Apr 13 2009

Dunia Sunyi Para Peneliti

Published by b0chun under Berita ga penting

Ketika memutuskan menjadi peneliti, mereka sudah tahu bakal berkutat di dalam laboratorium yang kaku, kegiatan lapangan, dan tenggelam di antara tumpukan buku. Mereka juga sudah tahu bahwa menjadi peneliti di negeri ini sulit menjadi kaya raya. Harap maklum, gaji kebanyakan peneliti di sini baru cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak 1996, Basril Abbas terlibat dalam proyek bank jaringan yang dikembangkan Badan Tenaga Nuklir (Batan). Hari-harinya banyak dia habiskan di laboratorium untuk mengumpulkan, meneliti, dan memproses berbagai jaringan tubuh manusia dan hewan, seperti jaringan tulang dan amnion (selaput ketuban). Jaringan tulang digunakan untuk menyembuhkan penyakit tulang, sementara amnion untuk luka bakar.

”Saya bekerja di laboratorium sekitar 4-5 jam sehari. Kalau ada pekerjaan di laboratorium yang tidak bisa ditinggal, saya lembur,” ujar Basril di Kantor Batan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Laboratorium tempat Basril bekerja sederhana saja. Hanya ada beberapa lemari, mesin, dan lemari pendingin. Catnya serba putih. Suasananya sunyi, kaku, dan dingin.

Jika tidak ada kegiatan di laboratorium, Basril duduk di meja kerja untuk membuat laporan hasil penelitian. Meja kerjanya terletak di ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter. Di sana masih ada lima meja kerja peneliti lain, seperangkat kursi tamu sederhana, dan rak buku yang saling berimpitan. Suasananya agak sesak dan berantakan.

Sekilas aktivitas sehari-hari Basril tampak monoton. Datang pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00. Kalau tidak di laboratorium, dia berkutat menulis laporan di meja kerja. Yang dia teliti sejak tahun 1996 pun tak beranjak dari jaringan tubuh manusia dan hewan.

Apa tidak bosan? ”Tidaklah. Itu kan sudah pekerjaan sehari-hari,” katanya.

Seperti Basril, peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Rintis Noviyanti (40), juga tidak ada bosannya meneliti nyamuk malaria sejak 1993 sampai sekarang. Setahun sekali, selama dua bulan, ia keluar masuk daerah-daerah yang banyak nyamuk malarianya, seperti Timika (Papua) dan Sumba (NTT), untuk mengumpulkan sampel. Risikonya, kapan saja Rintis bisa terjangkit malaria.

Sepulang mengumpulkan sampel, doktor biologi molekuler parasit malaria dari University of Melbourne, Australia, ini menenggelamkan diri di laboratorium 5-6 jam sehari. Setelah penelitian usai, Rintis berkutat di ruang kerjanya untuk menulis paper hasil penelitian. Selama 17 tahun meneliti malaria, dia telah memublikasikan enam hasil penelitiannya di jurnal internasional.

Untuk menekan kejenuhan bekerja, Rintis mengisi waktu senggangnya dengan nonton film, mendengarkan musik, dan belanja di mal. ”Biar hidup gue seimbang. Kalau enggak gitu, enggak asyik ha-ha-ha,” ujar peneliti yang tampak gaul dan suka berbicara elu-gue ini.

Soal gaji

Apa sebenarnya yang dicari para peneliti dengan menenggelamkan diri bertahun-tahun di laboratorium atau lapangan?

Rintis mengatakan, dia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar malaria. Sialnya, semakin mendalami malaria, pertanyaan yang muncul justru semakin banyak. Ini yang membuat Rintis penasaran. ”Sampai sekarang gue bertanya-tanya mengapa vaksin malaria belum ada,” ujarnya.

Penelitian memang seperti kegiatan tanpa ujung. ”Selama dunia berputar, hasil sebuah penelitian terus dikembangkan lagi. Saya dulu melanjutkan penelitian orang lain. Kalau saya pensiun, penelitian ini akan dilanjutkan peneliti lain,” ujar Basril.

