I [HaTe] you means I [LoVE] you?!

Pernah denger kan ada pepatah yang bilang kalo cinta dan benci itu bedanya setipis kertas?! Ini beneran loh. Buktinya banyak  orang yang punya anak dengan wajah atau sifat yang mirip banget sama orang yang dia benci. Koq bisa yach?!

Penjelasannya simple sebenarnya. Ternyata, alam bawah sadar kita tidak dapat membedakan mana yang namanya cinta dan mana yang namanya benci. Yang dia tahu hanya satu: **kita selalu memikirkan orang tersebut** So, ga aneh kan ketika punya anak nanti ternyata sifat/karakter/muka anak kita bisa mirip dengan orang yang kita benci, atau bisa juga mirip dengan orang yang kita cintai, karena ternyata kita sama-sama sering memikirkan mereka.

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa makna gambar baju bertulisan HaTe di atas. Penjelasan saya singkat saja: Jika Anda pernah membenci seseorang karena suatu sebab, saya hanya ingin agar Anda semua bercermin pada diri Anda sendiri.

Hati-hati ketika Anda membenci seseorang, karena mungkin Anda justru sedang mencintainya.

Kata-kata POSITIF itu berdampak negatif?!

JANGAN LIHAT!!!

JANGAN BUKA!!!

JANGAN BACA!!!

Sekali lagi: JANGAN BACA!!!

Yach… koq dibaca juga sich?!

———

Namaku Ivan. Aku dilahirkan sebagai seorang yang narsis abiZzZzzZz (baca: dapat mensyukuri segala sesuatu pemberian Tuhan). Sejak kelas 1 SMP aku memiliki seorang sahabat dekat. Saking dekatnya, aku sering banget bernarsis-narsis ria dengannya; bahkan papa-mamanya, cicinya, suami cicinya (8 tahun yang lalu mereka menikah), sampai dengan sepupu-sepupunya juga sering banget menjadi korban kenarsisanku hahaha… Kasian dech mereka!!!

Ceritanya, 8 tahun yang lalu, ketika aku baru lulus SMA, cicinya sahabatku ini menikah dengan si koko. kEBETULAN pada saat itu  aku lagi rajin-rajinnya main ke rumah sahabatku ini, sehingga jadi sering dech ketemu dengan si cici & si koko. Dan keisenganku pun dimulai:

Aku: “Ci, nanti kalo punya anak dikasi nama Ivan yach, biar ganteng kaya saya hehehe…”

Si cici: “Tenang!!! Kalo gua punya anak dijamin dech ga akan gua kasi nama Ivan, takut ancur kaya loe…”

Ternyata, yang menjadi korban kenarsisanku tersebut bukan hanya si cici dan si koko saja, tetapi sekeluarga besar semuanya menyuarakan hal yang sama: “Si cici kalo punya anak nanti ga mungkin dech dinamain Ivan!!!”

Saking seringnya aku bernarsis-narsis ria, mungkin dalam 1 minggu minimal 1 kali salah satu anggota keluarga sahabatku tersebut menyuarakan hal yang serupa: “Pokonya apapun yang terjadi, gua gamau ada keluarga gua yang dikasi nama Ivan!!! Gawat nanti kacau kaya loe!!!” **kejamnya dunia**

Tak terasa 1 tahun telah berlalu dan si cici melahirkan bayinya yang imut. Dan tahukah kalian nama apa yang diberikan untuk bayi tersebut?! Jika kalian menebak bahwa nama bayi tersebut adalah IVAN, tebakan kalian BENAR!!!

>>> IVAN = Rudi & Vania <<<

Dalam percobaannya dengan air *klik untuk melihat gambar hasil penelitian tentang air*, Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa kata-kata yang positif dapat membuat kristal air menjadi indah, sedangkan kata-kata yang negatif akan membuat kristal air tampak buruk.

Jika penggunaan kata-kata saja dapat mempengaruhi air yang bukan merupakan makhluk hidup, tentunya pemilihan kata-kata juga akan berpengaruh kepada kita manusia, yang merupakan makhluk hidup. Tahukah kalian bahwa 70% tubuh manusia terdiri dari air?! Itulah sebabnya mengapa penggunaan kata-kata yang positif/negatif akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita.

Saya juga sering mendengar banyak orang berkata untuk berhati-hati dengan lidah, karena apa yang dikatakan lidah itu pula yang akan terjadi. Tetapi, dari kasus nama Ivan di atas, bukankah yang terjadi justru malah sebaliknya?!

