahal sebenarnya statistiknya hanya turun 100 poin, tapi dia telah membohongi publik dengan statistik yang diberikannya. Dan angka pertamanya yang seharusnya dimulai dari angka 0 langsung menjadi angka 2200 kemudian turun menjadi angka 2100. (angka hanya contoh)

grafik-1

Selain itu, setelah diselidiki lebih lanjut, jika sekian puluh tahun data statistik tingkat kejahatan di kota tersebut dibuat gambar grafik, ternyata statistiknya selama pemerintahan siapa pun selama sepanjang sejarahnya selalu kurang-lebih seperti itu.

grafik-2 Misal, sebuah perusahaan rokok bisa saja memberikan pernyataan bahwa kurang-lebih 90% dokter yang dijadikan sampel surveinya ternyata merokok merek “tertentu”. Perusahaan tersebut seolah ingin mengatakan bahwa merokok merek “tertentu” aman, bahkan para dokter pun merokok merek itu. Mengapa hasil surveinya bisa seperti itu? Ini bisa dibuat. Ternyata, kira-kira satu bulan sebelum survei itu dilakukan (para respondennya ternyata memang kategori dokter perokok), mereka telah diberikan secara cuma-cuma 20 bungkus rokok merek “tertentu” tersebut. Kemudian ketika para dokter tersebut sudah mulai merokok merek “tertentu”, barulah diadakan survei dengan pertanyaan, “Dalam seminggu terakhir ini, Anda merokok merek apa?” Tentu saja, sebagian besar dari mereka akan menjawab rokok merek “tertentu”. Dengan contoh-contoh di atas, dalam hal ini saya ingin menekankan bahwa survei belum tentu mewakili market Anda, jadi Anda harus lebih berhati-hati dalam menanggapi hasil survei.

Sumber: Marketing Revolution (Tung Dusem Waringin)

Kembali lagi ke masalah validitas, dalam penyusunan kuesioner terkadang kita berusaha memaksakan responden untuk menjawab kuesioner sesuai dengan keinginan kita, misalnya:

Judul penelitian:

Pengaruh Store Atmosphere Yomart Pagarsih terhadap Niat Beli Ulang Konsumen

So, jika judulnya gitu seharusnya gejala awalnya adalah niat beli ulang yang buruk… Dan X yang dianggap masalah adalah buruk store atmosphere yang buruk… Jadi, sebelum menyebarkan kuesioner, si peneliti berharap si responden akan menjawab bahwa store atmosphere si Yomart itu buruk…

Maka, agar hipotesisnya diterima, ketika didapati ternyata X-nya tidak bermasalah, biasanya dia memanipulasi datanya tersebut… Atau cara kedua yang dipakai adalah memanipulasi pertanyaan sebagai berikut: Jika dibandingkan dengan Yogya, maka store atmosphere Yomart . . . .

So pasti si responden jawab JELEK donk… Padahal jelas-jelas si Yogya sama Yomart kan beda target marketnya tuh…

Nah ini dia yang namanya menipu dengan statistik…

Padahal sebenernya gpp koq hipotesis ditolak juga… That’s better loh daripada melakukan kebohongan yang bisa menyebabkan orang lain yang melihat skripsi kita menjadi TERJERUMUS  karena kesalahan yang kita lakukan…

2 responses so far

 Page 3 of 4 « 1  2  3  4 »

Search