Dec
22
2008

Alkisah, diceritakan bahwa Raja SUNGGING PERBANGKARA pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun “CARIANG” (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama WAYUNGYANG yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama DAYANG SUMBI alias RARASATI. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu si TUMANG. Ketika sedang asyik bertenun, TOROPONG (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama SANGKURIANG.
Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah TIMUR akhirnya sampailah di arah BARAT lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan PERAHU dan TALAGA (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai CITARUM. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah PERAHU dari sebuah pohon yang tumbuh di arah TIMUR, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung BUKIT TUNGGUL. Rantingnya ditumpukkan di sebelah BARAT dan mejadi Gunung BURANGRANG. Dengan bantuan para GURIANG, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan BOEH RARANG (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di SANGHYANG TIKORO dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung MANGLAYANG. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi GUNUNG TANGKUBANPARAHU.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di GUNUNG PUTRI dan berubah menjadi setangkai BUNGA JAKSI. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan UJUNGBERUNG akhirnya menghilang ke alam gaib (Ngahiyang).

Dec
22
2008

Kawah putih merupakan kawah dari Gunung Patuha yang berketinggian 2.434m dari permungkaan laut, kawah putih itu sendiri berada pada ketinggian 2.194m dari permungkaan laut. Selain kawah putih ini masih ada lagi satu kawah yang terletak di puncak gunung Patuha yang dikenal dengan nama Kawah Saat. Kedua kawah ini terbentuk saat letusan yang terjadi pada abad ke X dan XII. Dari kedua kawah itu yang indah untuk dikunjungi adalah Kawah Putih, saat memasuki areal kawah putih kita akan disambut oleh bau belerang yang menyengat hidung, bentuk kawah putih mirip sebuah danau yang dikeliingi oleh dinding bukit berbatu yang sangat terjal namun dari arah masuk ke kawah ini agak landai sehingga kita bisa menyentuh air kawah yang mengandung belerang. Warna air kawah berubah-ubah tergantung pada kandungan mineralnya saat itu. Kadang-kadang danau ini memutih seperti ditutupi salju, tapi terkadang juga berwarna hijau kebiru-biruan. Suasana di sekitar kawah ini sangat tenang dan hening serta panoramanya membuat pengujung tak henti-hentinya mengabadikan keindahan kawah ini lewat kamera mereka.
Dec
22
2008

Situ Patengang merupakan sebuah danau cantik yang dikelilingi oleh perkebunan teh. Keheningan di sekitar lokasi Patenggang semakin menambah indahnya suasana di danau yang beriak kecil ini, danau ini luasnya 48 hektar. Nama Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda yaitu “pateangan-teangan” yang artinya saling mencari. Alkisah nama tersebut merupakan sebuah mitos masyarakat setempat yang merupakan perlambang dari kisah cinta abadi dari dua pasang kekasih yang terpisah. Cinta dari putra Prabu dan putri titisan Dewi yang besar bersama alam yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis, mereka berdua berpisah untuk sekian lamanya namun karena cinta mereka yang begitu dalam membuat rasa ingin bertemu demikian besar. Mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan “Batu Cinta” Dewi Rengganis pun minta di buatkan sebuah danau dan perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang kemudian berubah menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati dan kemudian dikenal dengan sebutan “Pulau Sasaka” yang berarti Pulau Asmara. Menurut cerita dan kepercayaan masyarakat setempat jika singgah di Batu Cinta dan kemudian mengelilingi Pulau Asmara, maka senantiasa akan mendapatkan cinta yang abadi seperti Ki Santang dan Dewi Rengganis. Di kawasan ini sarana penujang wisata sudah tertata rapi, pengunjung bisa menyewa perahu untuk melayari danau Patengang dan memutari pulau Asmara, atau bisa juga menyewa sepeda air untuk mengelilingi danau kecil ini. Dari tengah danau jika pandangan diedarkan tampak puncak gunung Patuha dan hamparan kebun teh. Di akhir pekan kawasan ini banyak dikunjungi oleh pengujung yang datang untuk bersantai. Di antara mereka juga terselip pasangan kekasih yang terbuai oleh indahnya Patengang serta harapan akan mendapat cinta yang abadi seperti Ki Santang dan Dewi Rengganis.

Dec
22
2008
Aduh sayah bingung sama kalian semua…
Knp sich kalian selalu mengomentari foto sayah yang cute ini…
Apakah ada yang salah???

Riana Cahyawinata: ga nahaaannnn potonya…
julianna wahju: oh tidakkkkkkkkkkkk
julianna wahju: ga nahan fotonya wakakaka
yohanes gunawan: si bocun teu kuat potona…
Jimmy Andreas: swt
Cynthia Lia: ga nahaaaannnnnn
[Sparx]: ya ampun itu fotonya
[Sparx]: genit~
heli_lina: lu mu jual diri di blog ya
b0chun: knp blg gt?
heli_lina: ga banget fotonyaaaaaaaa
heli_lina: kaya sapi lg merumput
Kurono, on December 21st, 2008 at 22:43 Said: Edit Comment
Bochun eleuh eleuh bochun………………
Kurono, on December 21st, 2008 at 23:42 Said: Edit Comment
eta Fotona ga kuaaaaaaaaaat…………………….
Minta tanda tangan plizzzzz…………………..
buat majalah national geography
Julia, on December 22nd, 2008 at 00:05 Said: Edit Comment
Wiw…tumben lu memikirkan filsafat agama.
iya, kurono….gak kuat fotonyaaaaa..
Hahahahaha
Gaya cun, dah pny blog
Wkwkwkwkwkw