Jika berjalan-jalan ke toko buku, kita mungkin akan menemukan banyak sekali buku yang membahas tentang positive thinking. Intinya, para penulis buku itu ingin mengatakan kepada pembaca agar mereka dapat selalu berpikir positif, karena dengan pikiran yang positif, hidup kita akan berubah ke arah yang positif pula. Tetapi, ternyata hal tersebut salah besar:

Banyak mahasiswa berkata: “Saya tidak mau ujian saya nilainya jelek!!!” dan hasilnya mereka tidak lulus.

Ketika menghadapi krisis global, banyak karyawan berkata: “Saya tidak akan di-PHK!!!” dan hasilnya banyak dari mereka yang sekarang menganggur.

Papi saya suka berkata: ‘Kalo tutup pintu pelan-pelan, ntar engselnya rusak!!!’ Saya sich tutup pintu semaunya aja, tapi buktinya yang rusak malah pintunya dia tuh, pintu yang di kamar saya malah baik-baik aja hahaha…

Saya mau skripsi saya beda + bagus >>> semua dosen penguji memberikan pujian atas skripsi saya. Saya gamau skripsi saya lama-lama >>> kata dosen pembimbing saya sich saya membuat skripsi selama 4 semester lamanya huhuhu…

Ada seseorang yang berkata: “Saya tidak mau anak saya diberi nama Ivan!!!” tetapi justru hal itulah yang terjadi.

Apa yang kita katakan itu jugalah yang akan kita dapatkan!!! Masa sich?! Koq kenyataannya bertolak belakang semua yach?!

Melalui tulisan ini, saya ingin menyadarkan Anda semua pada 1 hal:

ALAM HANYA MERESPON KATA-KATA YANG POSITIF SAJA!!! JIKA ANDA MENGELUARKAN KATA-KATA YANG NEGATIF, MAKA HASILNYA TETAP AKAN POSITIF!!!

Loh?! Koq bisa begitu?! Inilah penjelasannya:

Pernah dengar istilah ‘cinta dan benci itu bedanya setipis kertas’? Mengapa?! Karena kita akan melakukan hal yang sama ketika kita mencintai atau membenci seseorang: kita akan selalu memikirkan terus orang itu!!! Tetapi, alam bawah sadar kita tidak dapat membedakan mana perasaan suka mana perasaan benci, yang dia tahu hanyalah: Kita selalu memikirkan orang tersebut!!! Dan ketika punya anak nanti, hati-hati jika anak Anda tidak mirip dengan orang yang Anda cintai, tetapi justru malah mirip dengan orang yang Anda benci, karena ternyata Anda lebih sering memikirkan orang yang Anda benci daripada orang yang Anda cintai.

Dalam bahasa Indonesia, ada yang disebut sebagai kalimat inti. Jika ada kalimat: ‘Andi tidak suka dengan sikap Shinta yang terkesan sok tahu dan sombong itu.’ maka inti kalimat tersebut adalah: ‘Andi suka sikap Shinta.’ Sesungguhnya, teori b0chun nomor 2 mengatakan bahwa alam akan merespon kalimat inti dari pikiran kita saja. Ketika seseorang berkata: ‘Saya tidak mau anak saya dinamakan Ivan’, alam meresponnya: ‘Saya mau anak saya dinamakan Ivan’; dan sesungguhnya hal itulah yang terjadi.

Mengapa banyak anak masih mencontek padahal gurunya setiap kali berkata: ‘Jangan mencontek!!!’ Seharusnya di sini Anda sudah bisa menjawab: Karena sesungguhnya yang didengar alam bawah sadar para siswa adalah perintah untuk mencontek!!! Mengapa banyak orang masih merokok padahal di mana-mana telah dipasang tulisan: Jangan merokok di area ini!!! Memang tepat sepertinya istilah yang berkata bahwa: Peraturan dibuat untuk dilanggar!!! Walaupun iklan rokok sangatlah dibatasi, seperti hanya boleh beriklan pada jam-jam tertentu (malam hari) dan dalam iklannya tidak diperbolehkan menampilkan adegan seseorang yang sedang merokok dsb; penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya tulisan inilah yang menjadi penyebab utama para perokok terdorong untuk merokok: PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN bla… bla… bla…

Dikutip dari The Secret: “Anda mungkin pernah melihat bagaimana seseorang yang memiliki kekayaan yeng besar kehilangan kekayaannya, tetapi dalam waktu yang sebentar berhasil mendapatkan kekayaannya kembali yang sama besarnya. Dalam kasus ini, terlepas dari apakah mereka menyadarinya atau tidak, yang terjadi adalah karena pikiran dominan mereka adalah tentang kekayaan, inilah yeng menyebabkan mereka mendapatkan kekayaannya kembali. Mereka membolehkan pikiran yang menakurkan tentang kehilangan kekayaan memasuki benak mereka sampai pikiran yang menakutkan itu menjadi pikiran dominannya. Mereka membalikkan keseimbangan tentang pikiran tentang kekayaan kepada pikiran tentang takut kehilangan kekayaan, sehingga mereka kehilangan semua kekayaannya. Tetapi, setelah mereka kehilangan semuanya, ketakutan akan kehilangan menjadi menghilang, dan mereka membalikkan lagi keseimbangan ke pikiran dominan tentang kekayaan dan kekayaan mereka kembali lagi.”