Sri Sunarti Purwaningsih, peneliti bidang kependudukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, peneliti pada dasarnya mengabdi pada ilmu pengetahuan. ”Kami enggak mikirin duit,” katanya.

Mungkin itu sebabnya peneliti di Indonesia tidak bisa kaya. Apalagi, gaji peneliti—terutama yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS)—tidak besar. Sri Sunarti tidak bersedia menyebutkan berapa gajinya sebagai peneliti berstatus PNS. Namun, dia memberikan gambaran, gajinya tidak cukup untuk membeli buku-buku ilmu pengetahuan yang mahal-mahal.

”Buku (terbitan luar negeri), ibaratnya, seharga 100 dollar-an (sekitar Rp 1.100.000), gaji cuma Rp 3 juta. Kalau beli pakai kocek pribadi, saya kewalahan.”

Basril mengatakan, gajinya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya dengan tiga anak. Itu pun kadang kurang. ”Waktu anak kedua saya masuk SMA, saya harus menghadap kepala SMA meminta keringanan uang pangkal,” kata Basril, peneliti berstatus PNS dengan Golongan III D.

Rintis menambahkan, gaji sebagai peneliti di Eijkman juga tidak besar. ”Masih jauhlah dibanding gaji teman-teman saya yang bekerja di perusahaan multinasional,” ujarnya.

Laksana Tri Handoko, peneliti di Pusat Penelitian Fisika LIPI yang berkantor di Serpong, Banten, justru menepis anggapan bahwa gaji peneliti kecil. Peneliti berpendidikan S-3 dengan status PNS Golongan III C, gaji dasarnya memang hanya Rp 1,7 per bulan. Namun, mereka masih mendapat tambahan dari honor penelitian.

Untuk peneliti pemula (kategori terendah), honor penelitiannya Rp 27.500 per jam dengan batasan maksimal empat jam per hari atau 20 jam per minggu. ”Dari satu judul penelitian saja, seorang peneliti muda sudah mendapat tambahan Rp 2,2 juta per bulan. Padahal, dalam setahun seorang peneliti rata-rata menggarap dua judul penelitian,” katanya.

Berdasarkan pengalaman Handoko, peneliti pemula di timnya rata-rata mengantongi uang Rp 6 juta per bulan. Kalau dia mengajar di universitas, pemasukannya bertambah lagi.

Meski begitu, kata Handoko, standar gaji peneliti di Indonesia memang tidak memungkinkan peneliti menjadi kaya raya, tetapi juga tidak akan membuat miskin. Handoko sendiri hidup sederhana. Rumahnya di Jalan Merdeka, Depok II, tidak ada sentuhan kemewahan sedikit pun, tetapi juga tidak ada tanda-tanda kemiskinan.

Bagi sebagian peneliti, hambatan utama mereka dalam berkarier bukan masalah gaji kecil, melainkan dana penelitian yang minim dan dukungan pemerintah yang kurang. Sri Sunarti mengungkapkan, berdasarkan hitungan Dikti Depdiknas, dana untuk satu orang peneliti per proyek penelitian adalah Rp 50 juta. ”Tetapi di LIPI masih sekitar Rp 26 juta,” katanya.

Basril mengeluhkan hal yang sama. Karena dana minim, katanya, sering kali penelitian molor. Harusnya bisa dua tahun selesai, molor jadi bertahun-tahun.

Handoko tidak mempersoalkan minimnya dana penelitian. Kalau dana besar tetapi sumber daya manusianya belum siap melakukan riset berkualitas, malah mubazir.

”Makanya, saya tidak pernah protes atau menuntut DPR agar menaikkan dana penelitian di APBN. Lebih baik tingkatkan dulu SDM-nya.”

