CONTOH Hipotesis Penelitian dan Hipotesis Statistik

Contoh HIPOTESIS DESKRIPTIF:

80% mahasiswa Unpar berasal dari keluarga berpendapatan menengah ke atas.

Tindakan agresif banyak dilakukan oleh anak yang berasal dari keluarga broken home.

Orang yang berpendidikan tinggi relatif lebih mudah menerima perubahan.

Terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan semenjak dinaikkannya harga BBM

———

Contoh HIPOTESIS ASOSIATIF/KORELASIONAL:

>>> klik di sini untuk perbedaan PENGARUH dan HUBUNGAN <<<

Ada hubungan antara usia dan kepuasan kerja.
H0: ρ = 0
H1: ρ ≠ 0

Terdapat hubungan positif antara kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen.
H0: ρ ≤ 0
H1: ρ > 0

Ada hubungan antara tingkat kerajinan mahasiswa dan nilai yang diperoleh: semakin rajin mahasiswa, nilai yang diperoleh juga akan semakin baik.
H0: ρ ≤ 0
H1: ρ > 0

Ada hubungan antara lama antrian dengan kepuasan pelanggan: semakin lama suatu antrian, kepuasan pelanggan juga akan semakin rendah.
H0: ρ ≥ 0
H1: ρ < 0

Catatan: Mengapa H0 disebut hipotesis nol/null hypothesis?! Karena tanda ‘= 0’ (baca: sama dengan nol) HARUS diletakkan pada H0. Dengan me-reject H0, maka kita akan menerima H1, artinya: Ada hubungan/pengaruh!!! Jika kita menerima H0, besarnya pengaruh/hubungan akan sama dengan nol. Sebagai contoh, dalam kasus regresi sebagai berikut: Y = 1,2 + 0X, karena besarnya pengaruh β adalah sama dengan nol, maka berapa pun nilai X yang dimasukkan, Y akan bernilai 1,2.

Tujuan dari uji hipotesis adalah menerima H1. Untuk mengurangi kesalahan, biasakan memulai membuat hipotesis statistik dari H1 dulu, lalu hal-hal yang belum tercantum di H1 kita masukan menjadi H0. Sebagai contoh, jika di H1 kita memasukkan tanda ≠, maka di H0 kita harus memasukkan =. Jika di H1 kita memasukkan tanda >, maka di Ho kita harus memasukkan hal-hal yang belum dijelaskan di H1, yaitu < dan =. Mudah kan?!

Banyak kesalahan-kesalahan terjadi dengan menuliskan hipotesis statistik sebagai berikut:

Ho: ρ > 0 // ρ < 0 // ρ > 0
H1: ρ ≤ 0 // ρ ≥ 0 // ρ < 0

Apakah kalian tahu di mana letak kesalahannya?

———

Contoh HIPOTESIS KAUSAL:

Ada pengaruh antara tingkat awareness dengan knowledge konsumen.
Ho: β = 0
H1: β ≠ 0

Angka yang bukan nol nilainya bisa positif, bisa juga negatif. Digunakan untuk NON-DIRECTIONAL HYPOTHESES. Dengan me-reject H0, pengaruhnya mungkin positif, mungkin juga negatif.

Perhatikan baik-baik hipotesis berikut:

Ada pengaruh antara kepuasan kerja dengan produktivitas karyawan.
Ho: β = 0
H1: β ≠ 0

Dengan me-reject H0, berarti H1 diterima: Ada pengaruh antara kepuasan kerja dengan produktivitas karyawan, namun kita tidak tahu pengaruhnya positif atau negatif. Jika hasil regresi memunculkan persamaan sebagai berikut: Y = 20 – 3X, maka kita akan menerima H1 karena β = -3 ≠ 0, artinya: dengan kenaikan kepuasan kerja sebesar 1 akan menurunkan produktivitas karyawan sebesar 3 (pengaruhnya negatif), padahal seperti yang kita semua tahu bahwa semakin tinggi kepuasan kerja, produktivitas karyawan juga akan meningkat (pengaruhnya positif). Apakah hal ini benar? Bandingkan dengan hipotesis berikut:

Ada pengaruh positif antara kepuasan kerja dengan produktivitas karyawan.
Ho: β ≤ 0
H1: β > 0

Jika kita menggunakan DIRECTIONAL HYPOTHESES, dengan persamaan regresi yang sama: Y = 20 – 3X, kita tentu akan menerima H0 karena nilai β = -3 < 0. Itulah alasannya kenapa saya selalu NGOTOT UNTUK MENGGUNAKAN DIRECTIONAL HYPOTHESIS.