Dalam suatu tes psikologi, biasanya kita akan diminta memilih satu dari dua pernyataan yang paling mencerminkan diri kita:

  • Saya tidak mudah putus asa. >>> kalimat negatif
  • Saya suka bekerja keras. >>> kalimat positif

Yang manakah pilihan Anda?! Walaupun kalimat tersebut sekilas terkesan mirip, tetapi ternyata dari jawaban Anda dapat terlihat apakah Anda termasuk seorang yang pesimis atau optimis.

Kita lihat lagi contoh berikut:

  • Saya tidak miskin.
  • Saya kaya.

Jika melihat sekilas, mungkin kedua kalimat di atas maknanya sama. Tetapi marilah kita gali lebih dalam. Saya kaya >>> artinya yach saya memang seorang yang kaya raya. Tetapi untuk Saya tidak miskin belum tentu saya kaya. Hidup pas-pas an, serba berkecukupan tergolong tidak miskin, tetapi juga tidak kaya.

Dan ketika Anda berkata SAYA TIDAK MISKIN, alam akan meresponnya sebagai SAYA MISKIN!!!

Jadi kesimpulannya: BERPIKIRLAH POSITIF dengan menggunakan KATA-KATA dan KALIMAT POSITIF!!!

———

Ketika saya berkata:

Jangan pikirkan GAJAH!!!

Apa yang ada di dalam pikiran Anda?!


Ada apa dengan antrean crocs™?

Karena nyasar baca artikel orang di sini, saya jadi ingat bahwa dulu saya pernah menulis artikel tentang crocs™. Sebenarnya saya sudah menulis artikel ini sejak dua tahun yang lalu, tetapi karena satu dan lain hal, saat ini saya mem-post-nya kembali di sini.  Semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

———

Hari itu, ribuan orang dari berbagai tempat rela datang berdesak-desakan. Budaya antre sudah tidak berlaku lagi. Yang ada hanyalah saling dorong, saling gencet, dan saling serobot. Mereka semua berlomba-lomba untuk bisa sampai ke barisan depan. Banyak korban jiwa berjatuhan, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Peristiwa tersebut bukan terjadi di acara konser dangdut, bukan pula acara demo. Mereka yang datang adalah mereka yang menganggap dirinya miskin. Mereka rela antre berdesak-desakan berjam-jam, didesak sana digencet sini hanya untuk mendapatkan uang sebesar Rp 200.000,- yang dikenal dengan nama BLT, singkatan dari Bantuan Langsung Tewas, eh . . . bantuan Langsung Tunai maksudnya.

Sebagai seseorang yang miskin, sepupu saya juga pernah melakukan hal serupa. Menurut ceritanya, waktu itu dia harus berdesak-desakan dengan beratus-ratus orang yang terlihat seperti uda ga makan 7 hari 7 malem gitu dech. Ada yang saling dorong, ada yang saling gencet dengan sikunya, banyak pula ceweq yang teriak-teriak ga jelas. Setelah berjuang selama kurang lebih 4 jam, akhirnya perburuan pun selesai. Dengan tawa penuh kemenangan, dia memamerkan 2 buah pasang sendal merek crocs™, hasil keringatnya selama berjam-jam. Ceritanya, hari itu crocs™ lagi  diskon besar-besaran.

Berikut saya lampirkan beberapa foto antrean crocs™ di Senayan City:

Kontras banget yach?! Ketika sebagian orang rela antre untuk mendapatkan BLT yang jumlahnya hanya Rp 200.000,- saja; sebagian sisanya rela antre demi mengeluarkan uang minimal Rp 200.000,- But. that’s the fact!!!