Handoko menambahkan, di Indonesia peneliti belum dievaluasi berdasarkan sistem penilaian karya. ”Akibatnya, mau penelitiannya berkualitas atau tidak, hasilnya dimuat di jurnal bergengsi internasional atau jurnal ecek-ecek lokal, honornya sama. Itu yang membuat peneliti kurang termotivasi untuk membuat penelitian kelas dunia,” ujar Handoko.

Sebagian peneliti juga berharap pemerintah ikut menyosialisasikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat agar bisa dimanfaatkan. Kalau tidak, kasihan peneliti. Sudah menghabiskan umur di laboratorium yang sunyi, eh… hasil penelitiannya hanya masuk laci.

Sumber: kompas.com

Bookmark and Share

One response so far

Apr 12 2009

Seputar gedung tua di Bandung

Published by b0chun under Berita ga penting

Liputan6.com, Bandung. Gedung Driekleur peninggalan zaman Belanda di Kota Bandung meraih penghargaan sebagai gedung terbaik dalam renovasi bangunan cagar budaya di ibukota Provinsi Jawa Barat. Penghargaan diberikan Bandung Development Watch (BDW) di Bandung, kemarin. Demikian diungkapkan Yulianti Tanyadji, perwakilan BDW, Ahad (12/4).

Gedung yang berlokasi di pertigaan Dago Jalan Sultan Agung tersebut saat ini ditempati Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). BTPN dianggap berhasil mengalihfungsikan bangunan bersejarah menjadi bangunan komersial. Bangunan bersejarah yang dimodernisasi tanpa meninggalkan unsur sejarah dalam bangunannya.

Selain gedung BTPN, Hotel Concordia dan Cafe Dakken turut masuk dalam daftar nominasi sebagai Gedung Terbaik dalam Renovasi Bangunan Cagar Budaya di Bandung. Hotel Concordia memperoleh 24,2 persen suara. Sementara Cafe Dakken mengumpulkan 22,3 persen suara.

Sementara itu, untuk kategori Gedung Terburuk dalam Renovasi Bangunan Cagar Budaya di Bandung dinobatkan kepada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Petronas di Jalan Dago. SPBU ini meraup 41,7 persen suara dari total pemilih 60 orang.

Dikatakan Yulianti, Jalan Dago tidak diperuntukkan bagi SPBU. Keberadaannya juga merusak kawasan rindang Jalan Dago. Selain SPBU Petronas, kafe The Palais Dago dan Jet Set Factory Outlet menempati urutan kedua dan ketiga sebagai gedung terburuk. The Palais Dago memperoleh 20 persen suara, sementara Jetset FO memperoleh 18,3 persen suara

Bookmark and Share

No responses yet

Apr 12 2009

Membuat customer yang kecewa menjadi loyal?

Published by b0chun under All about MARKETING!!!

Tadi ceritanya aku lagi asik nge-Google dalam rangka bernarsis-narsis ria, mencari tahu seberapa terkenalkah nama Ivan Prasetya di dalam dunia maya ini dan aku mendapati ternyata namaku disebut-sebut di kompas.com!!! Terkenal juga yach hehehe… Ternyata, penulisan namaku tersebut terkait dengan surat pembaca yang pernah aku tulis di sini dan tanggapannya ditulis di sana

Berikut adalah cuplikannya:

Dengan hormat,

Sehubungan dengan keluhan pelanggan ‘3′ dengan nomor 62898680xxxx atas nama Bapak Ivan Prasetya di website KOMPAS.com tanggal 16 Maret 2009, kami telah menghubungi dan memberikan penjelasan kepada pelanggan yang bersangkutan. pemasalahan ini telah diselesaikan dengna baik dan pelanggan telah mengerti penjelasan yang diberikan.

Sebagai operator GSM yang sangat memperhatikan kepuasan para pelanggannya, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh Bapak Ivan dan mengucapkan terima kasih atas masukkan yang telah disampaikan. Kami juga terus berupaya untuk selalu meningkatkan pelayanan guna memberikan fasilitas telekomunikasi GSM yang memberikan nilai tambah.