———

Contoh HIPOTESIS PERBEDAAN:

Ada perbedaan motivasi kerja antara pria dan wanita.
H0: μp = μw // H0: μp – μw = 0
H1: μp ≠ μw // H1: μp – μw ≠ 0

Ada perbedaan motivasi kerja antara pria dan wanita, dimana wanita lebih bermotivasi dalam bekerja daripada pria.
H0: μp ≥ μw // H0: μp – μw ≥ 0
H1: μp < μw // H1: μp – μw < 0

Ada perbedaan pengaruh insentif finansial dan non finansial terhadap unjuk kerja. Insentif finansial lebih berpengaruh terhadap peningkatan unjuk kerja pegawai dibandingkan dengan insentif non finansial.
H0: βF ≤ βNF // H0: βF – βNF ≤ 0
H1: βF > βNF // H1: βF – βNF > 0

———

CATATAN:

Untuk menghitung besarnya hubungan, kita menggunakan korelasi yang memiliki koefisien korelasi r untuk sampel dan ρ untuk populasi.

Untuk menghitung besarnya pengaruh, kita menggunakan regresi dengan persamaan Y = a + bX untuk sampel dan Y = α + βX untuk populasi. Besarnya pengaruh dilambangkan dengan b atau β.

Untuk uji beda, kita akan menguji rata-rata hitung yang dilambangkan dengan X-bar untuk sampel dan μ untuk populasi.

Dalam penelitian, sangat diharapkan agar sampel yang diambil dapat mewakili populasi, karenanya dalam membuat hipotesis statistik, umumnya kita akan menggunakan parameter populasi.

The MarkPlus Conference 2011: Grow With The Next Marketing

[Think Black] Mengapa skripsiku menjadi terkenal di UNPAR?

Hari gini, siapa sich yang ga kenal b0chun?! Jawabannya: BANYAK!!! Kalo ga percaya coba aja tanya sama seluruh penduduk Tokyo tentang nama ini, dijamin ga akan ada yang kenal. Hal serupa juga bakal terjadi kalo kalian menanyakannya kepada penduduk [B]erlin, [O]klahoma, [C]anada, [H]awaii, [U]ruguay, dan [N]igeria. Kenapa bisa begitu?! Hanya orang bodoh saja yang masih bertanya kenapa… **merupakan penggalan dari sini**

Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya siapa aku sebenarnya.  Aku adalah seorang mahasiswa yang GAGAL meraih impian untuk melanjutkan study ke TEKNIK INDUSTRI UNPAR. Alasan utamanya tentu saja bukan karena aku gagal menempuh test masuk untuk jurusan tersebut, tetapi karena ketika di SMA dulu aku GAGAL masuk ke jurusan IPA. **kalian dapat membaca kisah lengkapnya di sini**

Karena sebagian besar teman-temanku memilih jurusan Manajemen di UNPAR, maka tidak ada salahnya kan jika aku juga mengikuti jejak mereka?!  Tentu saja jawabannya: SALAH!!! Singkat cerita, terdamparlah aku di Manajemen UNPAR dengan biodata sebagai berikut:

Nama: Ivan Prasetya
NPM: 2003120158
Tanggal lulus: 9 Februari 2008
Tanggal wisuda: 1 Maret 2008

However, graduation is not the end, it’s just the beginning. Perjalanan hidupku pun dimulai pada tanggal 9 Februari 2008. Tanggal tersebut mungkin merupakan salah satu tanggal keramat dalam hidupku, karenanya pada tanggal tersebut aku memperingatinya sebagai tanggal kelahiran kembali blog baruku ini. Mengapa aku menggunakan istilah kelahiran kembali?! Untuk penjelasan lengkapnya bisa klik di sini.

Dan kesimpulannya, hari ini di 3 tahun yang lalu:

Wisuda!!! Wisuda!!! Wisuda!!!