———

Senin, 20 April 2009, tepat pada pukul 11.00 WIB, saya pergi ke PVJ. Katanya sich mulai tanggal 20-24 April 2009 crocs™ lagi ada diskon up to 70%. Karena takut terlibat aksi saling hajar dan saling injek, makanya saya datang pagi-pagi pada jam kerja di hari pertama. Eh, ternyata uda lumayan penuh loh, tetapi untungnya berbagai aksi anarkis itu belum dimulai. Dan setelah pilih-pilih selama 1 jam kurang, akhirnya saya berhasil membawa pulang sebuah sendal crocs™ khaki/wasabi berikut:

Asli mahal banget nich sendal jepit. Harga normalnya Rp 599.000,- diskon 50% jadi tinggal Rp 299.500,- aja. Selain harganya yang mahal, ternyata crocs™ juga memiliki banyak dampak negatif loh:

BERBAHAYA: karena sifatnya yang anti-slip menyebabkan banyak penggunanya yang terselip di escalator. Ketika penggunanya naik escalator, mereka sering tidak sadar menempelkan kakinya di pinggir escalator, sehingga sepatu mereka tersangkut, sedangkan escalator berjalan terus.

Di negeri aslinya (Colorado) pun ada peringatan: “If you’re wearing crocs™, Be Careful!!!” Di Indonesia sendiri (khususnya di Jakarta dan Bandung), kita juga dapat melihat peringatan berikut di beberapa mall:

Rumah sakit di berbagai negara telah melarang penggunaan crocs™ karena adanya resiko infeksi ketika darah dari seseorang yang sedang sakit jatuh pada kaki seseorang melalui crocs™ yang berlubang di atasnya. Selain itu juga konon katanya crocs™ mampu menarik listrik statis yang dapat mempengaruhi peralatan medis.

Selain iti juga katanya sepatu crocs™ bisa meledak dan menyebabkan serangan jantung loh.

———

Walaupun sepatu crocs™ ini banyak mendatangkan kerugian, tapi koq banyak banget yach yang belinya?!

Dalam dunia marketing, ada yang dikenal sebagai VALUE yang didapat dengan membandingkan antara BENEFIT yang diterima dengan COST yang dikeluarkan.

Cost itu dibagi menjadi empat:

monetary: jumlah uang yang dikorbankan untuk mendapatkan sepatu crocs™ >>> Yang pasti harganya mahal banget dech, ga worth it!!!

effort: seberapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan product tersebut >>> Benar-benar membutuhkan usaha yang besar untuk mendapatkannya, harus desak-desakan, dorong-dorongan, dsb.

time: berapa banyak waktu yang dikorbankan untuk mendapatkan si sendal buaya >>> Berdasarkan pengalaman di Senayan City sich bisa ngabisin waktu sekitar 5-6 jam-an dari pertama antre sampe bisa sampe di depan kasir.

psychological: seberapa besar beban psikologi yang harus ditanggung >>> Gengsi ga sich antre panjang-panjang cuman buat dapetin itu barang diskonan, terus kalo desek-desekan gitu ntar ada copetnya ga yach.?!Alasan lainnya untuk tidak menggunakan crocs™ sudah dibahas di atas, mulai dari mudah tersangkut di escalator sampai dapat menyebabkan kelainan jantung.

Adapun, benefit sendiri ada dua:

functional benefit: keuntungan utama dari suatu product >>> Saya pribadi ga punya sendal jepit, karena butuh jadi beli dech terpaksa.

emotional benefit: keuntungan secara emosional >>> Gengsi donk kalo orang laen pake crocs™ sedangkan saya ngga.

Intinya, konsumen akan tetap membeli product Anda sekalipun mahal, asalkan mereka mengganggap bahwa product Anda tersebut bernilai atau memiliki value. Perusahaan dapat meningkatkan value dengan 4 cara:

[1] meningkatkan benefit, cost tetap

[2] menurunkan cost, benefit tetap (contoh: diskon up to 70%)

[3] meningkatkan benefit dan cost, di mana peningkatan benefit lebih besar daripada peningkatan cost

[4] menurunkan benefit dan cost, di mana penurunan cost lebih besar daripada penurunan benefit

———

RELA ANTRE BERJAM-JAM DEMI GAYA!!!

”Kami mohon maaf kalau model, warna, dan ukuran yang tersedia tidak lengkap lagi. Yang ada hanya ukuran anak-anak dan yang besar-besar. Anda masih akan mengantre dua jam lagi.” Edna Caroline dan Stefanus Osa.

Begitu peringatan pegawai Crocs di awal antrean menuju hall lantai delapan Senayan City, Jumat (24/4).

Pemberitahuan habisnya sepatu produk China yang berada di bawah pemegang merek Colorado itu diungkapkan hampir setiap 10 menit sekali. Meski demikian, antrean kerumunan Crocs lovers alias pencinta sepatu atau sandal Crocs terus terlihat di areal lantai delapan.

Peringatan itu tidak mempan. Tidak ada orang yang meninggalkan antrean. Padahal, masih dua jam, dua lantai, dan sekitar 500 orang yang harus dilalui menuju lokasi Crocs Give Back.