Apabila Bapak Ivan memiliki masalah ataupun kritik dan saran mengenai layanan kartu ‘3′, silahkan menghubungi kami ke 123 dari Kartu ‘3′ atau ke nomor 089644000123 dari PSTN dan operator lain, serta melalui email ke 3care@three.co.id.

Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

 

SB. Diah Pudjiastuti

Hutchison CP Telecommunications

Jakarta

Sebenarnya surat di atas sifatnya hanya menanggapi keluhanku saja, tetapi tahukah kalian apa yang sebenarnya dia lakukan?! Pertama-tama dia meneleponku menjelaskan duduk perkara atas hilangnya pulsa Three-ku… Sebenarnya pulsaku telah dikembalikan, tetapi ketika CS-nya memberikan penjelasan, tentunya aku jadi merasa diperhatikan oleh perusahaan… Tak berapa lama setelah aku menutup telp, tiba-tiba ada sms masuk memberitahu bahwa aku berhasil melakukan pengisian pulsa sebesar sekian puluh ribu rupiah… Mulanya aku menyangka ada orang yang sala mengisi pulsa dan memasukkannya ke nomerku, tetapi tak lama kemudian telp-ku berbunyi lagi… Ternyata atas ketidaknyamanan yang aku rasakan, pihak Three memberikan compliment berupa pulsa gratis kepadaku… Walaupun tadinya aku merasa kecewa kepada Three, tetapi mungkin sekarang aku bisa berubah menjadi pelanggan yang setia, karena aku telah yakin bahwa Three merupakan provider yang bisa dipercaya…

Cerita lainnya datang dari Gramedia PVJ… Sebenarnya aku cukup sering berbelanja di sana… Mungkin setiap minggunya aku berbelanja minimal 2 buku di sana (padahal dalam 1 bulan juga paling cuman beres baca 2 buku aja)… Bulan itu, mungkin merupakan bulan paling sial dalam hidupku… Kenapa?! Karena selama sebulan penuh aku harus bolak-balik ke sana hanya untuk menukarkan buku yang cacat…

NB: Kalo ada yang belom tau, di Gramedia itu bisa koq buker buku yang cacat, asalkan disertai dengan bon pembelian… *promosi*

Bulan itu, setiap minggunya aku beli 2 buku di sana, dan sialnya, setiap minggunya pula entah kenapa selalu aja ada 1 buku yang cacat… Terpaksa dech bolak balik ke sana nuker itu buku… Kalo biasanya orang laen nuker buku kan harus disertai bon, tetapi karena sudah terlalu seringnya ke sana, si CS-nya jadi uda kenal, aku sich ga pake bon juga gpp haha…

Minggu pertama sampai ketiga berjalan biasa aja… Aku yang tadinya kesel karena bukunya banyak yang cacat, karena fasilitas boleh nuker itu jadi merasa lega sedikit… Sampai pada kejadian minggu ke-4 aku nuker buku:

“Mbak, ini bukunya cacat lagi… Mau dituker… Tapi bon-nya gatau ilang kemana…”

“Oh boleh, Mas Ivan!!! Sebentar yach saya ambilkan dulu bukunya yang baru…” *Loh?! Si mbak koq hafal namaku sich, padahal kita kan ga perna kenalan secara resmi haha…*

Beberapa saat kemudian dia datang lagi membawa buku baru…

“Mas Ivan, bukunya bole saya buka? Mau saya periksain aja takut ada halaman yang cacat, nanti kasian Mas-nya bolak-balik teruz ke sini…”

“Oh boleh, Mbak!!! Terima kasih yach…”

Dengan tindakan seperti itu, pelanggan yang tadinya kecewa mungkin bisa berubah menjadi pelanggan yang loyal… Singkat cerita, selanjutnya pelayanan Gramedia PVJ sangat memuaskan buatku… Mereka pernah meneleponku mengabarkan ada buku baru yang sangat laku (Brisingr) dan menanyakan  apakah mau dibooking dulu atas namaku dan dititipkan di informasi atau tidak… Mereka juga pernah meneleponku meminta pendapat tentang suatu acara yang hendak mereka gelar, mending digelar di Hotel Horison atau di Sabuga… Di sini mereka mencoba membuat bagaimana agar pelanggan dapat merasa menjadi bagian dari perusahaan dan hal tersebut tentunya dapat meningkatkan loyalitas pelanggan…