**poto bareng temanku tercinta**

Sebelum menjawab pertanyaan pada judul postingan, aku akan menjelaskan bagaimana  agar Anda bisa menjadi ‘terkenal’. Menurutku pribadi, bukan merupakan hal yang sulit agar nama Anda bisa dihafal oleh dosen. Anda tinggal memilih: apakah Anda ingin menjadi mahasiswa yang benar-benar genius atau menjadi mahasiswa yang benar-benar bodoh. The difference between genius and stupidity is: genius has its limits!!!

Aku memiliki banyak teman dekat yang akhirnya menjadi lulusan terbaik di UNPAR. Sepertinya sangat sulit untuk mengalahkan kepintaran mereka. Karenanya, aku mencoba agar bisa menjadi salah satu lulusan tercepat. Dan hal tersebut aku buktikan dengan berhasil lulus semua mata kuliah tidak lebih dari 3 tahun alias 6 semester saja. It’s so amazing, right?! **mulai jadi artis dech**

Tetapi perjuangan belum berakhir, jika teman-temanku menyusun theoritical framework minimal menggunakan dua variabel, sepertinya aku belum sanggup mengikuti jejak mereka. Aku ini kan bodoh, biarlah aku hanya menggunakan satu variabel saja. **mungkin karena hal ini akhirnya proposal skripsiku selalu kena reject oleh dosen pembimbing tercinta**

Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi seseorang yang gagal, hal tersebut dibuktikan dengan gagalnya aku menjadi lulusan tercepat. Jika teman-temanku rata-rata menyusun skripsi maksimal hanya 2 semester saja, ternyata aku pribadi harus menyelesaikannya dalam waktu tak kurang dari 4 semester. That was GREAT!!! **gimana ga jadi terkenal coba**

Terlepas dari beberapa kebodohanku di atas, ternyata ketika sidang skripsiku tersebut mendapat pujian dari semua dosen penguji. Menurut mereka skripsiku sangat bagus dan bermutu. Walaupun mereka adalah dosen senior, tetapi menurutku pendapat mereka semua SALAH BESAR!!! Skripsiku bukannya bagus, tetapi skripsiku BEDA!!! Mengapa mereka semua bilang bahwa skripsiku bagus?! Yach, tak lain dan tak bukan karena mereka TIDAK PUNYA PEMBANDING!!!

Jika kalian berkunjung ke ruangan 9522, di sana ada sebuah lemari besar yang berisi banyak sekali skripsi. Cobalah buka pintu lemari tersebut dan  kalian akan dengan mudahnya menemukan skripsiku tercinta. Dapatkah kalian menemukannya?!

**aku punya perpustakaan skripsi sendiri di rumah**

That’s better to be a little bit different
than to be a little bit better!!!

———

Moral dari cerita ini: Menjadi lebih baik itu penting, tetapi membuat sesuatu yang beda adalah lebih penting lagi. Dengan membuat  penelitian yang lain daripada yang lain, tentunya kita akan berkontribusi positif terhadap perkembangan ilmu yang ada.

Kita harus belajar dari masa lalu dan jangan terjebak dalam kesalahan masa lalu. Sejauh ini aku telah melakukan cukup banyak riset dan riset tercepat yang pernah aku lakukan hanya membutuhkan waktu 6 hari saja, mulai dari penentuan topik, pembuatan kuesioner, pengambilan data, pengolahan data, penulisan paper, dan akhirnya di-submit ke international conference.

Dengan banyak membaca tulisan-tulisanku di sini,  aku harap kalian semua  bisa belajar dari kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Aku pribadi tidak pernah mengajarkan membuat penelitian secara cepat, tetapi aku selalu menekankan agar penelitian yang dibuat dilakukan dengan cara yang benar. Jika suatu penelitian sudah dilakukan dengan cara yang benar, tentunya kita semua tidak akan buang-buang uang, waktu, dan tenaga kan?!

Kepada Mahasiswa Manajemen UNPAR: JANGAN FITNAH SAYA!!!