Model-model terkenal dari Crocs, seperti sepatu dan sandal karet berlubang-lubang semacam Endeavor dan Hydro seharga Rp 550.000-Rp 699.000, dijual dengan diskon 70 persen. Ada juga diskon 30 dan 50 persen.

”Animo pengunjung jauh di atas ekspektasi kami, makanya kami sempat tambah kasir dari 15 jadi 27 orang,” kata Freddie Beh, Managing Partners-Creative Director PT Metrox Lifestyles, distributor Crocs.

Banyak pengunjung sudah mengantre sebelum mal Senayan City dibuka. Banyak yang kecewa karena antrean dibatasi sampai pukul 18.00. Pada hari pertama, antrean mencapai 2 kilometer dan perlu waktu lima jam. Tak sedikit yang datang lebih dari sekali. Keluar dari tempat penjualan, hampir pasti tangan kiri-kanan menenteng plastik hijau berisi produk Crocs.

Pembantu dan pengasuh anak dikerahkan. Bahkan, beberapa kereta bayi mengangkut Crocs yang membubung. Entah di mana bayinya.

Ada apa dengan Crocs?

Tin (55) duduk berselonjor kelelahan. Di sampingnya dua plastik berisi sepatu dan sandal buat keponakan dan cucunya. Dua temannya masih asyik memilih.

”Modelnya sebenarnya o’on, tapi semua di rumah saya pakai Crocs. Lagi pula orang lain punya, masa saya sendiri yang enggak,” kata warga Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang setahun terakhir memakai Crocs, ini.

Bambang (31), warga Depok, mengaku sudah lama tahu Crocs sebagai sepatu bolong-bolong berlambang buaya. Ia pernah membeli model yang sama dengan harga murah di Bata. Walaupun tahu ada barang tiruannya Rp 50.000 per pasang, Bambang tak tertarik gara-gara bahannya beda. Kaki bisa lecet. Begitu tahu dari kawannya kalau Crocs diskon gede-gedean, pria ini sepulang kantor segera ikut mengantre hampir dua jam.

Sementara Dion, siswa SMAN 78, bercerita, selama ini ia sering melihat kawannya memakai Crocs. Begitu ia mencoba, terasa nyaman. ”Kesannya santai, nyaman gitu,” katanya.

Kawannya, Aza, siswi SMAN 112, tidak menemukan model dan ukuran yang cocok. Ia mengaku telah mengoleksi enam pasang sepatu Crocs di rumah. ”Aku suka banget, warnanya bagus-bagus,” katanya.

Ayu, warga Bendungan Hilir, menyebut diskon ini penantian panjangnya. Memang tak masuk akal, hanya sepatu dan sandal karet harganya bisa mahal banget. Karena itu, mumpung diskon gede, ditambah ”dendam” antre berjam-jam, Ayu membeli enam pasang sekaligus.

Memilih di tengah produk yang ”dibiarkan” berantakan membuat konsumen tak segan-segan mengambil terlebih dahulu baru kemudian memilih. Tak heran, ada juga yang mengambil sepatu yang model dan warnanya sama, ternyata sama-sama sisi sebelah kanan.

Dunia konsumsi

Dulu, orang membeli sepatu atau sandal karena fungsinya sebagai alas kaki, bukan karena warnanya bagus atau bentuknya lucu. Namun, dunia konsumsi membongkar persepsi, yang ujungnya membuat kita mengonsumsi. Sementara harga menjadi sangat relatif alias kemahalannya dikontrol produsen.

”Ikutan tren juga sih, walau kalau dipikir-pikir, harganya gak worth it,” kata Charon Hukom (35), warga Bumi Serpong Damai, Tangerang, yang membeli empat pasang sepatu.

Sepatu dan sandal warna- warni itu, mulai dari hitam hingga merah muda dan oranye menyala, hadir lebih dari empat tahun lalu di Indonesia dengan iklan yang mengusung citra antibau, ergonomis, ringan, nyaman, dan antimikroba.

Freddie menyebutkan, Crocs mencitrakan diri sebagai sepatu yang bersifat ceria serta memberikan pemakainya kenyamanan dan kesehatan. ”Lewat acara ini, kami ingin bikin yang luar biasa. Kami ingin, dengan sepatu Crocs yang warna-warni, you can cover your life with colours,” katanya antusias.

Menurut Jean Baudrillard, filsuf Perancis yang suka menulis soal dunia konsumsi, agar bisa menjadi obyek konsumsi, sebuah benda harus menjadi simbol, bahkan memiliki pribadi.