Cerita lainnya aku dapatkan dari Singapore Airlines… Alkisah pada saat itu ada seseorang yang hendak pulang dari Singapore ke Indonesia naik Singapore Airlines, tetapi entah kenapa penerbangannya tersebut harus ditunda keesokan harinya… Mengingat orang ini ada kerjaan di Indonesia, pastilah ia mencak-mencak kepada Singapore Airlines… Dia sudah berencana sesampainya di Indonesia ia akan komplain habis-habisan itu perusahaan penerbangan…

Dan benar saja, sesampainya di Indonesia ia menceritakan tentang semua pengalamannya bersama Singapore Airlines… Jika Anda tahu, orang ini bernama Hermawan Kertajaya… Ia, yang tadinya berencana untuk mencak-mencak, sekarang justru berubah malah memberikan word-of-mouth yang positif untuk Singapore Airlines… Loh, koq bisa?!

Ternyata, untuk menunggu keterlambatan keberangkatan pesawatnya tersebut, di Singapore ia diberi fasilitas kamar hotel yang lumayan mewah, ditambah lagi pemberian uang saku yang nilainya lumayan untuk belanja… Hahaha… Hoki banget tuch si perusahaan penerbangan karena ia telah membuat seorang Hermawan Kertajaya loyal dan menyebarkan berita ini ke mana-mana, sehingga dapat membuat pelanggan lainnya semakin loyal saja terhadap Singapore Airlines…

Kisah lainnya aku angkat dari Domino’s Pizza… Domino’s Pizza merupakan merek pizza yang sangat terkenal dan terpercaya… Perusahaan ini berjanji untuk mengantarkan pizza ke tempat Anda dalam 15 menit atau kurang, dan jika pizza pesanan Anda datang lebih dari 15 menit waktu yang ditentukan, maka Anda akan mendapatkan pizza tersebut secara GRATIS!!!

 Konon kabarnya, dalam berpromosi, perusahaan ini menyuruh semua pengantar pizzanya untuk datang terlambat, entah itu 1 menit atau hanya 10 detik saja, yang penting TERLAMBAT!!! Dan sebagai kompensasinya, pelanggan akan mendapatkan pizza secara GRATIS!!! Mungkin ketika menunggu lama, pelanggan akan menjadi kecewa, tetapi tidak sama halnya di sini, mungkin pelanggan justru akan berharap pengantar pizzanya melalui berbagai rintangan di jalan sehingga terlambat sampai di tempat mereka dan mereka akan mendapatkan pizza secara GRATIS!!!

Positioning yang kuat yang disertai dengan penyampaian janji yang tepat ini telah membuat merek Domino’s Pizza menancap kuat di benak konsumen… Di sini, konsumen yang tidak puas karena pizzanya datang terlambat ternyata malah menguntungkan perusahaan karena word-of-mouth nya yang positif…

Hal yang serupa juga mungkin dapat kita temui di Mc Donald’s beberapa waktu yang lalu… Mc D menggunakan jam pasir sebagai penghitung waktu selama 1 menit… Jika pesanan kita datang lebih dari 1 menit, maka kita akan mendapatkan kentang goreng/minuman/Mc Flurry, dsb. Umumnya, konsumen akan merasa kecewa jika mereka mendapatkan pelayanan yang lama, tetapi uniknya, ternyata di sini konsumen lebih memilih agar mereka dikecewakan oleh Mc Donald’s…