Beberapa hari sebelum pergi ke Jepang, di kelas Metlit Manajemen FE UNPAR, secara dadakan saya diminta untuk share sedikit sedikit pengalaman saya kepada peserta kuliah. Siapa lagi biang keladinya kalo bukan orang yang fotonya nampang di bawah ini:

Bengong dech saya disuruh share ilmu, secara saya ga ada persiapan sama sekali sebelumnya. Tapi saya gamau menyerah begitu saja sebelum bertanding. Dan singkat cerita, perkuliahan pun dimulai:

Teman-teman sekalian, sejujurnya saya sendiri juga gatau mau share apa dan saya juga gatau mau memulainya dari mana, karenanya pada kesempatan kali ini saya hanya ingin menanyakan hal berikut kepada kalian: Tadi pagi, sebelum berangkat ke sini, saya sempat minum susu panas dahulu di rumah. Karena hal tersebut, sekarang gigi saya menjadi sakit. Menurut kalian, gejala dan masalahnya apa yach?!

Sebagian kecil mahasiswa menjawab: Gejalanya adalah sakit gigi, masalahnya karena minum susu panas. Sisanya mendebat: Gejalanya benar, tapi masalahnya SALAH!!! Masalahnya adalah gigi sensitif atau karena gigi berlubang.

Beberapa saat saya menonton mereka berdebat sendiri, lalu saya bertanya:

Siapa yang bilang bahwa masalahnya adalah karena minum susu panas?

Ternyata hanya beberapa tangan saja yang mengangkat, namun mereka mengangkatnya dengan ragu-ragu. Saya pun melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya:

Siapa yang bilang bahwa masalahnya adalah karena gigi sensitif atau karena gigi berlubang?

Kali ini sebagian besar mahasiswa mengangkat tangannya, lalu saya berkata:

JANGAN FITNAH SAYA!!! SAYA TIDAK PERNAH BERKATA SEPERTI ITU!!! Yang terjadi pada saya tidaklah seperti yang kalian katakan. Sakit gigi saya bukan disebabkan karena gigi sensitif maupun gigi berlubang. Saya tidak pernah mengatakannya. Penyebabnya mungkin karena tadi pagi saya minum susu panas, tetapi hal tersebut hanyalah PEMICU saja dan bukan merupakan MASALAH sebenarnya. Ketika masih SMA dulu, ketika sedang olah raga, saya pernah mengalami suatu kecelakaan kecil yang menyebabkan gigi saya patah. Walaupun tebal patahan tersebut tidak mencapai 1 mm, tetapi pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Gigi patah merupakan variabel INDEPENDEN, sakit gigi merupakan variabel DEPENDEN, sedangkan minum susu panas merupakan variabel MODERATING. **penjelasan lebih lanjut tentang MODERATING VARIABLE bisa dibaca di sini**

Dalam penentuan masalah, masih banyak mahasiswa yang terjebak pada kedua permasalahan di atas. Minum susu panas BUKAN merupakan MASALAH utama. Jika saya tidak minum susu panas, sakit gigi saya tidak akan sembuh. Masalah utama pada kasus ini adalah gigi patah, yang akan berpengaruh pada sakit gigi. Jika gigi saya yang patah ‘ditambal’, walaupun di kemudian hari saya minum susu panas sekalipun, maka sudah dapat dipastikan bahwa saya tidak akan mengalami sakit gigi lagi.

Dalam riset tentang Marketing, ketika menemukan gejala adanya penurunan penjualan, banyak mahasiswa mengemukakan MUNGKIN penyebabnya karena A, MUNGKIN penyebabnya karena B, MUNGKIN penyebabnya karena C, TANPA mencari tahu dahulu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah applied research yang baik dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit perusahaan dan bukan berasal dari keinginan si peneliti. Sajikan data, buatlah analisa, dan jika sudah ditemukan apa variabel penyebab terjadinya suatu gelaja, hati-hati: Apakah benar variabel tersebut merupakan variabel INDEPENDEN, atau jangan-jangan malah merupakan variabel MODERATING?!

Sejauh yang saya tahu, dokter umum itu tugasnya adalah menyembuhkan penyakit pasien dan dokter umum HANYA merupakan lulusan S1. Untuk kalian yang mengambil kuliah di S1 Manajemen, tugas kalian juga sama seperti tugas dokter umum tersebut: MENYEMBUHKAN PENYAKIT, tetapi objek kalian tentu saja adalah PERUSAHAAN.

Kepada Mahasiswa Manajemen UNPAR:

JANGAN FITNAH SAYA!!!

 

[Youth, Woman, and Netizen Market] Ariel Peterpan vs. Hermawan Kartajaya

Fontsforweb.com - free web fonts download. See this Wordpress fonts plugin