Konsumen jadi merasa memiliki relasi pribadi dengan sebuah merek. Sebuah sepatu atau sandal tak lagi menjadi alas kaki, tetapi telah menjadi simbol dan bagian dari gaya hidup. Apa yang kita beli bukan produk sepatu. Karena kalau hanya sepatu atau sandal yang nyaman dan tidak bau, ada di mana-mana, bisa dibeli tanpa harus antre.

Apa yang kita inginkan adalah citra yang ditimbulkan sepatu dengan bentuk dan warna nyentrik untuk menunjukkan bahwa kita adalah pribadi unik dan menghargai kenyamanan.

Dunia konsumsi membuat eksistensi kita ditentukan bukan dari apa yang kita lakukan dalam interaksi dengan sesama, tetapi dari merek sepatu, tas, baju yang kita pakai, di mana kita makan, tinggal, dan berlibur.

Ada sekitar 70.000 pasang sepatu yang tersedia di acara Crocs Gives Back pada 21-24 April 2009. Sebagian besar adalah model dari musim lalu. Dari pengamatan, harga termurah sekitar Rp 120.000. Kalau rata-rata harga sepatu Rp 300.000, ada sekitar Rp 18,6 miliar uang yang beredar di sini.

”Acara diskon gede-gedean ini memang pertama kali dan diadakan di seluruh dunia. Tujuannya untuk bikin bisnis ritel punya energi baru di tengah economic crisis,” kata Freddie.

Pakar marketing, Rhenald Kasali, dalam buku terbarunya, Marketing in Crisis, menekankan agar berhati-hati melihat krisis. Daya beli menurun seakan dijungkirbalikkan Crocs.

Chief Creative Officer OMG Yoris Sebastian menyebutkan, pendorong penjualan Crocs adalah diskon.

Hanya dikatakan, hasil penelitian terbarunya tentang ”Word of Mouth Marketing” menyimpulkan bahwa satu konsumen akan menceritakan hal positif sebuah produk kepada tujuh orang lain. Namun, kalau produk itu buruk, seseorang berpotensi menceritakannya kepada 11 orang. Crocs tentu punya kesan tersendiri.

Sumber: kompas.com

Uji hypo-thesis statistik dan penelitian: one-tailed vs. two-tailed test

Hypothesis berasal dari dua kata, yaitu: HYPO yang berarti di bawah dan THESIS berarti pernyataan yang belum dibuktikan kebenarannya (an unproved statement put forward as a premise in an argument). Jadi, secara harfiah HIPOTESIS berarti DUGAAN SEMENTARA yang belum diuji kebenarannya. Uma Sekaran & Roger Bougie (2010) mendefinisikan hypothesis as tentative, yet testable, statement, which predicts what you expect to find in your empirical data. Hipotesis dibuat berdasarkan TEORI yang digunakan ketika menyusun theoritical framework atau bisa juga dibuat berdasarkan penalaran yang LOGIS. Dalam sebuah penelitian bisa hanya terdapat satu buah hipotesis saja atau bisa juga lebih.

Directional & nondirectional hypothesis

Nondirectional hypothesis dibuat jika si peneliti BELUM TAHU ARAH dari hipotesis yang dibangunnya, apakah pengaruhnya positif/negatif, lebih dari/kurang dari, dsb.

Contoh NONDIRECTIONAL HYPOTHESIS:

H0: β = 0
H1: β ≠ 0

Nondirectional hypothesis di-UJI STATISTIK menggunakan two-tailed test. Karena arahnya belum diketahui secara pasti, untuk significance level = 5%, kita membagi dua daerah penerimaan H0, menjadi 2,5% di kiri dan 2,5% di kanan seperti tampak pada gambar berikut:

Tolak H0 jika nilai |t-value| > 1.96.

Berkebalikan dengan nondirectional hypothesis, DIRECTIONAL HYPOTHESIS dibuat ketika si peneliti SUDAH TAHU ARAH dari hipotesis yang dibangunnya, apakah pengaruhnya positif/negatif, lebih dari/kurang dari, dsb.

Contoh DIRECTIONAL HYPOTHESIS:

H0: β ≥ 0
H1: β < 0

Hipotesis di atas di-UJI STATISTIK dengan one-tailed test (significance level = 5%):

Tolak H0 jika nilai |t-value| > 1.645.