Sebenarnya masih ada beberapa contoh lainnya seputar masalah membuat customer yang kecewa menjadi customer yang loyal, tetapi pada intinya sama saja… Ketika customer Anda kecewa, cobalah untuk mendengarkan keluhan mereka lalu berikanlah penjelasan secukupnya kepada mereka, atau jika perlu Anda memberikan kompensasi ganti rugi atas ketidak-puasan mereka… Mungkin customer Anda tetap akan merasa kecewa, tetapi yakinlah bahwa di dalam hatinya mereka akan melihat bahwa perusahaan Anda sangat memperhatikan dirinya… Dan suatu saat nanti mereka akan berbalik menjadi pelanggan Anda yang loyal… Karena, ketika pelanggan Anda cerewet, itu tandanya mereka sayang terhadap perusahaan Anda… Tetapi pelanggan yang biasa-biasa saja, ketika mereka kecewa, mereka tidak akan basa-basi lagi dengan Anda, tetapi langsung meninggalkan perusahaan Anda…

Oleh: Ivan Prasetya

Bookmark and Share

2 responses so far

Apr 12 2009

Renungan Paskah!!!

Published by b0chun under Tulisan ga penting

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga…

2 ribu tahun yg lalu Ia rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal…

Untuk mati disalibkan di Bukit Golgota…

Namun, apakah kita masih menghargai pengorbanan-Nya?!

Paskah memang telah tiba, tetapi…

Apakah kita mengingat pengorbanan-Nya hanya karena skrg Paskah?!

Rasakan, kawan… Bagaimana seandainya jika kita telah mengorbankan segalanya untuk orang yang kita cintai, tetapi orang tersebut justru sama sekali tidak menghargai pengorbanan kita… Bukankah perasaan kita akan sakit sekali rasanya???

Begitu juga dengan Tuhan… Apakah Ia tidak merasa sakit hati jika saat ini kita tetap melakukan dosa yang sama, padahal dua ribu tahun yang lalu Ia telah mengorbankan diri-Nya mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita dan 3 hari kemudian dibangkitkan sebagai tanda kemenangan atas segala-galanya???

Di hari Paskah ini marilah kita instropeksi diri, bercermin pada diri kita masing-masing… Tanyakan kepada diri kita sendiri: Tindakan apa saja yang telah kita perbuat untuk menyenangkan hati Allah dan tindakan apa saja yang telah kita perbuat sehingga mendukakan hati Allah?!

Selamat Paskah, Kawan!!!

God Bless You always…

Bookmark and Share

2 responses so far

Apr 11 2009

Putus nyambung…

Published by b0chun under Tulisan ga penting

Ini adalah mimpi si b0chun
Seindahnya mimpi para dewa
Tak pernah berhenti ceritanya
Yang biasa jadi tak biasa

Memangnya dunia ini punyamu
Apa memang hanya ada kamu
Banyak yang bisa menggantikan
Putus satu tumbuh seribu

Putus nyambung putus nyambung putus nyambung
Sekarang putus besok ngga bertobat
Kalau loe laku hari ini putus
Ya putus aja

Putus nyambung putus nyambung putus nyambung
Kalau putus benci kalau nyambung ngga cinta
Lihat saja nanti apa yang terjadi
Putus ataukah nyambung

Aku tahu kamu masih butuh aku
Aku dan kamu memang gengsian
Sampai kapan harus begini
Putus nyambung putus nyambung terus

speedtest

Speedy oh Speedy…

Koq putus nyambung mulu sich dikau???

Pelanggan kecewa…

:(

…….

Sialan banget nich…

Tadi ceritanya kan gua lagi bikin mie… Trz sambil nunggu yach sambil bikin postingan ini… Eh, kelupaan donk… Jadi aja mie-nya beukah (bahasa Sunda, artinya: melar gara-gara kelamaan direbus) dech… Hueee…

Pesan moral postingan ini: Jangan bersungut-sungut!!! Karena dapat memberikan dampak negatif bagi Anda!!!

Sambil makan mie ah…

Nyam3x…

Bookmark and Share

3 responses so far

 Page 4 of 41  « First  ... « 2  3  4  5  6 » ...  Last » 

Search