UNTUK KEDUA UJI STATISTIK DI ATAS:
Daerah abu-abu: REJECT H1, ACCEPT H0

Daerah biru: ACCEPT H1, REJECT H0

Dalam UJI STATISTIK untuk REGRESI, dengan me-reject Ho, tentunya kita akan menerima H1: SIGNIFIKAN!!! Signifikan di sini berarti bahwa variabel yang diuji memiliki pengaruh yang berarti terhadap keseluruhan model regresi. Contoh:

y = 2,1 + 0,3 x1 + 0,5 x2 – 0,7 x3

Jika variabel x1 SIGNIFIKAN, artinya setiap kenaikan variabel x1 sebesar 1 akan mempengaruhi kenaikan y sebesar 0,3. Tetapi, jika variabel x1 TIDAK SIGNIFIKAN, setiap kenaikan x1 belum tentu memiliki pengaruh yang berarti pada perubahan y. Jika kasus seperti ini terjadi, kita harus membuang variabel x1 dan membuat model regresi baru.

———

Untuk mengetahui lebih jelas tentang hipotesis, bisa dilihat pada artikel berikut:

[1] Membuat Theoritical Framework dan Hipotesis

[2] CONTOH Hipotesis Penelitian dan Hipotesis Statistik

———

Setelah melakukan UJI HIPOTESIS STATISTIK, sekarang kita akan melakukan UJI HIPOTESIS PENELITIAN.

Contoh NONDIRECTIONAL HYPOTHESIS:

Ada pengaruh antara banyaknya tugas yang diberikan dengan tingkat depresi.
H0: β = 0
H1: β ≠ 0

Kita akan menerima H0 jika besarnya β = 0, yang berarti tidak ada pengaruh antara banyaknya tugas yang diberikan dengan tingkat depresi. Dalam two-tails test, kita akan menerima H1 jika β ≠ 0, tidak peduli arahnya positif atau negatif.

Berbeda dengan uji hipotesis statistik yang bertujuan untuk melihat signifikansi, UJI HIPOTESIS PENELITIAN bertujuan untuk menguji DUGAAN AWAL si peneliti apakah sesuai dengan harapannya atau tidak dan diharapkan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi.

Pada contoh di atas, dengan diterimanya H1 berarti bahwa ada pengaruh antara banyaknya tugas yang diberikan dengan tingkat depresi.

Contoh DIRECTIONAL HYPOTHESIS:

Pelatihan yang dilakukan perusahaan akan berpengaruh pada berkurangnya tingkat ketidakhadiran karyawan.
H0: β ≥ 0
H1: β < 0

Misalkan untuk contoh di atas kita mendapati hasil regresi sebagai berikut:

y = 3,5 + 0,7 x

Dari hasil di atas, berarti bahwa semakin sering dilakukan training, ternyata tingkat ketidakhadiran karyawan semakin meningkat. Tentu saja kita harus mereject H1 dan menerima H0 karena hasil yang didapat tidak sesuai dengan dugaan awal.

Hal tersebur terjadi untuk kasus one-tailed. Tetapi jika kita menggunakan two-tailed test, tentu saja kita akan mereject H1 dan menerima H0 karena kita memiliki β = +0,7 ≠ 0 sedangkan hipotesis yang diuji adalah:

H0: β = 0
H1: β ≠ 0

Karena alasan tersebut, tidak salah kan jika saya ngotot untuk selalu menggunakan one-tailed?! **tentu saja jika kita sudah tahu jelas arahnya, apakah positif atau negatif**

Selain itu juga, misalkan kita mendapati hasil |t-value| = 1,7. Untuk UJI HIPOTESIS STATISTIK menggunakan two-tailed (significance level = 5%), tentu saja kita akan me-reject-nya (TIDAK SIGNIFIKAN) karena |t-value| < 1,96. Tetapi, jika menggunakan one-tailed test, tentu saja kita akan menerimanya (SIGNIFIKAN), karena |t-value| > 1,645.

Membuat Theoritical Framework dan Hipotesis

Dalam sebuah penelitian, setelah selesai membuat preliminary research, melakukan literature review, dan merumuskan masalah, hal selanjutnya yang kita lakukan adalah membuat theoritical framework, yang mewakili kepercayaan si peneliti tentang adanya suatu fenomena tertentu. Nantinya, theoritical framework yang dibuat akan diuji kebenarannya. Oleh karena itu, pembuatan theoritical framework juga disertai dengan penarikan hipotesis yang akan diuji kebenarannya.

Sebelum masuk dalam pembuatan theoritical framework, ada beberapa jenis variabel yang perlu diketahui terlebih dahulu:

[1] DEPENDENT VARIABLE
Merupakan variabel UTAMA yang menjadi INTEREST si peneliti. INGAT, seperti pada postingan terdahulu saya di sini, sebuah riset HARUS-lah dimulai dari penentuan gejala terlebih dahulu. Gejala = variabel Y = criterion variable = dependent variable. Tujuan utama dari si peneliti adalah untuk menjelaskan variasi dari dependent variable atau memprediksinya.

[2] INDEPENDENT VARIABLE
Merupakan variabel yang keberadaannya mempengaruhi besar/kecilnya nilai dependent variable, baik secara positif maupun negatif. Independent variable merupakan MASALAH yang menyebabkan munculnya gejala ke permukaan, biasa disebut juga variabel X atau predictor variable. Untuk lebih jelasnya apa itu gejala dan masalah, bisa dilihat di sini.

[3] MODERATING VARIABLE
Merupakan variabel yang keberadaannya mempengaruhi besarnya HUBUNGAN/PENGARUH antara independent dan dependent variabel.

Contoh 1:

Penjelasan: Banyaknya buku akan berpengaruh terhadap kemampuan membaca seorang anak. Tetapi, kecakapan baca-tulis orang tua juga akan MENINGKATKAN PENGARUH antara banyaknya buku dan kemampuan membaca.

Contoh 2:

Penjelasan: DISCOUNT berpengaruh terhadap PURCHASE INTENTION, di mana semakin besar DISCOUNT yang diberikan, semakin besar pula PURCHASE INTENTION-nya. Namun, jika di masyarakat terdapat NEGATIVE WORD-OF-MOUTH, pengaruh DISCOUNT terhadap PURCHASE INTENTION yang tadinya besar akan BERKURANG. Saya sendiri pernah melakukan riset tentang hal ini dan berhasil membuktikan bagaimana negative WOM akan mengurangi besarnya pengaruh antara diskon dan purchase intention.

[4] INTERVENING VARIABLE
Biasa disebut juga MEDIATING VARIABLE, merupakan variabel perantara di tengah independent variable dan dependent variable.

Contoh 3:

Biasanya untuk riset seperti theoritical framework di atas judulnya adalah: Pengaruh antara Kualitas Pelayanan dengan Loyalitas Konsumen. Di UNPAR juga banyak mahasiswa yang melakukan penelitian dengan judul tersebut, tetapi umumnya MEREKA MELAKUKAN KESALAHAN BESAR.

Pengaruh antara Kualitas Pelayanan dengan Loyalitas Konsumen: kualitas pelayanan = variabel X, sedangkan loyalitas konsumen = variabel Y, X berpengaruh terhadap Y, maka kita akan melakukan regresi antara variabel kualitas pelayanan dengan variabel loyalitas konsumen. Apakah hal tersebut benar?! Jika jawaban kalian benar, maka kalian telah melakukan kesalahan besar. Mengapa?! Karena di tengah-tengahnya terdapat variabel perantara: KEPUASAN KONSUMEN.

Dari variabel Kualitas Pelayanan kita HARUS melewati variabel Kepuasan Konsumen dulu untuk sampai ke variabel Loyalitas Konsumen. X >>> Y >>> Z dan TIDAK BISA LANGSUNG dari X >>> Z. Mengapa?! Karena di teorinya juga dikatakan seperti itu.

Jika kalian merasa berat menggunakan tiga variabel di atas, kalian dapat menyiasatinya dengan membuat penelitian berjudul: “Pengaruh antara Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Konsumen” ATAU “Pengaruh antara Kepuasan Konsumen terhadap Loyalitas Konsumen”.

Contoh 4:

Contoh 5:

Dapat saja terjadi seperti ini:

Atau seperti ini:

Atau juga bisa seperti ini:

Tentu saja semua kemungkinan-kemungkinan di atas HARUS DISESUAIKAN DENGAN TEORI yang ada. Dalam menyusun theoritical framework tentunya tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, yang ada hanyalah LOGIS ATAU TIDAK?!

Setelah selesai menyusun Theoritical Framework, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah membuat HIPOTESIS. Kalian bisa belajar cara membuat hipotesis di sini.

[H1] Compared with people exposed to web sites with a low amount of information, those exposed to web sites with a high amount of information will experience less perceived risk.

[H2] Compared with people exposed to web sites with a low amount of information, those exposed to web sites with a high amount of information will experience greater satisfaction.

[H3] Perceived risk will be negatively related to satisfaction.

[H4] Perceived risk will be negatively related to intention to revisit.

[H5] Perceived risk will be negatively related to purchase intent.

[H6] Satisfaction will be positively related to intention to revisit.

[H7] Satisfaction will be positively related to purchase intent.

Sebaiknya di dalam theoritical framework disertakan nomor hipotesis dan bagaimana pengaruhnya: (+) atau (-) seperti contoh di atas. Apakah sekarang kalian sudah mengerti bagaimana cara membuat theoritical framework dan menentukan hipotesis?!

Berikut saya lampirkan beberapa model theoritical framework lainnya:

>>> double click untuk memperbesar gambar <<<

Fontsforweb.com - free web fonts download. See this Wordpress fonts plugin